
JAKARTA, KalderaNews.com- Aksi heroik dilakukan oleh Hasmar, seorang guru dan Bripka Muh Nur Alam, seorang polisi di Mamasa, Sulawesi Barat.
Keduanya menunjukkan dedikasi luar biasa dengan menggendong siswa SD untuk menyeberangi sungai menuju sekolah setelah jembatan di wilayah tersebut rusak parah dan tidak dapat digunakan.
Peristiwa itu terjadi di Desa Botteng, Kecamatan Mehalaan, pada Kamis (23/10). Setiap hari, Nur Alam dan Hasmar bergantian menggendong siswa SD Negeri 006 Botteng menyeberangi sungai dengan arus deras.
BACA JUGA:
- Viral! Demi Sekolah, Puluhan Siswa di Pandeglang Nekat Seberangi Sungai Deras
- Video Penganiayaan Siswa SMP Viral di Facebook, Warganet Desak Pelaku Dihukum
- Viral di Media Sosial! Mantan Peserta Ungkap Dugaan Kecurangan di OSN Geografi 2025
Jembatan Menjadi Akses Satu-satunya ke Sekolah Rusak
Mereka harus ekstra hati-hati karena arus cukup kuat dan batuan licin yang bisa membahayakan keselamatan.
“Saya prihatin, selaku Bhabinkamtibmas pembina desa di sini, saya melihat anak-anak sekolah sangat sedih karena menyeberangi sungai arusnya deras,”ujar Nur Alam.
Jembatan gantung sepanjang 30 meter yang menjadi satu-satunya akses utama menuju sekolah telah rusak selama tiga tahun terakhir. Kini, hanya tersisa beberapa tali baja menggantung sebagai sisa struktur lama.
“Dan kondisi jembatan yang menjadi akses utama dilalui anak sekolah itu sudah rusak kurang lebih selama tiga tahun,”ungkap Nur Alam.
Ia menambahkan bahwa aksi tersebut dilakukan setiap kali hujan deras datang, karena air sungai sering meluap dan menimbulkan risiko besar bagi murid-murid.
“Hal ini saya lakukan ketika cuaca lagi tidak bersahabat karena kerap membuat sungai meluap, dengan tujuan menghindari hal-hal tidak diinginkan,” tambahnya.
Sementara itu, guru SDN 006 Botteng, Hasmar, juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi tersebut.
Ia menuturkan bahwa murid kerap diliburkan ketika sungai tidak bisa diseberangi, bahkan terjebak di sekolah ketika air tiba-tiba naik.
“Kalau deras hujan siswa kami terpaksa diliburkan karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan dilakukan proses belajar semestinya. Ketika siswa kami pergi ke sekolah tiba-tiba hujan mendadak otomatis siswa kami terperangkap di sekolah ini,” terangnya.
Hasmar berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki jembatan, sebab biaya perbaikan terlalu besar jika hanya mengandalkan dana desa.
“Mudah-mudahan pemerintah yang berwenang dalam hal ini memperhatikan kami, karena kasihan anak-anak kami yang ada, generasi ke depan, seperti apa kalau tidak bisa melaksanakan proses belajar mengajar sebagaimana di sekolah lain,” pungkas Hasmar.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply