Kemenristek/BRIN: Universitas Harus Perdalam Jurusan IoT Demi SDM Unggul

Kemenristek/BRIN yakni Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, PhD paparkan tren bisnis digital saat pandemi Covid-19 dan prospeknya di masa depan sebagai Less Contact Economy (Syasa Halima/ KalderaNews)
Kemenristek/BRIN yakni Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, PhD paparkan tren bisnis digital saat pandemi Covid-19 dan prospeknya di masa depan sebagai Less Contact Economy (Syasa Halima/ KalderaNews)

TANGERANG, KalderaNews.com – Swiss German University (SGU) kembali mengadakan konferensi internasional “International Conference on Engineering and Information Technology for Sustainable Industry 2020 (ICONETSI).” Konferensi ini bertajuk “Pemberdayaan Transformasi Digital Untuk Keberlanjutan Global.”

Acara ini ditujukan untuk mahasiswa S1 SGU selama 2 hari berturut-turut pada 28-29 September 2020. Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia, yakni Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, PhD hadir sebagai pembicara utama.

Ia menuturkan bahwa pandemi Covid-19 memaksa masyarakat Indonesia melakukan Less Contact Economy atau ekonomi yang bisa dilakukan tanpa harus bertatap muka. Untuk mendukung Less Contact Economy, maka harus ada ICT (Information Communication Technology) yang dapat mengubah pola pikir masyarakat bahwa digital memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan fisik atau manual.

BACA JUGA:

“Kita harus antisipasi dan tentu saja kita harus memastikan bahwa segala sesuatu yang dilakukan secara virtual harus berada pada level yang sama dengan aktivitas ekonomi tatap muka yang biasa dilakukan,” ujarnya dalam webinar Zoom.

Ia menekankan bahwa Less Contact Economy harus diiringi dengan inovasi. Ia mengelompokkan ada 10 inovasi yang potensinya dapat digali lebih dalam, yaitu belanja daring (online), pembayaran digital, bekerja dari rumah (Teleworking), pesan obat secara secara digital (Telemedicine). Lalu, sekolah daring, hiburan daring, supply chain 4.0, percetakan 3D, Robot dan Drone, dan Teknologi 5G.

Untuk optimalisasi 10 bidang tersebut, maka harus ada pembangunan infrastruktur berkelanjutan agar internet dan ICT merata di seluruh Indonesia. Program tersebut masuk ke rencana 5 tahun pembangunan Indonesia.

Selain itu, ia mengatakan bahwa harus ada optimalisasi dari segi sumber daya manusia secara lokal. Saat ini kebanyakan perusahaan rintisan (start up) masih mengandalkan SDM dari luar negeri.

“Kita harus membuat SDM lokal yang ahli dan unggul di bidang digital. Selain itu, perkuat adaptasi teknologi, terutama ketika membicarakan big data. Big data berhubungan dengan Internet of Things (IoT) yang dapat membuat hidup masyarakat dan pelaku bisnis jadi lebih mudah dan efisien,” ujarnya.

Demi menciptakan SDM unggul di bidang Ekonomi Digital, maka ia berharap universitas sebagai tempat belajar serta riset memiliki jurusan yang mendalami bidang Internet of Things (IoT) seperti Data Scientist dan Digital Enterpreneurship. Universitas harus mampu mendorong mahasiswa untuk menjadi bagian dari wirausaha berbasis teknologi.

“Kita harus membuat ekosistem Ekonomi Digital, pemerintah pastinya membuat regulasi. Keahlian apapun yang mahasiswa punya, maka harus didukung oleh universitas sebagai penyedia akses sumber daya. Universitas seharusnya punya kurikulum Digital Ekonomi sebagai langkah transformasi digital,” tandasnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*