Tongkol Jagung dan Eco Enzym: Dari Limbah Jadi Kunci Produksi Jamur Tiram Putih di Tangerang

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pelita Harapan (UPH).
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pelita Harapan (UPH).
Sharing for Empowerment

Oleh: Wahyu Irawati, Adolf Jan Nexson Parhusip, Reisky Megawati Tammu, Nicolas Tunggul Adhigandewa, dan Amelia Ranindah Sagala – Universitas Pelita Harapan – Tangerang, Banten

TANGERANG, KalderaNews.com – Bagi sebagian orang, tongkol jagung hanya sisa panen yang berakhir di tumpukan limbah. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dapat terselenggara atas bantuan dana internal UPH dan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dengan nomor kontrak: 063/LL3/DT.06.01/2025,034/LPPM-UPH/VI/2025 serta fasilitas dari mitra Oemah Jamur Tangerang.

Selama beberapa tahun terakhir, petani jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) di wilayah ini menghadapi tantangan berat yaitu bahan baku tanam (baglog) semakin sulit ditemukan. Serbuk kayu yang biasanya digunakan banyak terserap oleh industri besar. sementara dedak diprioritaskan untuk pakan ternak. Akibatnya, harga bahan melonjak, dan produksi jamur tiram menurun drastis.

BACA JUGA:

“Kami sering kali harus menunda produksi karena bahan baglog tidak tersedia atau terlalu mahal” ungkap salah satu pelaku jamur di UKM Oemah Jamur Tangerang.

Inovasi Hijau dari Kampus ke Masyarakat

Melihat kondisi tersebut, tim PKM UPH melakukan inovasi berbasis riset yang sederhana namun memiliki dampak yang besar yaitu mengganti serbuk kayu dengan tongkol jagung dan menambahkan Eco enzym sebagai nutrisi alami tambahan.

Eco enzym merupakan cairan fermentasi limbah rumah tangga seperti kulit buah dan sisa sayuran. Cairan ini mengandung mikroba dan enzim yang bermanfaat bagi pertumbuhan jamur. Dengan kombinasi tongkol jagung, dedak, molase, dan Eco enzym, media tanam jamur tidak hanya murah tetapi juga lebih ramah lingkungan dan kaya akan nutrisi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah bisa menjadi solusi, bukan masalah. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, petani bisa mandiri tanpa tergantung pada bahan industri,” ujar Prof. Wahyu Irawati, Ketua Tim Pengabdian.

Teknologi Sederhana, Hasil Luar Biasa

Melalui pelatihan bersama tim UPH, para petani di Oemah Jamur diajarkan teknik baru pembuatan baglog dengan tahap yang meliputi:

  1. Penggilingan tongkol jagung hingga memiliki ukuran yang kecil
  2. Pencampuran bahan (tongkol jagung, dedak, molase, dan eco enzym) menggunakan mixer agar homogen
  3. Sterilisasi baglog dengan autoklaf pada suhu 121°C selama 30 menit untuk mencegah kontaminasi
  4. Inokulasikan bibit jamur tiram putih di ruang steril
  5. Pemeliharaan dan penyuntikan eco enzym secara berkala untuk mempercepat pertumbuhan miselium.

Dari hasil pengamatan, pertumbuhan miselium pada baglog berbahan tongkol jagung dan eco enzym lebih cepat dan merata. Dalam waktu sekitar 2 minggu, media sudah tertutup lapisan putih miselium yang menandakan pertumbuhan optimal. Selain itu, dengan penggunaan mesin press baglog dan mixer otomatis, efisiensi kerja meningkat signifikan sehingga produksi yang sebelumnya memakan waktu satu jam kini bisa selesai dalam 10 menit.

Dampak Nyata bagi Petani dan Lingkungan

Program ini tidak hanya menyentuh aspek teknologi, tetapi juga memberdayakan masyarakat secara ekonomi dan sosial.

Petani yang sebelumnya bergantung pada pasokan bahan baku kini mampu memproduksi baglog sendiri dari bahan lokal. Lebih dari itu, hasil panen jamur kini diolah menjadi produk bernilai tambah seperti jamur crispy dan nugget jamur yang dijual secara daring dan di minimarket lokal.

“Sekarang kami tidak hanya menjual jamur segar, tapi juga makanan olahan. Nilai jualnya lebih tinggi, dan konsumen pun lebih banyak,” kata salah satu pengelola Oemah Jamur dengan bangga

Inovasi ini juga membantu mengurangi limbah pertanian dan rumah tangga yang sebelumnya mencemari lingkungan. Dengan begitu, masyarakat sekitar turut berkontribusi dalam menciptakan ekosistem pertanian sirkular yang berkelanjutan.

Sinergi Ilmu, Inovasi, dan Berkelanjutan

Program ini selaras dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), ke-12 (konsumsi dan produksi berkelanjutan), dan ke-13 (penanganan perubahan iklim). Melalui kolaborasi antar dunia akademik, masyarakat, dan sektor usaha, inovasi ini menjadi model pengembangan ekonomi hijau yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Tim dosen UPH (Wahyu Irawati, Adolf Jan Nexson Parhusip dan Reisky Megawati Tammu yang juga melibatkan mahasiswa melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), memberi mereka pengalaman langsung dalam riset terapan dan pengabdian masyarakat. Dua mahasiswa yang terlibat – Nicolas Tunggul Adhigandewa (Pendidikan Biologi) dan Amelia Ranindah Sagala (Teknologi Pangan) – berperan aktif dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari formulasi hingga evaluasi pertumbuhan miselium.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*