Mahasiswa Sastra Inggris USD Raih Best Delegate EuroMUN 2026 Belanda

Rebecca Simorangkir
mahasiswa Program Studi Sastra Inggris USD, Rebecca Simorangkir (KalderaNews/Dok. USD)
Sharing for Empowerment

Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris USD Rebecca Simorangkir. berhasil meraih penghargaan tertinggi, Best Delegate di Belanda

YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) bernama Rebecca Simorangkir.

Dalam ajang bergengsi European Model United Nations (EuroMUN) 2026 yang diselenggarakan di Maastricht, Belanda, pada 14–17 Mei 2026, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris USD itu berhasil meraih penghargaan tertinggi, Best Delegate, pada komite Disarmament and International Security Committee (DISEC).

EuroMUN merupakan simulasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (Model United Nations/MUN) yang menjadi salah satu konferensi MUN paling prestisius di Eropa.

BACA JUGA:

Dalam kompetisi tersebut, peserta berperan sebagai delegasi negara dan membahas isu-isu global melalui diplomasi, negosiasi, serta debat formal. Pada kesempatan ini, delegasi USD mewakili United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland (Inggris) dalam pembahasan topik “The Future of Iran Nuclear Deal”.

Keberhasilan meraih penghargaan Best Delegate tidak diraih secara instan. Sebelum mengikuti EuroMUN, mahasiswa tersebut terpilih sebagai salah satu peserta Program International Exposure Djarum Beasiswa Plus, program yang memberangkatkan 10 mahasiswa terpilih dari seluruh Indonesia untuk mengikuti pelatihan intensif yang sepenuhnya didanai.

Selama kurang lebih 20 kali pertemuan di Jakarta, para peserta dibekali berbagai materi dan keterampilan yang relevan untuk menghadapi kompetisi internasional.

Di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi dan aktivitas bermusik yang digeluti, ia harus mempelajari berbagai konsep dasar hubungan internasional serta mendalami isu-isu global yang menjadi fokus kompetisi.

Upaya tersebut menuntut disiplin tinggi, riset mandiri yang intensif, serta komitmen untuk terus belajar di luar bidang akademik yang selama ini ditekuninya.

“Di hari-hari konferensi, saya berjuang habis-habisan untuk mempertahankan mosi debat dan substansi argumen yang saya yakini benar. Semua persiapan dan proses belajar yang panjang akhirnya terbayar,” ungkapnya.

Menurutnya, berbagai mata kuliah yang ditempuh di Program Studi Sastra Inggris USD memberikan kontribusi besar terhadap keberhasilannya. Mata kuliah Public Speaking membekali kemampuan berbicara di depan umum dengan percaya diri, sementara mata kuliah Public Relations melatih keterampilan persuasi dan negosiasi yang sangat dibutuhkan dalam forum diplomasi internasional.

Selain itu, pengalaman belajar melalui Formasi Cerdas Humanis (FCH) yang banyak sekali mengajarkan saya tentang hal fundamental untuk menjadi pribadi yang dapat berpikir secara kritis dan unggul di tengah lingkup global.

Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapi bukanlah materi kompetisi, melainkan faktor mental. Ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi internasional secara individual di luar negeri.

“Saya sempat mengalami inferiority complex yang cukup besar karena di dalam komite tidak ada peserta dari Indonesia, bahkan hampir tidak ada peserta dari Asia. Saya harus membangun mental yang kuat agar tetap berani berbicara, berdebat, dan menyampaikan pidato dengan percaya diri,” ujarnya.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa keterbatasan latar belakang akademik bukanlah penghalang untuk berprestasi di bidang yang berbeda.

Sebagai mahasiswa Sastra Inggris yang memiliki ketertarikan besar pada dunia musik, ia tidak pernah membayangkan dapat meraih penghargaan tertinggi dalam kompetisi yang membahas isu pelucutan senjata, nuklir, dan konflik internasional.

“Setelah kompetisi ini, saya semakin percaya bahwa tidak ada yang mustahil. Kuncinya adalah berusaha, berdoa, dan berani keluar dari zona nyaman. Mungkin terdengar klise, tetapi itulah yang saya lakukan,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kemampuan dan kompetensi yang mampu bersaing di tingkat internasional. Menurutnya, tantangan yang perlu terus dibangun adalah mentalitas, kepercayaan diri, dan kesadaran untuk berani mengambil peluang global.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk dari bidang ilmu humaniora, mampu menunjukkan kualitas akademik, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan diplomasi yang setara dengan mahasiswa dari berbagai negara di dunia.

Keberhasilan tersebut diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk berani mengeksplorasi peluang internasional dan mengembangkan potensi di luar bidang yang selama ini mereka tekuni.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*