Gaes, Beritahu Kepala Sekolah, Ini 4 Tugas Urgen Mereka Pasca COVID-19

Kepala sekolah sedang bekerja (blog.worldbank.org)

JAKARTA, KalderaNews.comGaes, sekitar 1,6 miliar anak-anak di seluruh dunia tidak bersekolah di masa puncak Pandemi COVID-19. Banyak sekali bukan?

Jangan dikira cuma anak-anak sekolah yang galau. Ternyata para kepala sekolah di seluruh dunia juga, lho. Mereka merasa paling bertanggung-jawab atas kesejahteraan murid-murid mereka dan guru-guru juga. Mereka juga harus mencari cara untuk memastikan bahwa seluruh murid tetap belajar ketika sekolah ditutup.

Ini dkatakan pakar pendidikan Bank Dunia, Harriet Nanyonjo, bersama tiga rekannya, Cheryl Ann Fernano, direktur Pemimpin GSL, Malaysia, Azad Oommen, co-founder Global Chool Leaders, dan Sameer Samp, co-founder Global School Leaders. Mereka mengemukakan hal tersebut dalam tulisan mereka berjudul, “School Leadership in Uncertain Times,” yang disajikan pada blog.worldbank.org.

BACA JUGA:

Mereka mengutip sebuah survei terhadap 1.800 kepala sekolah di 12 negara yang menemukan bahwa lebih dari 70 persen kepala sekolah merasa bahwa kesejahteraan siswa di sekolah mereka adalah tanggung jawab utama mereka. Posisi kepala sekolah menjadi unik, karena mereka umumnya dihormati di lingkungan komunitas dan memiliki hubungan pribadi dengan siswa dan keluarga mereka. Karena itu mereka juga memiliki beban untuk membimbing keluarga para murid dalam banyak hal.

Lebih jauh, Harriet Nanyonjo dan kawan-kawan, membagikan hasil diskusi yang mereka rangkum dalam webinar yang diselenggarakan oleh Global School Leader. Webinar ini menunjukkan bahwa ada empat tugas mendesak bagi para kepala sekolah untuk meningkatkan kesejahteraan murid-murid dan agar para kepala sekolah tetap terlibat erat dengan para murid di masa krisis maupun menyongsong dibukanya kembali sekolah.

Inilah empat tugas urgen itu.

1.Fokus pada kebutuhan dasar terlebih dahulu.

Sebelum berpikir tentang pembelajaran online maupun tentang pembukaan kembali sekolah, perlu memastikan bahwa kebutuhan dasar anak-anak seperti makanan, kesehatan, dan kesejahteraan emosional terpenuhi.

George Werner, Menteri Pendidikan Liberia di masa krisis Ebola pada tahun 2014-2015, mengatakan, “Anda harus berpikir sebagai seorang pemimpin, apa yang terjadi ketika bayangan COVID-19 mulai memudar. Kita perlu memperhatikan kesehatan sekolah lebih serius daripada sebelumnya, dan itu perlu menjadi bagian dari perencanaan strategis kita.”

Selain itu, ia menyoroti perlunya mempersiapkan guru dan pemimpin sekolah untuk memenuhi kebutuhan psikososial anak-anak yang telah melalui keadaan sulit. Program yang membahas kebutuhan psikologis siswa di Liberia selama krisis Ebola, termasuk upaya pembangunan perdamaian dan program seni untuk anak-anak, terbukti meningkatkan kesejahteraan siswa.

2. Fokus pada anak-anak yang paling terpinggirkan dan berisiko.

Krisis COVID-19 sangat berdampak pada individu yang terpinggirkan relatif terhadap kelompok lain dan kemungkinan akan memperlebar kesenjangan yang ada antara siswa dari keluarga miskin dan keluarga kaya. Juga memperlebar kesenjangan antara murid pria dan wanita. Praveen Kumar, pemimpin sebuah organisasi jejaring yang mengubungkan 250 sekolah pemerintah di India, mengatakan, “Kepentingan anak-anak berisiko harus menjadi inti dari strategi untuk setiap pemimpin sekolah.”

Ketika sekolah dibuka kembali, murid-murid akan memiliki kebutuhan yang berbeda, dan sumber daya perlu diprioritaskan agar sesuai dengan kebutuhan tersebut. Fokus awal harus pada kebutuhan anak-anak yang paling terpinggirkan sehingga ketidaksetaraan yang terekspos oleh krisis COVID tidak diperparah.

3. Fokus untuk melibatkan masyarakat melalui komunikasi dan kolaborasi.

Walaupun masih banyak tantangan dengan konektivitas, sekolah dan para pemimpin menjadi lebih terhubung secara digital dengan orang tua dan komunitas siswa mereka di masa krisis COVID. Para pemimpin sekolah dapat memainkan peran penting dalam memastikan hubungan sekolah-masyarakat agar terus diperkuat dalam mendukung pembelajaran siswa dan membangun kepercayaan diri mereka.

Sara Ruto dari Kementerian Pendidikan Kenya, memberikan contoh inovatif tentang bagaimana peningkatan konektivitas ini dapat digunakan oleh para kepala sekolah untuk meningkatkan keterampilan kritis sosial- pembelajaran emosional untuk siswa.

“[Krisis] memberi energi pada beberapa pilar kurikulum yang belum menemukan suara sebelumnya. Misalnya, keterlibatan orang tua, pemberdayaan, dan pendidikan berbasis nilai. Ini (yaitu, pendidikan berbasis nilai) adalah hal-hal yang perlu dilihat, disentuh, dan tumbuh bersama anak-anak. Dan rumah adalah tempat pertama di mana ini terjadi. Para pemimpin sekolah harus menggunakan kesempatan ini untuk melibatkan orang tua untuk memastikan pembelajaran seperti itu terjadi. “

4. Merengkuh peluang baru untuk fokus pada pembelajaran.

Selama krisis COVID, para kepala sekolah dan guru di banyak negara bekerja dalam situasi yang tidak nyaman dengan sedikit pengalaman sebelumnya untuk membimbing mereka dalam tanggung jawab mereka. Akibatnya, pendidik berinovasi dan menemukan cara mereka sendiri untuk fokus pada kebutuhan siswa.

Iwan Syahril, dari Kementerian Pendidikan Indonesia, menangkap hal ini ketika dia berkata, “Kami menjadi nyaman dengan yang tidak nyaman. Kami sudah lama berbicara tentang pembelajaran yang berpusat pada siswa. [COVID] memberi kami kepercayaan bahwa ini baik-baik saja. Anda tidak hanya mengajarkan kurikulum Anda, tetapi Anda melihat siswa Anda dan mulai dari sana. Ini adalah kesempatan untuk menata kembali kurikulum dan memastikan bahwa setiap murid belajar.”

Ada bukti yang kuat bahwa mengarahkan sekolah, kepala sekolah, dan guru untuk fberokus pada pemenuhan kebutuhan murid pada tingkat dimana mereka berada, dapat meningkatkan hasil. Krisis COVID menghadirkan kesempatan untuk membuat para pemimpin sekolah menyelaraskan kembali peran mereka dan mendukung para guru untuk fokus dalam melakukan apa yang terbaik bagi murid mereka.

Respons kuat dari para kepala sekolah saat ini diyakini lebih mendesak daripada sebelumnya untuk mengurangi gangguan yang dihadapi anak-anak ketika mereka harus berada di luar sekolah. Sistem pendidikan perlu memberdayakan dan mendukung para kepala sekolah untuk fokus pada keberhasilan murid.

Menteri Werner berkata, “Menutup sekolah selama krisis seperti ini adalah meminta generasi termuda kita untuk membuat pengorbanan luar biasa atas nama para orang tua. Cara untuk menghormati pengorbanan itu, ketika krisis coronavirus mereda, adalah dengan menempatkan pembelajaran bagi setiap anak di jantung pemulihan. Kita berutang kepada mereka. “

Nah, gaes, siapa tahu Bapak atau Ibu Kepala Sekolahmu belum sempat baca ini, mohon diberitahu ya!.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*