Ternyata Begini Penyebab Angin Topan Surigae Itu




Mendung di atas Pelabuhan Gilimanuk
Mendung di atas Pelabuhan Gilimanuk (KalderaNews/JS de Britto)

JAKARTA, KalderaNews.com – Angin topan atau siklon tropis Surigae sedang menjadi pembahasan dalam beberapa hari ini. Angin topan ini disebut juga taifun bising yang berasal dari Filipina. Badai ini merupakan depresi tropis yang berasal dari daerah selatan pulai Woleai. Nama badai ini diberi nama sesuai dari kawasan asalnya.

Angin topan ini secara mudah dapat dikenali dengan ciri merupakan fenomena alam dengan pusaran angina yang sangat kencang. Kecepatan putaran anginnya adalah 120 km per jam hingga 250 km per jam.

Badai ini banyak terjadi di daerah iklim tropis yang berada di antara garis balik selatan dan utara. Namun, uniknya, angin topan ini tidak melanda daerah yang berdekatan dengan garis khatulistiwa.

BACA JUGA:

Badai atau angin topan dapat terjadi karena beberapa penyebab. Simak, yuk!

Perbedaan tekanan udara

Perbedaan tekanan udara yang sangat tinggi dapat membuat pusaran angin. Angin topan banyak terjadi di samudera karena perbedaan tekanan udara yang jauh berbeda dengan daratan. Badai ini sering muncul pada saat kemarau dan siang hari karena perbedaan suhu mencapai puncaknya.

Perbedaan suhu udara yang ekstrim

Saat siang hari, suhu udara menjadi sangat panas. Atmosfer bumi juga menerima suhu yang panas lebih besar tetapi tekanan udaranya rendah. Perpindahan tekanan udara dari tempat dengan suhu udara rendah menuju tempat yang suhu udaharanya tinggi tersebut menimbulkan pusaran angin.

Perbedaan suhu daratan dan permukaan laut

Permukaan laun dan daratan mempunyai suhu yang berbeda. Saat siang hari, suhu di permukaan air akan lebih tinggi dari daratan sehingga menyebabkan penguapan yang cepat dan besar intensitasnya. Hal tersebut membuat proses pembekuan juga berlangsung cepat dan dapat menyebabkan pusaran angin bergerak cepat.

Di Indonesia, angin topan atau badai ini biasanya datang secara mendadak. Sebelum proses itu terjadi, terdapat pembentukan pusaran angina yang berlangsung selama bebrapa jam. Jadi, untuk menghindari angin topan dapat dilakukan bila telah ada alat pendeteksi angin topan,

Teknologi satelit dapat mendeteksi perbedaan suhu dan gejala alam lainnya, sehingga dapa memantau bila terdapat potensi badai. Sayangnya, Indonesia belum mempunyai alat tersebut.

Bila angin topan Surigae ini terjadi di atas permukaan laut, hal ini tidak akan menjadi bencana bagi manusia. Hal yang dikhawatirkan apabila badai ini berada di daratan dan mengenai permukiman penduduk.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan bagi pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*