
Mendikdasmen: Nilai Matematika TKA SMP 2026 masih rendah. Simak strategi pemerintah perkuat literasi dan numerasi nasional di sini!
JAKARTA, KalderaNews.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026.
Nilai rata-rata Matematika untuk jenjang SMP sederajat tahun ini ternyata tidak jauh berbeda dengan hasil TKA siswa SMA tahun 2025 lalu yang tergolong rendah.
Hal ini disampaikan dalam acara Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Penguatan Literasi dan Numerasi Nasional di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
BACA JUGA:
- Gawat! Ternyata Siswa Alergi Soal Logika, Rerata Nilai Matematika TKA SMA 2025 Cuma 36,1
- Daftar Negara dengan Skor Matematika Tertinggi Dunia Versi PISA, Ada Indonesia?
- Hasil TKA 2025 Jenjang SMA Sudah Rilis: Ini 3 Provinsi dengan Rerata Skor Matematika Terbaik
Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa penguasaan numerasi siswa di Indonesia masih memerlukan perhatian serius dan pendekatan baru.
Nilai TKA Matematika 2025 Jeblok
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menunjukkan nilai Matematika siswa SMA/SMK yang sangat memprihatinkan atau “jeblok”.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa capaian ini merupakan sinyal lemahnya tingkat numerasi nasional yang harus segera dibenahi secara sistemik.
Rendahnya nilai tersebut dinilai bukan karena faktor kemampuan siswa semata, melainkan akibat metode pengajaran dan bahan ajar yang belum memadai.
Stigma bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit membuat siswa enggan bereksplorasi, sehingga diperlukan perubahan pola pikir agar Matematika menjadi pelajaran yang lebih menyenangkan dan logis.
Asesmen berbasis digital ini diikuti oleh lebih dari 3,5 juta siswa di seluruh Indonesia. Meskipun hasil TKA tidak menentukan kelulusan sekolah, nilai ini berfungsi sebagai instrumen validasi rapor dalam seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), sehingga nilai yang rendah dapat memengaruhi peta persaingan calon mahasiswa.
Sebagai langkah perbaikan, pemerintah menyiapkan strategi baru melalui pendekatan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) serta pembaruan buku ajar.
Langkah ini diharapkan mampu menciptakan model pembelajaran yang lebih kontekstual dan analitis guna menjawab tantangan numerasi yang semakin kompleks di masa depan.
Matematika Masih Menjadi “Momok” Siswa
Berdasarkan data Kemendikdasmen, nilai rata-rata Matematika pada TKA SMA 2025 hanya mencapai 36,10 dari skala 100,00. Dengan hasil TKA SMP 2026 yang diprediksi berada di angka serupa, Abdul Mu’ti mengakui bahwa Matematika masih menjadi pelajaran yang menakutkan bagi mayoritas siswa.
“Pendekatan belajar menjadi penting. Belajar, terutama mendasarkan kemampuan untuk membaca dan menulis,” ujar Mu’ti menekankan pentingnya dasar literasi sebelum masuk ke ranah numerasi yang lebih kompleks.
Solusi Kemendikdasmen: Mengubah Pendekatan Belajar
Untuk mengatasi rendahnya nilai numerasi, Mendikdasmen mengusulkan beberapa langkah strategis:
- Menanamkan Konsep “Matematika Menyenangkan”
Siswa perlu diajak memahami bahwa Matematika bukanlah sekadar deretan rumus yang rumit, melainkan pelajaran yang bisa dinikmati. Perubahan mindset ini dimulai dari cara guru menyampaikan materi di kelas. - Fokus pada Logika, Bukan Beban Rumus
Bagi siswa di usia dini, Mu’ti menyarankan agar anak-anak tidak langsung dibebankan dengan persoalan yang sulit.
Fokus Utama: Penguatan kemampuan logika.
- Metode: Belajar melalui aktivitas bermain agar anak tidak merasa tertekan sejak awal.
- Dampak: Jika anak merasa kesulitan sejak dini, trauma atau ketakutan terhadap Matematika akan terbawa hingga jenjang pendidikan tinggi.
Nilai TKA Bukan Penentu Kelulusan
Meskipun angka rata-rata nasional seperti 36,10 (Matematika) dan 24,9 (Bahasa Inggris) terlihat memprihatinkan, Kepala BSKAP Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menegaskan bahwa nilai ini bukan digunakan untuk memeringkat siswa atau menentukan kelulusan.
Fungsi utama hasil TKA adalah:
- Bahan Evaluasi Kebijakan: Melihat sejauh mana efektivitas kurikulum yang berjalan.
- Pemetaan Kompetensi: Mengetahui standar kemampuan siswa secara nasional.
- Pendampingan Satuan Pendidikan: Pemerintah daerah dan sekolah dapat fokus memberikan bantuan pada area yang nilainya masih rendah.
Kolaborasi Multipihak untuk Masa Depan Pendidikan
Kemendikdasmen kini mendorong kolaborasi dari berbagai pihak—mulai dari akademisi, sektor swasta, hingga komunitas pendidikan—untuk bersama-sama memperkuat Literasi dan Numerasi Nasional.
Dengan pendekatan yang lebih berorientasi pada logika dan cara belajar yang menyenangkan, diharapkan target “Kemdiktisaintek Berdampak” dapat tercapai, yakni mencetak lulusan yang kompeten dan siap bersaing di pasar kerja global.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply