JAKARTA,KalderaNews.com- Unggahan seorang dosen bernama Ahmad Junaidi tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Melalui akun Threads miliknya, @junaydfloyd, Junaidi membagikan kisah pribadi yang menyoroti ketimpangan penghargaan antara kalangan akademisi atau dosen dan influencer di ruang publik.
Threads yang kemudian ikut disorot oleh akun @wwildcherry28 ini langsung menarik perhatian banyak warganet.
BACA JUGA:
- Miris! Atap Gedung SD di Lumajang Roboh Saat Jam Sekolah Masih Berlangsung
- Viral! Siswa SMP Negeri 1 Bumiayu Gelar Aksi Demo di Sekolah, Protes Banyak Pungli
- Kadis DKI Jakarta Akhirnya Angkat Bicara Soal Robohnya Bangunan SMA Negeri 96 Jakarta
Dalam unggahannya, Junaidi menceritakan pengalaman ketika dirinya diundang menjadi pembicara pada sebuah acara berbayar. Ia hanya menerima honor senilai Rp300 ribu, jumlah yang menurutnya tidak sepadan dengan waktu, tenaga, dan keahlian yang ia berikan.
“Ini bukan tentang duit Rp300 ribu yang mereka kasih untuk saya. Ini tentang menghargai waktu dan tenaga yang saya berikan,” tulisnya.
Influencer dibayar belasan juta rupiah, dosen S3 lulusan LN hanya dibayar Rp300 ribu
Ironisnya, pada acara yang sama, seorang influencer yang turut diundang justru mendapat bayaran hingga belasan juta rupiah lengkap dengan fasilitas tambahan.
Padahal, Junaidi memiliki latar belakang akademik yang kuat, bergelar doktor dari Monash University, dan topik yang ia bawakan pun sangat relevan dengan tema kegiatan tersebut.
Ia bahkan membantu promosi acara itu melalui akun Instagram pribadinya yang memiliki lebih dari 100 ribu pengikut.
Meski demikian, Junaidi menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata tentang nominal uang, melainkan tentang cara pandang yang kurang adil terhadap profesi akademisi.
Dalam unggahanlain, ia juga menyebut bahwa dirinya sering kali membagikan ilmu tanpa meminta imbalan.
“Bukan karena kurangnya uang, tapi karena kurangnya pemahaman tentang rasa hormat,” ujarnya.
“Selama saya ada waktu, gratis tanpa bayar pun saya akan dengan senang hati mengisi acara,” tulisnya lagi.
Ia menambahkan bahwa selama delapan tahun terakhir, dirinya rutin mengajar setiap akhir pekan tanpa bayaran sebagai bentuk pengabdian.
“Saya tidak keberatan influencer dibayar lebih, tapi bukan berarti dosen harus dibayar jauh lebih sedikit,” tambahnya.
Curhatan Junaidi ini mendapat banyak simpati dan dukungan, khususnya dari sesama akademisi serta mahasiswa.
Banyak yang menilai bahwa apa yang disampaikan menggambarkan kenyataan pahit dunia Pendidikan, di mana mereka yang berperan mencerdaskan bangsa sering kali dihargai jauh lebih rendah dibanding figur populer di dunia maya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply