Sosok, Kiprah dan Warisan Seniman Multitalenta Den Baguse Ngarso

Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso, seniman senior Yogyakarta, pelawak, dan pendiri Teater Gandrik penjaga akal sehat.
Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso, seniman senior Yogyakarta, pelawak, dan pendiri Teater Gandrik penjaga akal sehat (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Mengenang Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso, seniman senior Yogyakarta, pelawak, dan pendiri Teater Gandrik penjaga akal sehat.

YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Dunia kesenian Yogyakarta berduka mendalam atas kepergian seniman senior Susilo Nugroho atau yang lebih akrab dikenal sebagai Den Baguse Ngarso.

Seniman multitalenta ini berpulang pada Senin, 21 September 2026, pada usia 67 tahun di kediamannya di kawasan Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

BACA JUGA:

Kepergian sosok yang dikenal lewat guyonan cerdasnya ini meninggalkan jejak dan warisan kultural yang besar bagi dunia teater dan kebudayaan Indonesia.

Profil Pendidikan IKIP Sadhar

Lahir di Yogyakarta pada 5 Januari 1959, Susilo Nugroho atau yang akrab dikenal sebagai Den Baguse Ngarso menjalani jalur pendidikan formal di luar bidang seni rupa maupun teater.

Ia menamatkan pendidikannya di SD Suryodiningratan II (1971), SLIP Pangudi Luhur I (1974), hingga SMA Kolese de Britto Yogyakarta (1977), sebelum akhirnya merampungkan studinya di jurusan Ekonomi IKIP Sanata Dharma pada tahun 1982.

Kendati latar belakang akademisnya berada di ranah ekonomi, ketertarikannya pada dunia seni peran justru tumbuh secara autodidak sejak ia masih duduk di bangku SMA pada tahun 1977.

Dari panggung-panggung komunitas dan ruang kesenian rakyat tersebut, bakat aktingnya terasah dengan matang hingga membawanya melangkah lebih jauh di kancah teater nasional.

Berbekal pengalaman autodidak dan kecintaannya pada dunia seni, ia bersama rekan-rekan senimannya seperti Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto, dan mendiang Saptaria Handayaningsih mendirikan Teater Gandrik pada tahun 1983.

Sosok dan Perjalanan Karier Den Baguse Ngarso

Susilo Nugroho lahir di Yogyakarta pada 5 Januari 1959. Perjalanan seninya bermula sejak ia duduk di bangku SLTA pada tahun 1977.

Namanya semakin melambung ketika ia bersama Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto, dan Saptaria Handayaningsih mendirikan Teater Gandrik pada tahun 1983.

Di Teater Gandrik, ia kerap dipercaya menjadi pemeran utama dalam berbagai pementasan penting.

Selain teater panggung, wajahnya juga sangat lekat di hati masyarakat melalui perannya sebagai tokoh antagonis bernama Den Baguse Ngarso dalam serial televisi Mbangun Deso di TVRI Yogyakarta. Lewat tokoh priyayi yang sombong, sok tahu, dan suka berbicara nylekit (menohok), ia sukses mencuri perhatian penonton.

Kiprah: Penjaga Akal Sehat Lewat Guyonan Penuh Kritik

Bagi kalangan budayawan dan seniman Yogyakarta, Susilo Nugroho bukan sekadar seorang pelawak biasa. Budayawan Bambang Paningron mengenang almarhum sebagai “penjaga akal sehat” bagi masyarakat.

  • Panggung Sebagai Ruang Kelas: Melalui Teater Gandrik maupun berbagai pementasan lainnya, ia menjadikan panggung sebagai media edukasi publik.
  • Kritik Sosial yang Elegan: Ia dikenal berani menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah dan dinamika sosial melalui guyonan. Guyonannya tidak pernah kosong, melainkan sarat makna dan refleksi sosial.

Warisan dan Kenangan Keluarga

Sebelum berpulang, almarhum sempat mengeluhkan sakit di bagian dada dan bahu setelah sehari sebelumnya masih beraktivitas normal menemui tamu dan menikmati kuliner malam.

Kepergiannya yang mendadak menyisakan duka mendalam bagi sang istri, Awani Pratidina, kedua anaknya (Tantida Isa dan Deya Lirisa), serta seluruh keluarga besar.

Di mata keluarga dan kerabat, Susilo dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, humble (rendah hati), ngemong, ramah kepada siapa saja, serta sangat menjaga pola hidup sehat. Rekam jejak kebaikannya bahkan membekas hingga ke para muridnya semasa menjadi pengajar.

Prosesi pemakaman almarhum di TPU Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul, diiringi haru oleh keluarga, sahabat, seniman, serta karangan bunga duka cita dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X hingga Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X.

Den Baguse Ngarso telah berpulang, namun warisan pemikiran, kritik sosial yang membangun, serta dedikasinya di dunia seni peran akan terus hidup dan dikenang dalam sejarah kebudayaan Indonesia.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


79 views