Bocah SD di Pondok Gede Diduga Jadi Korban Bullying 4 Pelaku, Tulang Pundak Hingga Bergeser Akibat Pukulan

Bullying atau perundungan di sekolah. (Ist.)
Bullying atau perundungan di sekolah. (Ist.)
Sharing for Empowerment

BEKASI, KalderaNews.com – Dugaan kasus perundungan atau bullying terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) di kawasan Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi. Seorang siswa laki-laki berinisial Z (10) diduga menjadi korban, yang mengakibatkan pergeseran tulang di bagian pundaknya.

Kondisi ini terungkap setelah sang ibu, Amelia (35), mendapati anaknya mengalami luka memar dan pemeriksaan medis mengonfirmasi adanya pergeseran tulang.

Amelia menjelaskan bahwa Z mengalami memar biru di area pinggang dan paha. Hasil diagnosa dokter menunjukkan adanya pergeseran tulang pundak akibat pukulan keras.

BACA JUGA:

Perundungan ini diduga melibatkan empat teman sekelas Z di bangku kelas tiga, yaitu D (10), A (10), J (10), dan R (10). Pelaku utama disebut-sebut adalah D, dengan beberapa pelaku lain bertindak atas perintahnya.

Berawal dari Pemalakan

Dugaan bullying ini, menurut Amelia, dimulai dengan pemalakan. Z tidak pernah menceritakan kejadian ini sebelumnya, namun informasi dari orang tua murid lain mengungkapkan bahwa Z sering kehabisan uang jajan harian.

Pada pertengahan Mei 2025, Amelia berinisiatif menemui para pelaku untuk menanyakan kebenaran dugaan pemalakan. Para pelaku mengakui perbuatannya, dan setelah itu, Z pun mulai terbuka kepada ibunya. Amelia kemudian meminta Z untuk menghindari para pelaku dan tidak lagi memberikan uang jika diminta.

Namun, keesokan harinya, Z diduga dipukuli saat jam istirahat sekolah ketika tidak ada guru di kelas. Sebelum kejadian pemukulan, Z sempat menolak ajakan para pelaku, namun justru ditampar. Z akhirnya mengikuti para pelaku ke lantai atas ruang kelas. Di sana, Z dikunci oleh empat pelaku. Dua di antaranya, J dan R, diduga mengunci Z atas perintah D.

Di dalam ruang kelas, aksi pemukulan pun terjadi. Z ditampar, dipukul di bagian pinggang belakang, ditendang di paha, dan pundaknya ditonjok. Ada dua pelaku yang melakukan pemukulan di dalam kelas.

Pelaku Pindah Sekolah

Setelah insiden tersebut, Kepala Sekolah berupaya memediasi antara keluarga korban dan pelaku. Mediasi menghasilkan kesepakatan penyelesaian secara kekeluargaan, di mana keluarga pelaku bersedia menanggung biaya pengobatan Z hingga pulih.

Namun, menurut Amelia, upaya tersebut hanya berlangsung sesaat. Biaya pengobatan selanjutnya justru ditanggung sepenuhnya oleh keluarga Z karena keluarga pelaku mengaku tidak sanggup lagi membayar.

Amelia menyebutkan bahwa masih ada biaya pengobatan yang belum terbayar, belum termasuk biaya ortopedi. Ia juga ingin mengetahui sejauh mana tanggung jawab keluarga pelaku.

Meskipun para pelaku sudah pindah sekolah, Amelia berharap tanggung jawab dari keluarga mereka tetap diselesaikan. Keluarga pelaku sempat menawarkan untuk membawa Z ke ahli patah tulang di Jakarta Timur.

Namun, Amelia menolak karena dokter menjelaskan bahwa Z tidak mengalami patah tulang, melainkan hanya membutuhkan terapi agar tulangnya kembali normal mengingat usianya yang masih kecil.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyatakan bahwa pemerintah kota akan menerjunkan tim psikolog untuk melakukan pendampingan terhadap korban dan para pelaku.

Ia menjelaskan bahwa proses pemulihan mental akan dilakukan secara bertahap dalam lebih dari 15 sesi, mengingat para pihak yang terlibat masih di bawah umur.

Selain itu, Tri juga meminta Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi untuk memberikan pendampingan dan edukasi kepada semua pihak terkait

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


1,216 views