Calon Guru Papua di USD Gelar Dongeng Edukatif di SDK Sengkan

Mahasiswa PGSD USD asal Papua melakukan dongeng boneka di SD Kanisius Sangkan untuk edukasi bahaya kecanduan gadget pada anak, Senin, 9 Juni 2026
Mahasiswa PGSD USD asal Papua melakukan dongeng boneka di SD Kanisius Sengkan untuk edukasi bahaya kecanduan gadget pada anak, Senin, 9 Juni 2026 (KalderaNews/Dok. USD)
Sharing for Empowerment

Mahasiswa PGSD USD asal Papua gelar dongeng boneka di SD Kanisius Sengkan untuk edukasi bahaya kecanduan gadget pada anak.

YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Ratusan siswa SD Kanisius Sengkan tampak antusias mengikuti pertunjukan dongeng boneka pada Senin (9/6/2026).

Menariknya, aksi kreatif ini dibawakan langsung oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sanata Dharma (USD) asal Papua.

BACA JUGA:

Kegiatan ini bukan sekadar hiburan biasa, melainkan bagian dari proyek pembelajaran mata kuliah Edupreneurship. Proyek tersebut diampu oleh FX. Murti Hadi Wijayanto, S.J., S.S., M.F.A., atau yang akrab disapa Romo Murti.

Belajar Menjadi Guru yang Mengajar dengan Hati

Melalui proyek ini, para mahasiswa asal Papua yang kelak akan kembali dan mengajar di berbagai wilayah tanah kelahiran mereka dibekali cara menghadirkan pendidikan yang kreatif, humanis, serta dekat dengan dunia anak-anak.

Pendekatan ini dilatih agar mereka menjadi pendidik yang mampu menghargai martabat setiap anak serta menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Proses persiapannya pun dilakukan secara total mandiri. Para mahasiswa tidak hanya menulis cerita, tetapi juga merancang tokoh, membuat boneka tangan sendiri, menyiapkan properti panggung, hingga menampilkan pertunjukan secara langsung di hadapan para siswa.

Anak-anak antusias mendengar mahasiswa PGSD USD asal Papua yang sedang melakukan dongeng boneka di SD Kanisius Sengkan untuk edukasi bahaya kecanduan gadget pada anak, Senin, 9 Juni 2026
Anak-anak antusias mendengar mahasiswa PGSD USD asal Papua yang sedang melakukan dongeng boneka di SD Kanisius Sengkan untuk edukasi bahaya kecanduan gadget pada anak, Senin, 9 Juni 2026 (KalderaNews/Dok. USD)

Panggung sederhana yang dihiasi latar rumah dan pepohonan berhasil menghidupkan suasana hangat dan penuh imajinasi. Sepanjang acara, anak-anak tampak terlibat aktif, tertawa, dan interaktif menjawab pertanyaan dari para pendongeng.

“Guru tidak hanya mengajar pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kemanusiaan. Anak-anak perlu ruang untuk berimajinasi, berekspresi, dan belajar melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka,” ungkap Romo Murti.

Sinopsis Dongeng “Adi dan Gadgetnya”: Edukasi Bijak Bermedia Digital

Dalam pertunjukan tersebut, isu kontemporer anak-anak diangkat lewat cerita berjudul “Adi dan Gadgetnya”. Kisah ini merespons persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini.

Cerita ini mengisahkan tentang Adi, seorang anak yang mulai mengalami kecanduan gadget. Akibat sering bermain gawai hingga larut malam, Adi menghadapi berbagai masalah dalam kesehariannya, seperti sulit bangun pagi, sering terlambat ke sekolah, tidak fokus saat belajar, hingga nilai-nilai akademiknya yang terus menurun.

Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, guru Bimbingan Konseling (BK) berinisiatif memanggil orang tua Adi, yakni Pak Arif dan Bu Diyah ke sekolah.

FX. Murti Hadi Wijayanto, S.J., S.S., M.F.A. atau yang akrab disapa Romo Murti ikut hadir di acara dongeng boneka oleh mahasiswa PGSD USD asal Papua di SD Kanisius Sengkan untuk edukasi bahaya kecanduan gadget pada anak, Senin, 9 Juni 2026 (KalderaNews/Dok. USD)
FX. Murti Hadi Wijayanto, S.J., S.S., M.F.A. atau yang akrab disapa Romo Murti (Kaos Putih) ikut hadir di acara dongeng boneka oleh mahasiswa PGSD USD asal Papua di SD Kanisius Sengkan untuk edukasi bahaya kecanduan gadget pada anak, Senin, 9 Juni 2026 (KalderaNews/Dok. USD)

Setelah berdiskusi bersama, keluarga Adi akhirnya sepakat untuk menjalankan kebiasaan baru berupa “Puasa Gadget” setiap hari yang diberlakukan mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WIB.

Menariknya, aturan tegas tersebut tidak hanya berlaku bagi Adi, tetapi juga wajib dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga termasuk adiknya, Rachel.

Pada jam-jam tanpa gawai tersebut, mereka mengganti penggunaan gadget dengan aktivitas keluarga yang jauh lebih produktif, seperti belajar bersama, membaca buku, serta berbincang hangat.

Melalui metode dongeng boneka yang segar ini, para calon guru asal Papua sukses menyampaikan pesan moral yang kuat tentang pentingnya membatasi waktu layar (screen time) kepada anak-anak sekolah dasar.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*