
BRIN ungkap tantangan satelit Indonesia: dari komunikasi bencana, orbit ekuatorial efisien, hingga sampah antariksa.
JAKARTA, KalderaNews.com – Indonesia menghadapi kebutuhan mendesak akan kemandirian teknologi antariksa. Sebagai negara kepulauan dengan risiko bencana alam yang tinggi, ketergantungan pada infrastruktur komunikasi darat kerap menjadi titik lemah saat darurat terjadi.
Dalam forum Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) 2026 Aerospace Talent School di KST B.J. Habibie, Serpong, Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wahyudi Hasbi, memaparkan sejumlah tantangan strategis sekaligus potensi besar yang dimiliki Indonesia dalam pengembangan teknologi satelit.
Solusi Komunikasi Bencana Melalui Satelit Mandiri
Saat bencana alam menerjang, jaringan telekomunikasi konvensional berbasis darat sering kali lumpuh total. Kondisi ini memperlambat proses evakuasi dan koordinasi tanggap darurat.
BACA JUGA:
- Siswa SMA Pangudi Luhur Jakarta Ditawari Bikin Satelit Sendiri, Mau Dong!
- Satelit SATRIA-1 Meluncur, Jangkau 50.000 Titik Se-Indonesia
- Satelit Nano SS-1 Sukses Mengorbit, Mahasiswa Surya University Langsung Ditawari Beasiswa S2 Hingga S3
Untuk mengatasi ancaman tersebut, BRIN mengembangkan satelit seperti LAPAN-A2/LAPAN-ORARI yang dapat dikendalikan secara mandiri. Satelit ini dirancang khusus untuk situasi krisis:
- Fitur Voice Repeater: Mengusung muatan pemancar ulang suara untuk mendukung komunikasi radio amatir.
- Aksesibilitas Luas: Memungkinkan komunikasi antarwilayah dari Sabang hingga Merauke hanya dengan menggunakan radio genggam (handy talkie/HT) dan antena sederhana.
- Biaya Terjangkau: Mengusung pendekatan sistem yang efisien agar teknologi siap digunakan masyarakat setiap saat tanpa kendala biaya tinggi.
Keunggulan Posisi Geografis dan Orbit Ekuatorial Indonesia
Meskipun Indonesia belum memiliki roket peluncur sendiri dan masih bermitra dengan negara lain seperti India, posisi geografis Indonesia di garis khatulistiwa memberikan keuntungan akademis dan teknis yang sangat bernilai.
Keunggulan utama pemilihan orbit ekuatorial pada Satelit LAPAN-A2 adalah kemampuannya melintasi wilayah Indonesia hingga 14 kali dalam sehari. Hal ini memberikan frekuensi akses dan cakupan wilayah yang jauh lebih tinggi serta optimal dibandingkan dengan orbit polar.
Selain efisiensi peluncuran, ruang angkasa kini dilirik sebagai lokasi data center atau cloud storage masa depan. Suhu ekstrem dan potensi energi surya di antariksa dinilai jauh lebih efisien dalam penggunaan daya dibandingkan pusat data di Bumi yang membutuhkan pendinginan masif.
Tata Kelola Antariksa dan Beban Sampah Antariksa (Space Sustainability)
Kepadatan objek buatan manusia di luar atmosfer menuntut tata kelola yang bertanggung jawab. Berdasarkan hukum internasional, ruang angkasa bersifat non-kedaulatan tidak dapat diklaim oleh negara manapun sehingga memerlukan mekanisme Space Traffic Management.
Aturan Masa Operasi Satelit LEO
Untuk mencegah akumulasi sampah antariksa (space debris) yang membahayakan satelit aktif, regulasi internasional menetapkan batas waktu de-orbit:
- Batas Maksimal: Satelit di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) wajib dikeluarkan dari orbit paling lambat 25 tahun setelah masa operasinya berakhir.
- Tujuan Utama: Menjaga kebersihan orbit demi keberlanjutan pemanfaatan antariksa bagi generasi mendatang.
Pengembangan teknologi satelit Indonesia bukan sekadar pamer kapabilitas teknologis, melainkan kebutuhan mendasar untuk mitigasi bencana, konektivitas nasional, dan kedaulatan data.
Melalui pendekatan system engineering serta komitmen terhadap keberlanjutan antariksa, Indonesia terus membangun fondasi antariksa yang mandiri dan bertanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply