
Mahasiswa DKV Universitas Telkom Purwokerto viral usai menjalani sidang tugas akhir dengan cosplay black metal.
PURWOKERTO, KalderaNews.com– Sebuah momen tak biasa terjadi saat sidang tugas akhir di Fakultas Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Telkom Purwokerto.
Jika mayoritas mahasiswa hadir mengenakan kemeja formal dan almamater, Ragatama Arrauf Rahmaputra justru tampil mencolok dengan gaya khas musisi black metal.
Pria yang akrab disapa Raga itu datang mengenakan corpse paint di wajah, pakaian serba hitam, serta jaket kulit bertabur paku.
BACA JUGA:
- Viral di Threads Dugaan Pelecehan Oknum Dosen UMY, Kampus Buka Suara
- Sosok Komedia Temon Templar Tutup Usia, Kuliah 9 Tahun dan Nikah 6 Kali
- Viral! Tren Twibbon MPLS Tuai Pro-Kontra, Risiko Nyata Ancaman Anak
Sengaja tampil metal untuk mendukung tema skripsi
Penampilannya yang garang membuat suasana ruang sidang bak berubah menjadi panggung konser musik metal.
Namun, penampilan tersebut bukan sekadar mencari perhatian. Raga sengaja tampil total demi mendukung tema tugas akhirnya yang membahas budaya visual black metal.
Tugas akhir yang ia susun berjudul “Perancangan Buku Komik Dokumenter Perjalanan Band Santet Sebagai Artefak Visual”.
Melalui penelitian tersebut, ia mendokumentasikan perjalanan band black metal Santet dalam bentuk komik dokumenter, sehingga memilih berpenampilan sesuai dengan subjek yang diteliti.
Bahkan, ide untuk tampil dengan konsep black metal itu disebut berasal dari salah seorang dosen. Tujuannya agar presentasi tugas akhir terasa lebih selaras dengan tema yang diangkat sekaligus menunjukkan keseriusan mahasiswa dalam menghayati objek penelitiannya.
Aksi Raga kemudian viral setelah diunggah akun Threads @adit505. Unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 6,8 juta kali dan dibanjiri ribuan komentar dari warganet.
Warganet puji aksi sang mahasiswa
Banyak pengguna media sosial menganggap penampilan Raga sebagai bentuk totalitas yang jarang ditemui saat sidang skripsi.
Tak sedikit pula yang mengapresiasi sikap kampus dan dosen yang memberikan ruang bagi kreativitas mahasiswa selama masih relevan dengan materi penelitian.
Salah satu komentar bernada humor datang dari akun @giwherlambang yang menulis, “Malah cosplay kuburan 🤣 Ditanya metodologi, lupa lupa ingat.”
Sementara akun @biangkerok ikut berkelakar, “Penelitian nya diuji sama mas budi santet juga ga pak dosen? 😅”
Tak hanya dipenuhi candaan, unggahan itu juga menuai apresiasi. Seorang alumni kampus yang sama melalui akun @thepraditautama mengaku fenomena serupa pernah terjadi ketika seniornya menjalani sidang dengan penampilan khas rastaman karena memang menjadi identitasnya selama kuliah.
“Kak, senior saya waktu sidang pakai rambut gimbal rastaman. Karena memang style kuliah gitu, sempat nggak boleh tapi akhirnya boleh juga dan lulus. Senior saya ini di kampus yang sama dengan si foto, tapi waktu itu masih STT Telkom,” tulisnya.
Antusiasme juga datang dari akun @mpokgaga yang berseloroh ingin merasakan pengalaman serupa.
“AAAAAKKKKKK.. AKU MAU AKU MAU AKU MAAAUUU JADI MAHASISWI KAMU DAN COSPLAY JADI BLEKMETAAALLLRRRRGGGHHH~”
Sementara itu, akun @nugwebid membuat lelucon yang mengundang tawa dengan menulis, “Beliau sudah menerapkan dasa darma yang ke-10: Metal dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.”
Di sisi lain, banyak warganet menilai keberhasilan sidang tersebut menunjukkan bahwa dunia akademik dapat menjadi ruang bagi kreativitas. Akun @deskharisma menuliskan apresiasi terhadap semua pihak yang terlibat.
“Dosennya keren, mahasiswanya keren, sekolahnya keren karena mengakomodir ini semua 👍,” tulisnya.
Beragam komentar tersebut membuat kisah Raga tak hanya viral karena penampilannya yang nyentrik, tetapi juga menjadi contoh bagaimana kreativitas mahasiswa dapat berpadu dengan substansi akademik ketika konsep yang diusung benar-benar relevan dengan penelitian yang dilakukan.
Penampilan tidak memengaruhi nilai
Penampilan nyentrik Raga ternyata bukan sekadar aksi untuk menarik perhatian di ruang sidang. Konsep tersebut merupakan bagian dari metode pembelajaran yang diterapkan Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Telkom University Purwokerto agar mahasiswa lebih mendalami objek penelitian yang mereka angkat.
Kepala Program Studi DKV Telkom University Purwokerto, Galih Putra Pamungkas, menjelaskan bahwa mahasiswa memang diwajibkan mengenakan kostum atau cosplay yang sesuai dengan tema tugas akhirnya saat presentasi.
Galih menuturkan, sebagai bidang ilmu yang memadukan unsur seni dan komunikasi, DKV mendorong mahasiswa menghadirkan karya yang kreatif, orisinal, dan memiliki karakter kuat.
Oleh karena itu, mahasiswa diberi kebebasan berekspresi selama tetap mematuhi norma yang berlaku serta mampu mempertanggungjawabkan konsep yang diusung secara akademis.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penampilan atau kostum yang dikenakan mahasiswa tidak menjadi faktor penilaian dalam sidang.
Penilaian tetap berfokus pada kualitas penelitian, konsep, serta kemampuan mahasiswa dalam mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan tugas akhirnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply