
Sekolah Cikal Serpong gelar Playground of Sunda Kelapa di Ciputra Artpreneur. Angkat budaya Betawi dan kampanye bijak gawai.
JAKARTA, KalderaNews.com – Sekolah Cikal Serpong menggelar mahakarya seni pertunjukan bertajuk Playground of Sunda Kelapa: “The Last Oplet on Earth”.
Pagelaran megah ini sukses diselenggarakan di Ciputra Artpreneur Jakarta pada Sabtu, 6 Juni 2026.
BACA JUGA:
- Libatkan Lebih dari 2.000 Peserta Didik, Sekolah Cikal Pentas Teater Musikal Playground of Nusa Nipa
- Mengenal The Playground of Cikal dan Playground of Samudra Pasai di Tahun 2024
- The Dragon’s Tale: Rumah Main and Sekolah Cikal Serpong Celebrate Flores Heritage
Pentas seni ini menjadi ruang selebrasi pembelajaran murid yang memadukan keindahan seni pertunjukan modern dengan kekayaan seni dan kebudayaan tradisional Indonesia.
“The Last Oplet on Earth“: Harmoni Tradisi dan Teknologi
Pertunjukan “The Last Oplet on Earth” mengisahkan perjalanan seorang murid SMP yang penuh rasa ingin tahu. Ia tidak sengaja menemukan oplet tua milik kakeknya, sebuah peninggalan berharga dari masa lalu yang sarat akan cerita sejarah, lantunan pantun khas, dan irama musik keroncong yang mendalam.
Bersama sahabat-sahabatnya, ia menyulap oplet kuno tersebut menjadi museum berjalan sekaligus ruang bermain bergerak. Mereka memulai sebuah kampanye sosial mengenai pentingnya kebersamaan yang tulus tanpa distraksi digital.

Namun, perjuangan mereka tidaklah instan. Di tengah jalan, mereka harus menghadapi tekanan sosial, kuatnya godaan teknologi, serta konflik internal dengan teman-teman yang memiliki sudut pandang berbeda.
Oplet terakhir ini bertransformasi menjadi simbol kuat tentang arah hidup yang bisa dipilih, menegaskan bahwa perjalanan hidup tidak harus selalu serba cepat untuk menjadi sesuatu yang berarti. Ini adalah sebuah kisah mendalam tentang teknologi, tradisi, dan kebersamaan yang tak boleh padam meski roda zaman terus bergerak maju.
Makna Filosofis di Balik Tajuk “Playground of Sunda Kelapa”
Setiap tahunnya, Playground of Cikal konsisten merayakan hasil belajar murid lewat integrasi budaya nusantara. Pada tahun 2026 ini, fokus utama diarahkan pada eksotisme budaya Betawi melalui sub-tema “Playground of Sunda Kelapa”.
Tari Sandjojo selaku Head of School Cikal, mengungkapkan bahwa pemilihan nama Sunda Kelapa terinspirasi langsung dari historiografi Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai salah satu pelabuhan tertua dan paling krusial di Nusantara.
Di masa lampau, pelabuhan ini dikuasai oleh Kerajaan Tarumanegara sebelum beralih ke Kerajaan Sunda, dengan kelapa sebagai komoditas utamanya.
Lebih dari sekadar tempat perdagangan, pelabuhan ini merupakan ruang temu peradaban. Di sinilah esensi interaksi manusia terbentuk dari keragaman budaya yang kaya, jauh sebelum era internet dan jaringan digital menyentuh Pulau Jawa.
Pesan Moral Playground of Sunda Kelapa
Keunikan utama dari Playground of Sunda Kelapa tahun ini terletak pada pesan moral yang disisipkan di dalam alur cerita.
Pentas seni ini mengajak penonton untuk merefleksikan kembali esensi kehidupan offline dan pentingnya untuk benar-benar “hadir” secara utuh di dunia nyata tanpa ketergantungan pada gawai (gadget).
Pesan edukatif ini selaras dengan inisiatif internal yang sedang digalakkan oleh Sekolah Cikal, yaitu gerakan Unplugged.
Melalui program ini, para murid dibiasakan untuk membatasi ketergantungan pada gawai dalam aktivitas sehari-hari, sekaligus mendorong mereka untuk memperbanyak interaksi sosial yang nyata, hangat, dan bermakna satu sama lain.
Melalui seni, Sekolah Cikal membuktikan bahwa esensi terdalam dari hubungan manusia adalah ketika kita bisa benar-benar hadir untuk satu sama lain.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply