Karena 2N+1 Bukan Sekadar Kewajiban

Indy Hardono, tim koordinator Beasiswa StuNed (2010-2023), senior advisor (2023 -sekarang) di Nuffic Southeast Asia
Indy Hardono, tim koordinator Beasiswa StuNed (2010-2023), senior advisor (2023 -sekarang) di Nuffic Southeast Asia (KalderaNews/Dok. Pribadi)
Sharing for Empowerment

Oleh: Indy Hardono *

JAKARTA, KalderaNews.com – Saat ini sedang ramai dibahas di media online, sebuah unggahan dari seorang perempuan warga negara Indonesia tentang kegembiraannya menerima paket berisi surat dan paspor Inggris bagi anak keduanya yang masih balita.

Hal ini sebenarnya lumrah terjadi bagi setiap bayi yang lahir pada saat ayah atau ibunya sedang menetap selama beberapa tahun di negara asing dan mendapatkan izin tinggal.

Masalahnya bukan di situ, namun respon dari sang ibu yang sangat mengagetkan karena dari ekspresi wajah dan pemilihan narasi jelas tersirat sebuah euphoria dan ‘rasa syukur’ yang membuat hampir semua orang di republik ini geram.  “Cukup aku saja yang WNI anak-anakku jangan!”

BACA JUGA:

Narasi ini sontak menimbulkan gelombang kemarahan dan kekesalan dari masyarakat Indonesia karena dianggap melecehkan dan menghina bangsa sendiri. Apalagi ketika publik mengetahui bahwa pasangan suami istri ini adalah penerima  beasiswa LPDP, sebuah beasiswa bergengsi yang diberikan kepada putra-putri terbaik bangsa yang dananya adalah dana pemerintah yang dikelola sebagai dana abadi pendidikan.

Kewajiban 2N +1

Yang banyak dipertanyakan adalah bukankah setiap penerima beasiswa LPDP mempunyai kewajiban untuk segera kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya dengan formula 2N+1 dimana N adalah masa studi di luar negeri? Lalu kenapa sampai ada drama memamerkan paspor Inggris milik anak penerima beasiswa LPDP.

Sang ibu berkelit bahwa ia telah menyelesaikan kewajiban untuk menunaikan kewajiban kontribusi 2N+1 setelah menyelesaikan studinya di luar negeri. Tidak ada penjelasan atau informasi tentang kontribusi apa yang telah diberikan oleh sang ibu kepada negara ini.

Silau dan Kagum

Bagi seorang yang baru berusia di kisaran 18-30 tahun pengalaman studi di luar negeri untuk pertama kali yang dirasakan pada saat awal ketibaan mereka di negara tujuan studi hampir pasti adalah ‘silau’ dan kekaguman akan kualitas hidup dan pendidikan di sana dan diikuti dengan membandingkannya dengan situasi di republik ini.

Para awardee StuNed (KalderaNews/Nuffic SEA)
Para awardee StuNed (KalderaNews/Nuffic SEA)

Biasanya akan berakhir dengan  kesedihan dan pesimisme.  Ini terjadi hampir di semua penerima beasiswa dari program beasiswa apapun. Rasa kebangsaaan yang timbul hanya sebatas kangen keluarga waktu lebaran, makanan Indonesia atau pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya pada setiap tanggal 17 Agustus di KBRI atau KJRI.

Silau dan kekaguman ini biasanya akan bertambah seiring berjalannya waktu. Karena itu perlu strategi khusus untuk mengawal janji setia yang telah ditorehkan penerima beasiswa di award letter.

Monitoring Kesetiaan?

Monitoring adalah salah satu proses penting dalam manajemen pengelolaan beasiswa. Pada umumnya yang dilakukan oleh para pengelola beasiswa adalah monitoring yang bersifat administratif, misalnya mengirimkan progress hasil studi secara berkala atau proposal tugas akhir untuk sekadar melengkapi syarat bahkan ada beasiswa yang memberikan punishment berupa penundaan pencairan uang saku, jika menyerahkan laporan studi tidak pada waktunya

Tidak ada yang salah untuk meminta awardee mengirimkan laporan studi, namun apakah cara ini efektif untuk menjamin mereka akan pulang dan menunaikan janji?

Setelah menyelesaikan studi, satu-satunya kewajiban yang harus dipenuhi adalah segera kembali ke Tanah Air, melapor dan ‘berbakti’ kepada bangsa dan negara dengan mengikuti formula 2N+1. Klaar!

Para awardee StuNed (KalderaNews/Nuffic SEA)
Para awardee StuNed (KalderaNews/Nuffic SEA)

Jelas sudah bahwa tantangan dari pihak pemberi dan pengelola beasiswa sebenarnya bukan melulu seputar mencari kandidat yang memenuhi syarat dan relevan dengan bidang prioritas beasiswa yang dilakukan pada fase seleksi, kasus cultural shock yang dialami oleh hampir semua penerima beasiswa atau perpanjangan masa studi atau awardee yang gagal studi.

Ada tugas lain yang tak kalah pentingnya untuk dijadikan salah satu tugas utama dari pengelola beasiswa yaitu ‘menjaga kesetiaan dan janji’ penerima beasiswa terhadap komitmen yang telah mereka berikan pada awal proses penerimaan yaitu janji untuk kembali dengan kontribusi nyata setelah selesai studi.

Memonitor Rasa Kebangsaan ala StuNed

Mungkin kita lupa, kalau para penerima beasiswa ini adalah subyek bukan obyek. Pikiran, nalar dan emosinya pasti berkembang sejak detik pertama ia melangkah di negeri asing. Hal ini yang kadang luput dari radar pengelola beasiswa.

Pemberi beasiswa juga harus mampu untuk ‘memonitor’ perkembangan jiwa dan memupuk semangat kebangsaan setiap awardee-nya, walaupun hal ini sangat sulit dilakukan.  

StuNed Scholarship Programme, beasiswa dari pemerintah Belanda untuk warga negara Indonesia yang berjalan dari tahun 2000-2023, setiap tahun mengadakan acara  STuNed Day di KBRI di Den Haag.

Acara tersebut sengaja diadakan di KBRI untuk merecharge sisi kebangsaan yang setiap hari ‘tergerus’ oleh berbagai exposure negara tempat studi.

Pemilihan tempat di KBRI juga membantu mengingatkan awardee tentang konsep ‘pulang’ itu sendiri.

Percaya atau tidak setiap saya berkunjung ke KBRI di Den Haag aroma Indonesia segera tercium, entah itu aroma makanan atau aroma cengkeh seperti yang ada di rokok kretek. It smells like home!

Stuned Day sebenarnya dirancang  bukan saja untuk ajang sharing dan networking namun juga ajang  mengingatkan pulang untuk menepati janji.

Melalui hal-hal visual seperti dress code wastra Nusantara atau hal yang dapat dirasakan langsung misalnya makanan Indonesia otentik yang khusus di masak oleh catering resmi KBRI yang dimiliki oleh orang Indonesia, namun juga dari sisi konten acara yang semuanya mengarah kepada satu penjuru: Tanah Air!

Para awardee StuNed (KalderaNews/Nuffic SEA)
Para awardee StuNed (KalderaNews/Nuffic SEA)

Segmen acara ‘Stuned Talk’ misalnya adalah semacam talk show yang  narasumber, moderator sampai peserta semua adalah StuNed Awardee yang tentu saja membahas topik yang sedang hangat di Tanah Air. Dengan selalu memberikan info dan mendiskusikan isu terkini tentang Tanah Air para awardee selalu merasa terkoneksi dan tidak merasa hidup di tempat yang remote.

Ada juga segmen “Lapak Ilmiah” dimana beberapa StuNed awardee memaparkan hasil penelitiannya dengan singkat namun jelas dan dalam suasana yang riang dan ringan. Sebagai pamungkas biasanya koordinator team beasiswa akan membacakan puisi yang menurut para awardee adalah sebuah refleksi yang “gue banget” dan mampu membuat semua termehek-mehek.

Konsep StuNed Day ini diangkat oleh PPI Amsterdam pada tahun 2016 ke skala lebih besar dengan mengundang program Mata Najwa lengkap dengan host kenamaan Najwa Shihab, narasumber kondang yang juga pernah menjadi penerima beasiswa dan studi di luar negeri, serta topik yang sangat menyentuh yaitu “Jejak Bapak Bangsa” dan “Generasi Pembelajar.”

Puncaknya adalah acara yang digelar di Amsterdam Convention Centre dan dihadiri oleh kurang  lebih 1500 orang yang kebanyakan adalah pelajar indonesia di Belanda bukan hanya StuNed Awardee juga warganegara Indonesia (catat: WNI!) di Belanda bahkan warga negara Belanda keturunan Indonesia.

Sama dengan StuNed Day, acara yang diakhiri dengan pembacaan puisi refleksi oleh Najwa yang juga sangat “gue banget” dan diiringi lagu Tanah Airku mampu  mengaduk-aduk emosi dan menorehkan di hati para pelajar: Indonesia kami pasti pulang! Bak panas setahun dihapus hujan sehari, acara  tersebut mampu menggantikan sekantong kekaguman dengan berkarung-karung  kecintaan, kesetiaan dan keinginan untuk segera pulaaaang!!

Kewajiban atau Kesadaran

Pembekalan sebelum keberangkatan (pre departure session) yang biasanya diadakan oleh setiap lembaga pemberi beasiswa biasanya hanya fokus pada info praktis seputar akomodasi,  tranportasi dan pengenalan terhadap kultur baru yang akan ditemui.

LPDP dengan program PKnya sebenarnya sudah memberikan paket yang lengkap, yang juga memberikan materi yang berhubungan dengan kesadaran kebangsaan yang tidak tanggung-tanggung pernah disampaikan oleh Presiden atau Wakil Presiden.

Namun kewajiban dan kesadaran adalah dua hal berbeda. Kewajiban cukup diberitahukan dan diingatkan, namun tidak dengan kesadaran.

Kesadaran harus dipupuk. Yang kadang terlupakan adalah terus menjaga agar kesadaran untuk kembali tetap pada level full tank. Dibutuhkan endurance untuk me-recharge berulang-ulang agar tidak sampai ke titik terendah.

Para awardee StuNed (KalderaNews/Nuffic SEA)

StuNed Scholarship tidak pernah mewajibkan para penerima beasiswanya untuk kembali ke Indonesia, namun ‘anehnya’ bisa dihitung dengan jari jumlah penerima beasiswa StuNed yang memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia.

Selain mencari pekerjaan di Belanda cukup sulit, StuNed juga secara terus menerus menanamkan di benak setiap penerima beasiswa StuNed bahwa keistimewaan yang didapatkan sebagai seorang scholar bukan untuk membangun kemasyuran pribadi namun untuk membangun martabat negeri. Namun keputusan  kembali diserahkan   kepada setiap awardee.

StuNed juga selalu ada untuk setiap awardeenya melalui komunikasi langsung. StuNed percaya bahwa tidak perlu proses penagihan janji di akhir masa studi, tapi lebih menekankan pada kemampuan pengelola beasiswa untuk menerawang di proses seleksi awal, siapa pelamar beasiswa yang punya potensi kembali untuk menepati janji.

Memang tidak mudah, namun sejak awal pengelola beasiswa harus jeli melihat siapa yang punya potensi setia, memantau dan memberikan asupan kebangsaan selama masa studi melalui program-program khusus dan di proses akhir studi semua awardee akan ramai-ramai mengetok pintu kantormu dan berteriak: kami pulaaaang! (tanpa drama).

* Indy Hardono, tim koordinator Beasiswa StuNed (2010-2023), senior advisor (2023 – sekarang) di Nuffic Southeast Asia

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*