Viral! Dugaan Intoleransi di Depok, Misa Penghiburan Ditolak RT

Tangkapan layar video viral unggahan dari akun Threads populer @depok24jam yang mengungkap adanya insiden penolakan ibadah misa penghiburan (doa kedukaan) bagi keluarga yang tengah berduka
Tangkapan layar video viral unggahan dari akun Threads populer @depok24jam yang mengungkap adanya insiden penolakan ibadah misa penghiburan (doa kedukaan) bagi keluarga yang tengah berduka (KalderaNews/Malena)
Sharing for Empowerment

Geger aksi dugaan intoleransi di Cipayung Depok. Ibadah duka dilarang oknum RT, warganet langsung colek Wapres Gibran.

DEPOK, KalderaNewsc.om – Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh dugaan aksi intoleransi yang terjadi di Kota Depok, Jawa Barat.

Sebuah unggahan dari akun Threads populer @depok24jam mendadak viral setelah mengungkap adanya insiden penolakan ibadah misa penghiburan (doa kedukaan) bagi keluarga yang tengah berduka.

BACA JUGA:

Insiden ini memicu gelombang kecaman dari warganet yang menyayangkan hilangnya rasa empati di tengah situasi duka. Bahkan, sejumlah netizen terpantau langsung menandai (mention) Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, hingga tokoh publik Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Kronologi Dugaan Penolakan Misa Penghiburan di Cipayung

Berdasarkan informasi awal yang diunggah oleh akun Threads @depok24jam, peristiwa miris ini terjadi pada Minggu (28/6/2026). Lokasi kejadian berada di kawasan Bulak Timur, Gang Haji Abdul Aziz, RT 005/RW 09, Kecamatan Cipayung, Kota Depok.

“Viral di media sosial dugaan aksi intoleransi terjadi di wilayah Cipayung, Kota Depok, Minggu (28/6/2026). Sebuah keluarga yang tengah berduka disebut mengalami penolakan saat hendak menggelar ibadah misa penghiburan di rumah duka,” tulis unggahan @depok24jam.

Mirisnya, ibadah doa tersebut diduga sempat dihalangi oleh oknum pengurus lingkungan setempat. Padahal, romo (pemimpin ibadah umat Katolik) dilaporkan sudah hadir di lokasi untuk memimpin doa bagi mendiang.

Hingga artikel ini dimuat, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah kota Depok terkait duduk perkara atau mediasi antar-warga di Bulak Timur tersebut.

Reaksi Keras Warganet: Dari Hujatan hingga Colek Wapres Gibran

Unggahan tersebut langsung diserbu ribuan komentar dari warganet yang geram. Banyak netizen yang menyoroti hilangnya rasa kemanusiaan, mengingat ibadah yang digelar bukanlah ibadah rutin gereja, melainkan doa penghiburan untuk keluarga yang baru saja kehilangan anggota keluarganya.

Berikut beberapa reaksi kontroversial dan sorotan warganet di kolom komentar:

Hilangnya Rasa Empati: Akun @themoon.devotional mengungkapkan rasa sedihnya, “Ini kasus yang paling bikin speechless sih. Bener² tega. Situasi kedukaan pun gak bisa bikin mereka simpati 1% pun. 💔”

Analogi dengan Pengajian: Akun @christifach menambahkan, “Ibadah penghiburan lhooo iniii, orang barusan ada yang meninggal koook. Ibadah penghiburan itu ngga sering kok. Ngga ada bedanya sama pengajian kayak biasanya. Kebacut banget.”

Aduan ke Pejabat Publik: Kesal karena kejadian serupa kerap berulang di Jawa Barat, beberapa netizen langsung memention akun pejabat. Akun @gabbymoniq menulis, “@gibran_rakabuming pak wapres coba lihat inii.. Ibadah duka aja gk boleh..” Sementara akun @valencia_dewi dan @abah.lim kompak mencolek politisi Jabar, “@dedimulyadi71 kang ini bagaimana? Ibadah penghiburan (istilah yg mirip Tahlilan) Sedih dengernyaaaa.”

Kritik Sosial yang Menohok: Akun @lamiang41 memberikan sindiran tajam, “Coba pikir.. mana yg lebih jahat… org beribadah di rumah atau orang berbuat maksiat di warung remang remang? Kenapa yg digeruduk org yg beribadah…”

Prinsip Toleransi Beragama

Secara hukum di Indonesia, kebebasan memeluk agama dan beribadah menurut agamanya masing-masing telah dijamin oleh Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945. Lebih lanjut, ibadah yang bersifat kondisional seperti doa kematian (misa penghiburan/tahlilan) sejatinya merupakan bagian dari ruang privat warga negara yang didasari atas asas kemanusiaan dan ikatan sosial.

Kasus di Cipayung, Depok ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kota Depok dan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) untuk segera turun tangan melakukan klarifikasi dan edukasi di tingkat RT/RW agar gesekan horizontal tidak terus membesar.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*