Geger! Ratusan Prodi Kampus Ditutup, Ini Faktanya!

Ilustrasi: Pilih Jurusan Kuliah
Ilustrasi: Pilih Jurusan Kuliah
Sharing for Empowerment

Sebanyak 122 program studi di berbagai kampus mendadak lenyap sepanjang 2026! Apakah ini tanda krisis atau justru era baru?

JAKARTA, KalderaNews.com – Isu mengenai penutupan massal ratusan program studi (prodi) di berbagai perguruan tinggi tanah air akhirnya menemui titik terang.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto angkat bicara untuk meluruskan kegaduhan tersebut.

Brian membenarkan bahwa sepanjang tahun 2026 berjalan, tercatat sudah ada 122 prodi yang resmi ditutup.

BACA JUGA:

Namun, ia menggarisbawahi bahwa fenomena ini bukanlah kebijakan sepihak atau pemaksaan dari kementerian.

“Seluruh penutupan itu adalah berdasarkan usulan dari badan penyelenggara baik PTN maupun PTS. Hal tersebut tidak menjadi kebijakan kami,” tegas Brian.

Bukan lenyap, tapi “ganti baju”

Menurut Brian, alih-alih dihilangkan, prodi-prodi tersebut sebenarnya sedang mengalami metamorfosis substansi pengajaran agar menjadi lebih memikat (atraktif) dan mampu menjaring mahasiswa baru.

Langkah ini diambil untuk menyelamatkan prodi yang mulai sepi peminat.

Ia mencontohkan bagaimana jurusan Teknik Elektro kini bersalin rupa menjadi prodi berbasis Artificial Intelligence (AI), Machine Learning, hingga Robotics.

Begitu pula dengan jurusan Matematika murni yang banyak bertransformasi menjadi bidang Aktuaria demi memenuhi lonjakan kebutuhan industri finansial.

Evaluasi ketat 3 tahunan

Agar kampus tidak mencetak lulusan yang menganggur, Kemendiktisaintek kini mewajibkan Badan Kerja Program Studi melakukan evaluasi kurikulum secara berkala setiap 3 hingga 4 tahun.

Evaluasi ini penting untuk menentukan apakah sebuah kurikulum masih perlu mempertahankan teori fundamental atau harus bergeser ke arah yang lebih aplikatif.

Brian menegaskan kementeriannya hanya akan mengeksekusi penutupan prodi berdasarkan dua hal: usulan mandiri dari pihak kampus atau sanksi mutlak akibat pelanggaran berat.

Babat prodi “usang”

Langkah restrukturisasi ini sejalan dengan sinyal yang sempat dilemparkan Sekretaris Jenderal Kemendikti Saintek, Badri Munir Sukoco, dalam Simposium Nasional Kependudukan pada April lalu.

Badri mengungkapkan bahwa pemerintah memang tengah menyortir prodi-prodi yang dinilai tidak relevan dengan masa depan.

Kombinasi antara usulan mandiri kampus dan kajian kementerian ini menjadi strategi krusial untuk mendongkrak daya saing sarjana Indonesia.

Di tengah gempuran tren global, industri saat ini jauh lebih melirik talenta yang menguasai teknologi masa depan seperti green energy, data sains, dan bioteknologi dibandingkan jurusan konvensional yang tidak adaptif.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*