
JAKARTA, KalderaNews.com – Isu tenggelamnya Pulau Jawa pada tahun 2050 hingga 2070 sempat memicu kekhawatiran di media sosial. Begini penjelasan BRIN!
Sebuah unggahan di Instagram mengaitkan ancaman ini dengan tekanan Lempeng Australia dan eksploitasi air tanah yang berlebihan oleh manusia.
Menanggapi hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan yang lebih terperinci.
BACA JUGA:
- Harimau Masuk Kantor BRIN, Alarm Ekologis Hutan Kita!
- Waspada! Hujan di Jakarta Ternyata Bawa Mikroplastik Berbahaya, BRIN: Polusi Plastik Sudah Mencapai Langit!
- Waspada! Cuaca “Mendidih” di Indonesia, BMKG Imbau Hindari Terik Matahari di Jam Ini!
Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Dwi Sarah, menegaskan bahwa secara keseluruhan, Pulau Jawa tidak akan tenggelam.
Namun, Dwi membenarkan bahwa wilayah pesisir Jawa, terutama bagian utara, memang sangat terancam tenggelam.
Penyebab utama, amblesan tanah lebih cepat
Ancaman ini bukan disebabkan oleh lempeng tektonik seperti yang dialami Jawa bagian selatan (yang lebih berisiko gempa tektonik), melainkan kombinasi dari dua faktor utama, yaitu:
- Penurunan permukaan tanah (Land Subsidence)
- Kenaikan muka air laut
Menurut Dwi Sarah, pesisir utara Jawa tersusun dari endapan aluvial yang masih muda dan rentan ambles secara alami.
Parahnya, aktivitas manusia mempercepat laju penurunan tanah ini secara drastis, mencapai 1-10 sentimeter per tahun.
Beberapa perilaku manusia yang menjadi pemicu amblesan cepat meliputi:
- Pengambilan air tanah yang berlebihan.
- Alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun.
- Beban bangunan yang menambah tekanan di bawah permukaan.
Dwi menjelaskan, laju amblesan tanah (hingga 5-10 cm/tahun) jauh lebih besar daripada laju kenaikan muka air laut (rata-rata 5 mm/tahun).
Ini berarti, genangan air laut ke darat utamanya disebabkan oleh amblesan tanah, bukan semata-mata kenaikan air laut.
Harus fokus hentikan penurunan tanah
Untuk mencegah dampak buruk di masa depan, BRIN menekankan perlunya dua langkah mitigasi:
- Mitigasi struktural berupa pembangunan tanggul pantai (coastal dyke) atau bangunan pantai lain untuk mengatasi dampak langsung.
- Mitigasi nonstruktural, yaitu mengatasi akar masalah utama dengan mengurangi atau bahkan menghentikan laju land subsidence. Caranya adalah dengan konservasi air tanah; mengurangi pemakaian air tanah; serta menyediakan pasokan air permukaan yang memadai, sehingga masyarakat tidak bergantung pada air tanah.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply