Lakon Retak Keluarga Menengah, Ketika Suaka Menjadi Trauma

Teater Seriboe Djendela Universitas Sanata Dharma dalam pentas "Entah Kapan Kusebut Itu Rumah" di Auditorium Driyarkara, Jumat (5/6/2026) malam
Teater Seriboe Djendela Universitas Sanata Dharma dalam pentas "Entah Kapan Kusebut Itu Rumah" di Auditorium Driyarkara, Jumat (5/6/2026) malam (KalderaNews/Dok. USD)
Sharing for Empowerment

Teater Seriboe Djendela bedah retaknya keluarga kelas menengah. Kala kapitalisme domestik mengubah suaka hangat menjadi trauma.

YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Rumah bukan lagi pelabuhan aman. Itulah inti yang diangkat Teater Seriboe Djendela Universitas Sanata Dharma dalam pentas besar Entah Kapan Kusebut Itu Rumah di Auditorium Driyarkara, Jumat (5/6/2026) malam.

Melalui kisah keluarga kelas menengah dengan empat anak perempuan, pertunjukan ini membedah bagaimana PHK, utang pendidikan, dan komunikasi yang buntu merobek ikatan keluarga.

Wakil Rektor III Universitas Sanata Dharma, Dr. Titik Kristiyani, M.Psi., dalam sambutannya menyebut tema tersebut sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

BACA JUGA:

“Keluarga-keluarga kelas menengah sering kali berada di posisi yang sulit, didesak dari atas dan bawah. Melalui teater ini, mahasiswa kita belajar memahami dan mengolah tekanan tersebut,” ujarnya.

Pentas yang dimulai pukul 18.30 WIB ini sekaligus menjadi pentas perpisahan bagi anggota angkatan 2023 Teater Seriboe Djendela. Pendamping UKM, Jeje, mengatakan lakon ini sengaja diangkat karena sangat dekat dengan keresahan mahasiswa masa kini yang merasa terjepit situasi ekonomi dan sosial.

Proses Kreatif dan Pencapaian di Luar Kampus

Naskah orisinal karya J.B. Judha Jiwangga, Gregorius Brian, dan Slamenda Dea ini ditulis sejak Januari dan rampung Februari 2026.

Setelah melewati dramatic reading, naskah digembleng selama empat bulan di bawah arahan Hendra Bagus Pamungkas dan dosen pembimbing J.B. Judha Jiwangga.

Prestasi lebih besar diraih ketika Teater Seriboe Djendela menjadi satu-satunya kelompok teater kampus yang lolos ke Yogyakarta Urban Festival (Yufest) 2026 setelah menyisihkan 25 kelompok.

Teater Seriboe Djendela Universitas Sanata Dharma dalam pentas "Entah Kapan Kusebut Itu Rumah" di Auditorium Driyarkara, Jumat (5/6/2026) malam
Teater Seriboe Djendela Universitas Sanata Dharma dalam pentas “Entah Kapan Kusebut Itu Rumah” di Auditorium Driyarkara, Jumat (5/6/2026) malam (KalderaNews/Dok. USD)

Mereka tampil sebagai pembuka festival dengan lakon Belajar Membaca di Taman Budaya Yogyakarta, ruang seni yang dinanti sejak 2014.

J.B. Judha Jiwangga menilai momentum ini penting untuk menguji kemampuan mahasiswa di panggung publik yang lebih luas.

Membedah Kapitalisme Domestik

Lakon ini menghancurkan romantisasi rumah sebagai tempat perlindungan sakral. Bagi generasi Z, rumah justru menjadi episentrum trauma yang diproduksi dan diwariskan.

Teater ini menunjukkan runtuhnya teori fungsionalisme Talcott Parsons. Saat ayah (60 tahun) mengalami PHK, peran instrumentalnya sebagai pencari nafkah runtuh. Kehilangan itu memicu kekerasan simbolik Pierre Bourdieu yang kemudian merembet menjadi kekerasan verbal di dalam rumah.

Ibu (51 tahun) lalu mengubah hubungan darah menjadi hubungan komoditas. Sophia (22 tahun), anak kedua yang masih kuliah, kerap disebut sebagai “beban finansial”.

“Ingat Sophia, ayahmu sudah keluar banyak uang untuk kuliahmu,” kata Ibu dalam salah satu adegan yang menyayat.

Agni (24 tahun), anak sulung, merepresentasikan sandwich generation. Tabungan pernikahannya harus dikorbankan untuk menyangga keluarga, membuatnya menjadi dingin dan opresif terhadap adik-adiknya.

Teater Seriboe Djendela Universitas Sanata Dharma dalam pentas "Entah Kapan Kusebut Itu Rumah" di Auditorium Driyarkara, Jumat (5/6/2026) malam
Teater Seriboe Djendela Universitas Sanata Dharma dalam pentas “Entah Kapan Kusebut Itu Rumah” di Auditorium Driyarkara, Jumat (5/6/2026) malam (KalderaNews/Dok. USD)

Tragedi terdalam jatuh pada Mauna (17 tahun), si anak tengah yang “tak terlihat”. Selalu diposisikan sebagai anak penurut, suaranya terus dibungkam dengan dalih “ada urusan orang dewasa”.

Menggunakan Strain Theory Robert K. Merton, kehamilan Mauna bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan bentuk pemberontakan (rebellion) terhadap struktur yang menuntut kesuksesan tanpa memberi sarana yang memadai. Kehamilan itu menjadi protes tubuh, teriakan minta tolong ketika ruang komunikatif Jürgen Habermas di rumah telah lenyap.

Meja makan yang seharusnya menjadi ruang setara berubah menjadi “meja pengadilan domestik”. Sop ayam hangat buatan ibu menjadi latar saling serang.

Ludia (15 tahun), sang bungsu, bahkan menyentil sarkastik program Makan Bergizi Gratis dengan mengatakan dirinya “keracunan MBG”, menyoroti ironi negara yang fokus pada gizi fisik tetapi mengabaikan busung lapar emosional.

Puncak lakon ditandai dengan darah yang mengalir dari rahim Mauna di lantai ruang tengah, metafora kuat bahwa keluarga kelas menengah sedang melakukan “aborsi massal” terhadap masa depan generasinya sendiri.

Katarsis Air Mata

Pertunjukan ini berhasil menyentuh penonton. Banyak yang menitikkan air mata, terutama di bagian akhir.

“Luar biasa banget pokoknya karena kisahnya ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita. Apalagi aku ngerasa relate banget di bagian akhirnya,” ungkap Poppy, salah seorang penonton.

Ajeng, pemeran tokoh Ibu dan anggota angkatan 2023, tak kuasa menahan haru setelah penampilan terakhirnya.

“Aku terharu banget… abis ini aku ga teateran di Seriboe Djendela lagi. Tapi terima kasih kepada Teater Seriboe Djendela yang udah ngasih pesan dan kesan yang banyak buat aku,” katanya.

Setelah pertunjukan, UKM memberikan sertifikat apresiasi kepada seluruh anggota angkatan 2023.
Pentas Entah Kapan Kusebut Itu Rumah menunjukkan kekuatan teater kampus dalam membedah isu sosial kontemporer.

Di tengah berbagai tekanan zaman, lakon ini mengingatkan bahwa rumah harus dikembalikan sebagai ruang aman, bukan arena kompetisi penderitaan.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*