
Oleh: Indy Hardono, Scholarship Coordinator Nuffic Southeast Asia (SEA)
JAKARTA, KalderaNews.com – Banyak orang beranggapan kalau sebuah program beasiswa hanya sekadar ajang pemberian bantuan kepada para penerimanya. Sehingga persepsi yang timbul adalah bahwa sebuah pengelolaan program beasiswa hanyalah masalah seleksi dan administrasi keuangan semata, termasuk anggapan bahwa penerima beasiswa harus berasal dari kalangan yang kurang mampu atau memiliki keterbatasan ekonomi.
Beasiswa StuNed (Studeren in Nederland- Studi di Belanda) membuktikan bahwa sebuah program beasiswa dapat memainkan peran yang berbeda (multi roles). Beasiswa dapat berevolusi dan bertransformasi sesuai situasi dan kebutuhan. Yang pasti sebuah program beasiswa harus dilandasi oleh sebuah proses need assessment yang mendalam sehingga jelas siapa target group , persyaratan dan kriterianya.
Beasiswa StuNed adalah beasiswa bilateral yang diberikan oleh pemerintah Belanda kepada warga negara Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas individu dan juga kapasitas institusi Indonesia. StuNed adalah satu-satunya beasiswa bilateral dari pemerintah Belanda . Jadi beasiswa StuNed hanya dikhususkan untuk warga negara Indonesia saja.
BACA JUGA:
- Sudah Berusia 20 Tahun, StuNed Tentu Bukan “Anak Kecil” Lagi
- 120 Mahasiswa Indonesia di Belanda Rayakan 20 Tahun Beasiswa StuNed
- Beasiswa itu Tidak Jatuh dari Langit, Indy Hardono: Pahami 2 Hal Ini
Ide tentang StuNed datang dari salah satu alumni Belanda dari Indonesia yaitu Kwik Kian Gie yang pada tahun 1999 mendesak pemerintah Belanda untuk membuat sebuah program beasiswa bilateral khusus untuk Indonesia. Kwik yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Bappenas secara langsung menyampaikan urgency dari beasiswa ini baik dari sisi kebutuhan akan sumberdaya manusia Indonesia yang berkualitas, juga dari sisi hubungan bilateral kedua negara.
Tiga juta guilders pertama dikucurkan pada tahun 2000. Pada tahun yang sama batch pertama Stuned pun diberangkatkan ke Belanda. Nuffic Neso yang dulu bernama Netherlands Education Centre (NEC) diberi mandat oleh pemerintah Belanda untuk menjadi implementing agency dari program beasiswa StuNed.
Evolusi dan Transformasi
Pada awalnya StuNed memang ditujukan sebagai bantuan (development aid) dari pemerintah Belanda untuk Indonesia. Namun dalam perjalanannya, pada tahun 2010 StuNed mulai berevolusi dengan mengubah target groupnya ke 50 institusi Indonesia sebagai priority partners sebelum pada tahun 2016 StuNed berubah total dari development aid menjadi beasiswa berdasarkan keunggulan – excellence based atau merit based scholarship, dimana seleksi dilakukan berdasarkan keunggulan si pelamar dan tidak lagi berdasarkan geographical spread (misalnya luar Jawa atau daerah atau pulau terpencil)atau gender (prioritas pada perempuan).
Keunggulan dapat berupa keunggulan akademik, atau prestasi lain seperti mendapatkan penghargaan internasional , pubikkasi atau kegiatan sosial yang berdampak pada masyarakat.
Ambassador
Selain bertujuan untuk meningkatkan kapasitas individu dan organisasi , StuNed mengemban misi khusus yaitu menciptakan dan melahirkan ambassador-ambassador bagi kedua negara, Indonesia dan Belanda.
Para penerima beasiswa StuNed diharapkan dapat menjadi ujung tombak hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda yang lebih intensif dan komprehesif. Mereka diharapkan dapat menjadi jembatan diantara kepentingan kedua negara .

Tugas Nuffic Neso bukan sekadar mengimplementasikan program beasiswa, namun juga menciptakan alumni yang bukan saja mendapatkan ilmu dan life changing experience, tapi juga alumni yang memiliki ownership dan antusiasme terhadap kepentingan kedua negara dan dapat melihat lebih jeli potensi kerjasama kedua negara dan bersemangat untuk membangun terus hubungan bilateral Indonesia Belanda melalui kolaborasi di berbagai bidang.
Para alumni harus memiliki rasa nasionalisme yang tinggi terhadap Indonesia sekaligus juga memiliki kedekatan emosional dengan Belanda sebagai ‘rumah kedua’ bagi mereka. Untuk itu pendekatan yang berbeda perlu diterapkan yaitu pendekatan yang lebih personal dan kekeluargaan dan bukan pendekatan administratif semata
Hutang yang Harus Dibayar?
Beasiswa seringkali dianggap sebagai cost. Karena dianggap sebagai pembiayaan yang tidak akan ‘kembali’. Jika beasiswa dianggap sebagai cost maka akan timbul persepsi bahwa si penerima wajib ‘mengembalikan’ apa yang telah ia dapatkan. Lebih ekstrim lagi kadang disebut sebagai hutang yang harus dibayar.
Namun dalam konteks masa depan beasiswa harus dipandang sebagai investasi terhadap sumber daya manusia.Hasilnya memang tidak dapat dinikmati cepat dan kadang juga tidak dapat terukur secara kuantitatif.
Bak sebuah perusahaan yang akan go public maka si pelamar beasiswa dan seluruh berkas lamaran adalah prospektus yang harus dipelajari dan dikaji lebih dalam oleh para ‘investor’ (donor).
Mereka yang terpilih adalah mereka yang memiliki potential returnnya yang paling menjanjikan berupa dampak dari hasil studinya yang bukan saja berupa ilmu dan pengetahuan, namun juga hal-hal lain seperti international exposure, dan berbagai skills yang sangat diperlukan di dunia yang semakin kompetitif seperti inter cultural skills, commdunication skills, dan critical thinking, serta sikap dan perilaku yang berubah menjadi lebih bijak dan terbuka.
Jadi StuNed adalah investasi untuk menuai hubungan bilateral yang lebih berarti dan saling menguntungkan.
Penerima beasiswa dan hasil dari studinya adalah sebuah potential return . Karena itulah StuNed selalu menekankan kalau beasiswa adalah tanggung jawab para penerimanya kepada diri mereka sendiri. Bukan cost apalagi hutang.
Our Awardees, Our Customers
Bagi StuNed, pelamar dan awardees adalah customer yang harus di layani. A full fledged service mulai dari awal proses yaitu outreaching dimana Nuffic Neso memfasilitasi semua calon pelamar dengan berbagai moda promosi, mulai dari mengadakan mega event tahunan seperti Holland Scholarship Days sampai konseling perorangan.
Nuffic Neso menyadari betul bahwa pemburu beasiswa memang banyak tapi mendaptkan pelamar terbaik yang sesuai dengan persyaratan dan kriteria yang diinginkanbukanlah perkara mudah. Harus didukung oleh program outreaching yang terarah.
Perlakuan terhadap awardee dilakukan layaknya pelanggan premium dengan pendekatan personal dan kekeluargaan. Program -program pre departure dan monitoring seperti acara tahunan StuNed Day di Belanda dan welcome home untuk para awardee yang baru kembali selalu menjadi program-program yang dinanti-nanti oleh para penerima beasiswa StuNed.
Pendekatan personal yang dilakukan StuNed selama masa studi juga terbukti efektif membantu mereka dalam menghadapi masa-masa sulit yang berkaitan dengan akademis ataupun pribadi (orang tua meninggal, putus dengan pacar sampai urusan ASI karena ada yang berangkat ke Belanda seminggu setelah melahirkan).

Selain itu program manajemen yang jelas, efisien, transparan serta akuntabel dan berorientasi untuk memberi kemudahan kepada para penerima beasiswa dan keberadaan rules and regulations yang mengatur hubungan antara awardee dengan penyelenggara beasiswa (Nuffic Neso), antara universitas Belanda dan awardee dan juga universitas di Belanda dengan penyelenggara beasiswa.
Grant process dipusatkan di universitas dimana semua transaksi keuangan dilakukan melalui setiap universitas. Dengan kata lain tidak ada satu europun yang diberikan langsung dari penyelenggara beasiswa kepada awardee sehingga pengawasan lebih mudah dilakukan .Sistem pelaporan ke donor juga dilakukan secara periodik.
Dari hasil meta evaluation yang dilakukan StuNed pada tahun 2023 menjelang berakhirnya program diketahui bahwa para penerima beasiswa merasa tidak terbebani oleh urusan-urusan administrasi karena hal tersebut telah ditangani pihak universitas, sehigga mereka dapat lebih fokus pada urusan akademis dan juga penyesuaian kultur pada saat awal perkuliahan.
Selain itu dari meta evaluation didapatkan informasi bahwa sistem pendaftaran dan seleksi yang sangat efisien, simple dan tidak berbelit-belit diakui oleh para awardee sebagai salah satu keunggulan StuNed. Sistem pendaftaran yang terintegrasi dengan sistem penerimaan universitas juga memudahkan proses aplikasi.
Dampak
Lalu apa dampak yang telah dipersembahkan oleh StuNed? Dampak tidak melulu pencapaian fancy setingi langit dari para alumni . Dampak kecil namun berarti, – small but concrete and meaningful impact. Itu yang menjadi ‘DNA’ dari setiap penerima beasiswa Stuned. Menghasilkan karya nyata dan membawa manfaaat untuk masyarakat di sekitarnya itulah dampak yang hakiki
Kemitraan bilateral Indonesia – Belanda di bidang lain juga menjadi dampak nyata dari adanya beasiswa StuNed. Terlebih karena sasaran StuNed bukan saja individu tapi juga institusi. Banyak kemitraan yang melibatkan institusi kedua negara yang digagas dan diinisiasi oleh para alumni StuNed. StuNed menjadi jembatan bagi hubungan bilateral. StuNed terbukti menjadi instrumen kemitraan yang efektif.
Dampak bukan saja untuk Indonesia namun juga Belanda. StuNed juga merupakan instrumen promosi bagi Studi di Belanda secara umum. Secara langsung dan tidak langsung StuNed membantu peningkatan jumlah pelajar Indonesia yang kuliah di Belanda.
Dulu Belanda bukanlah salah satu top of mind untuk studi di luar negeri bagi pelajar Indonesia. Namun kini derasnya mobilitas pelajar dari Indonesia ke Belanda sejak awal tahun 2000 menjadi bukti bahwa StuNed ikut mendorong tercapainya peningkatan itu.
Bahkan jumlah awardee LPDP – mega proyek beasiswa dari pemerintah Indonesia terbanyak berdasarkan universitas adalah ke Wageningen University di Belanda. Ini tentunya membawa keuntungan baik secara ekonomi bagi sektor pendidikan tinggi Belanda dan juga area lain seperti kolaborasi riset dan pendidikan secara umum.
StuNed: Titik Temu
StuNed membuktikah selama 23 tahun keberadaannya, StuNed mampu menghasilkan lebih dari 5000 alumni dari berbagai program studi dan modalitas: program master, short course dan tailor made training. Para alumni yang tersebar di berbagai bidang adalah ujung tombak dan ambassador bagi kolaborasi strategis antar dua negara .
Stuned batch 2021 adalah batch terakhir karena pemerintah Belanda memutuskan untuk tidak melanjutkan program StuNed. Mengapa? Apakah karena Indonesia telah memiliki LPDP sehingga tidak perlu dibantu? Ingat, beasiswa tidak hanya relevan sebagai instrumen bantuan.

StuNed bahkan membuktikan bahwa perannya sebagai instrumen kemitraan menjadi lebih valid dengan bergandeng tangannya StuNed dan LPDP dalam sebuah joint scholarship yang diluncurkan pada tahun 2021. StuNed menjadi mitra pertama dari negara lain, bagi LPDP.
Beasiswa untuk studi di Belanda adalah sebuah aktivitas mobilitas. Mobilitas akan menciptakan people-to -people relationship yang merupakan pintu masuk bagi kerjamasama. Dengan berjalannya waktu dan juga dinamika bilateral Indonesia- Belanda, keberadaan StuNed seharusnya menjadi semakin relevan. StuNed tidak lagi sebuah instrumen bantuan (aid). StuNed yang selalu berada diantara kepentingan Belanda dan Indonesia , selalu bertujuan saling memberikan keuntungan bagi keduanya, sehiggga keberadaan StuNed sebagai instrumen bilateral partnership seyogianya akan selalu relevan.
StuNed juga dapat menjadi penghapus cerita kelam masa kolonial dulu. StuNed menjadi instrumen rehabilitasi citra Belanda di Indonesia. StuNed seharusnya tidak menjadi titik akhir namun justru titik temu dan sebuah program yang berkesinambungan , sebagai pematik kerjasama di berbagai bidang kolaborasi bilateral Indonesia – Belanda.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply