IHSG Anjlok Dolar Tembus Rp18.000, Menkeu Purbaya Pede Tak Perlu Intervensi

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment


The Path To Financial Freedom, EduFulus – Kondisi pasar keuangan domestik tengah mengalami tekanan hebat dalam beberapa waktu terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak di zona merah hingga terjun bebas ke bawah level 6.000.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau melemah signifikan hingga dolar AS menyentuh angka psikologis baru di atas Rp18.000.

Menanggapi gejolak ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara. Alih-alih menyiapkan langkah darurat, pemerintah menegaskan tidak akan melakukan intervensi khusus untuk mengintervensi pasar saham.

SIMAK JUGA: Rupiah Anjlok Terus! 5 Tanda Krisis Nyata di Depan Mata!

Menkeu optimistis bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang kokoh akan menjadi penyelamat alami bagi pasar modal.

IHSG Ambruk ke Level 5.700, Tergerus Isu Negatif

Berdasarkan data kompilasi dari Refinitiv dan RTI Business per Kamis (4/6/2026), IHSG tercatat telah mengalami koreksi tajam hingga 33,60% sejak awal tahun (year-to-date/ytd). Bahkan dalam satu bulan terakhir saja, indeks saham Garuda sudah melemah sebesar 19,15%.

Pada perdagangan sesi I Kamis (4/6), IHSG sempat anjlok lebih dari 5% sebelum akhirnya ditutup melemah 3,48% ke level 5.734,25. Tekanan jual yang masif membuat ratusan saham berguguran di zona merah.

Menurut Menkeu Purbaya, kejatuhan IHSG saat ini bukan mencerminkan kondisi riil ekonomi nasional yang memburuk. Ia menilai penurunan tajam ini lebih dipicu oleh kepanikan pasar akibat banyaknya rumor negatif di dalam negeri, salah satunya isu mengenai rencana lembaga pemeringkat internasional, Standard & Poor’s (S&P), yang disebut-sebut bakal menurunkan (downgrade) peringkat kredit Indonesia.

“Banyak isu-isu negatif, cuma kita sendiri yang jatuh sama China kalau enggak salah. Jadi saya pikir banyak rumor di dalam negeri. Yang pasti ketika S&P datang ke sini, ada rumor S&P akan men-downgrade. Padahal saya baru mau ketemu nanti malam,” jelas Purbaya di Kompleks DPR RI Senayan, Jakarta.

Menkeu Purbaya: Fondasi Ekonomi Bagus, Tak Perlu Intervensi

Meskipun pasar saham terus diguyur aksi jual, Menkeu Purbaya memastikan pemerintah tidak akan melakukan intervensi khusus terhadap pergerakan pasar saham. Mantan Ketua Dewan Komisioner LPS ini mengimbau para investor untuk kembali melihat data fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya masih berada dalam jalur pertumbuhan yang positif.

“Kalau dari saya sih enggak ada (intervensi). Yang penting saya jelaskan bahwa kondisi ekonomi kita bagus dan akan membaik terus. Itu harusnya menjadi landasan ke penilaian harga saham,” tegas Purbaya.

Sebagai bukti nyata bahwa sektor riil dan korporasi masih tumbuh sehat, Purbaya mencontohkan kinerja cemerlang dari salah satu bank pelat merah terbesar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Pertumbuhan Kredit BRI: Meningkat di atas 13%.

Pertumbuhan Profitabilitas: Tumbuh lebih dari 13%.

Kinerja perbankan yang solid ini menjadi indikator kuat bahwa aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha masih bergerak ekspansif.

Indikator Makroekonomi RI yang Tetap Solid

Optimisme pemerintah juga didukung oleh sejumlah data makroekonomi per kuartal II-2026 yang menunjukkan performa yang resilien:Inflasi Terjaga: Inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08% secara tahunan (year-on-year/yoy), masih berada di dalam rentang target sasaran Bank Indonesia, yaitu $2,5\% \pm 1\%$.

Penerimaan Pajak Kuat: Per 30 April 2026, penerimaan pajak kantong negara berhasil mencapai Rp646,3 triliun, alias tumbuh 16,1% (yoy).Purbaya menilai bahwa gejolak yang menimpa IHSG saat ini hanyalah sentimen negatif jangka pendek yang didominasi oleh faktor psikologis pasar.

DPR Desak Konsolidasi Fiskal-Moneter Akibat Rupiah Tembus Rp18.000

Di sisi lain, tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Pasar valuta asing juga bergejolak hebat setelah mata uang dolar AS sukses menembus level Rp18.000. Berdasarkan data Investing dan Bloomberg, dolar AS sempat bertengger di kisaran Rp17.966 hingga Rp18.015.

Melihat situasi ini, Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal meminta pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam. DPR mendesak adanya koordinasi ketat untuk meredam fluktuasi nilai tukar yang berpotensi membebani perekonomian.

“DPR merekomendasikan kepada pemerintah, terutama Kementerian Keuangan ya, untuk segera melakukan konsolidasi fiskal moneter dengan Bank Indonesia,” ujar Cucun dalam konferensi pers di DPR.

Cucun juga mengingatkan bahwa pemerintah kini memiliki instrumen baru melalui UU P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan) yang baru saja disahkan. Regulasi ini memberikan keleluasaan bagi pemerintah dan otoritas keuangan untuk melahirkan berbagai skema kreatif guna menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah.

Meskipun terdapat perbedaan pandangan antara respons legislatif yang meminta aksi nyata dan optimisme eksekutif terhadap kekuatan fundamental ekonomi, pasar kini menanti langkah strategis selanjutnya dari Kemenkeu dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas stabilitas sistem keuangan nasional ke depan.

* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*