Fenomena Budaya ASN Kata ‘Siap’ dan ‘Mohon Izin’, Sejak Kapan Dimulai?

Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih
Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Simak awal mula dan pro-kontra budaya frasa “Mohon Izin” serta kata “Siap” di lingkungan ASN yang sedang viral di platform Threads.

JAKARTA, KalderaNews.com – Dunia birokrasi dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia kembali menjadi topik perbincangan hangat di media sosial. Kali ini, sebuah utas viral di platform Threads yang diinisiasi oleh akun @wahyuwiwoho memicu diskusi mendalam di kalangan para pegawai pemerintahan mengenai gaya komunikasi formal di instansi mereka.

Dalam unggahan tertanggal 23 Juni 2026 lalu tersebut, sang pemilik akun melempar pertanyaan terbuka kepada para ASN senior mengenai asal-usul maraknya penggunaan frasa tertentu dalam interaksi kerja harian.

“Mau tanya ke teman-teman ASN yang sudah berkarir minimal 20 tahun. Sejak kapan frasa “Mohon Izin” dan kata “Siap” jadi membudaya?” tulis akun @wahyuwiwoho.

BACA JUGA:

Pertanyaan ini langsung diserbu oleh berbagai respons dari para ASN aktif, eks-jurnalis, hingga pegawai swasta yang membagikan pengalaman nyata serta pandangan mereka dari lapangan.

Kisah Eks Jurnalis: Kaget Ditegur Dirjen karena Ucap ‘Oke Bu’

Salah satu cerita menarik datang dari akun @putriadityo, seorang mantan jurnalis media nasional yang beralih profesi menjadi ASN pada tahun 2020.

Ia menceritakan pengalaman kultur syok yang dialaminya saat pertama kali dikumpulkan di ruang Direktur Jenderal (Dirjen). Karena terbiasa dengan kultur komunikasi lapangan media yang setara, ia secara refleks menjawab instruksi pimpinan dengan kata “Oke Bu”.

Tindakan tersebut langsung memicu teguran keras dari sang Dirjen.

“Dirjen marah, ‘Siap itu bilang oke? Di sini gak ada pake kata OKE. Semua harus pakai baik, siap, izin.’,” kenang @putriadityo. Kejadian tersebut mengonfirmasi betapa ketatnya standarisasi bahasa formal di lingkungan birokrasi.

Kapan dan Mengapa Budaya Ini Mulai Menjamur?

Berdasarkan diskusi dan kesaksian para netizen di utas tersebut, ada beberapa teori dan momentum yang dinilai menjadi pemicu menguatnya budaya kata “Siap” dan “Mohon Izin” di kalangan ASN:

1. Masuknya Unsur Militer dan Lulusan IPDN ke Instansi Sipil

Beberapa netizen menilai pergeseran gaya komunikasi yang lebih tegas dan berhierarki ini dipengaruhi oleh penempatan figur berlatar belakang militer atau lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di posisi strategis instansi sipil.

  • @kartikasabidin: “Sepertinya semenjak militer masuk instansi sipil.”
  • @damar_yusuf: “Sementara di dunia pendidikan belum kena frasa-frasa meresahkan ini. Semoga tidak, walaupun ada kekhawatiran karena untuk di tempat saya bagian kadinas kebanyakan sekarang lulusan IPDN juga.”

2. Efek Digitalisasi dan Komunikasi Grup WhatsApp (WA)

Bagi sebagian ASN, penggunaan kata “Siap”, “Baik”, dan “Laksanakan” justru semakin masif sejak komunikasi beralih ke ranah digital melalui grup koordinasi WhatsApp guna efisiensi waktu merespons atasan.

  • @buburbayibunda.id: “Kalo kami di kantor memakai ini sejak ada group WA. 2016/17 mungkin ya.”
  • @gadis91__: “Sejak 3 tahun pertama jadi ASN, sampai nge-WA orang tua dan keluarga juga gak sadar tuh nulis siap, baik, laksanakan.”

3. Etika Kesopanan Hubungan Staf dan Atasan

Di samping adanya pro-kontra, banyak pihak yang menilai bahwa penggunaan istilah ini murni bentuk penerapan etika kesopanan yang sudah mengakar sejak lama guna menghormati pimpinan.

  • @denfankennedy: “Sejak dulu bang, etika kesopanan staf kepada atasan sesimple itu.”

Perbandingan dengan Budaya Kerja Swasta (Corporate)

Fenomena unik ini juga memicu komparasi dengan budaya kerja di sektor swasta atau startup. Berbeda dengan lingkungan ASN yang cenderung semi-militeristik dalam berbahasa, pekerja korporasi swasta umumnya memiliki alternatif serapan kata lokal yang dinilai setara dalam hal kesopanan, seperti penggunaan kata “Punten” atau kata “Maaf” di awal kalimat.

Keriuhan utas ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan dari budaya organisasi, struktur hierarki, dan dinamika adaptasi zaman di lingkungan birokrasi Indonesia.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*