
Mengapa kemiskinan ekstrem masih menjerat Burundi hingga Sudan Selatan? Intip 10 negara termiskin di dunia versi Global Finance.
JAKARTA, KalderaNews.com – Bumi sesungguhnya menyimpan kelimpahan yang cukup untuk menopang kehidupan seluruh penghuninya dengan layak. Namun, di sudut-sudut wilayah yang kerap luput dari gemerlap pembangunan global, kemiskinan ekstrem masih menancapkan kukunya begitu dalam.
Negara-negara seperti Burundi, Republik Afrika Tengah, hingga Sudan Selatan menjadi cermin retak dari ketimpangan dunia, tempat di mana jutaan jiwa harus bertaruh nasib setiap hari di tengah keterbatasan pangan, air bersih, dan kepastian masa depan.
Kemiskinan yang menjerat negara-negara rapuh ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari jalinan kelam yang saling mengunci. Jejak sejarah kolonialisme yang membekas, gejolak politik, korupsi yang merogoh kas negara, serta konflik bersenjata berkepanjangan terus menggerogoti fondasi bangsa.
BACA JUGA:
- Hasil Studi: Ternyata, Pelajar yang Kuliah di Luar Negeri Dapat Mengurangi Kemiskinan di Negaranya Lho!
- Kemiskinan Ekstrem Indonesia Turun Drastis dari 19 Persen pada 2002 Jadi 1,5 Persen pada 2022
- Duh, Tingkat Kemiskinan Ekstrem di Jakarta Masih Tinggi, Yakin Bisa Nol persen pada 2024?
Ketika perang melenyapkan sarana publik dan korupsi melumpuhkan tata kelola, harapan untuk membangun sistem pendidikan serta kesehatan yang memadai runtuh begitu saja.
Kondisi tersebut kian terdorong ke titik nadir tatkala badai krisis global datang bertubi-tubi. Mulai dari guncangan pascapandemi, lonjakan inflasi, hingga disrupsi rantai pasok pangan akibat konflik geopolitik internasional, populasi rentan menjadi pihak yang paling awal menanggung dampaknya.
Situasi semakin diperparah oleh iklim yang kian ekstrem, seperti kekeringan panjang dan banjir bandang serta kebijakan pemangkasan bantuan internasional yang mencekik jaring pengaman sosial.
Kini, data memperlihatkan jurang pemisah antara negara kaya dan miskin yang terbentang makin menganga. Ketimpangan daya beli yang amat mencolok hanyalah muara dari beban utang menumpuk dan suku bunga mencekik yang terus mengurung negara-negara ini dalam jerat siklus kemiskinan.
Tanpa intervensi global yang nyata dan berkeadilan, ancaman perubahan iklim hingga kesenjangan akses teknologi masa depan dipastikan akan makin mengasingkan mereka dari peta kesejahteraan dunia.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis Global Finance, jurang kesenjangan antara negara kaya dan miskin kini kian menganga. Laporan International Monetary Fund (IMF) mencatat ketimpangan ini terlihat mencolok dari Paritas Daya Beli (PPP).
Rata-rata daya beli per kapita tahunan di 10 negara terkaya mencapai lebih dari US$ 121.000, sementara di 10 negara termiskin hanya berkisar US$ 1.700.
Faktor Pemicu Kemiskinan Sistemik Global
Kemiskinan ekstrem tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipicu oleh siklus masalah struktural dan krisis global yang saling berkaitan:
- Konflik & Warisan Kolonialisme: Jejak perpecahan sejarah, perang saudara, hingga gejolak politik merusak stabilitas internal.
- Korupsi & Kegagalan Tata Kelola: Tata kelola pemerintahan yang buruk dan korupsi merajalela mengikis kepercayaan publik serta menahan optimalisasi potensi alam.
- Beban Utang & Suku Bunga: Krisis utang publik serta suku bunga tinggi menghambat investasi negara pada sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
- Krisis Iklim & Bencana Alam: Kerentanan terhadap kekeringan, banjir, dan badai merusak sektor pertanian yang menjadi tumpuan hidup masyarakat.
- Dampak Krisis Global & Pemangkasan Bantuan: Inflasi tinggi, gangguan rantai pasok pangan global, serta pemangkasan bantuan internasional (seperti kebijakan penghentian USAID oleh AS) makin memperburuk jaring pengaman sosial.
Daftar 10 Negara Termiskin di Dunia
Berikut adalah peringkat 10 negara termiskin di dunia beserta tantangan utama yang dihadapinya:
| Peringkat | Negara | Faktor Utama Pemicu Kemiskinan |
| 1 | Burundi | Ketergantungan pada pertanian subsisten, dampak perang saudara, serta inflasi yang sempat melonjak tinggi. |
| 2 | Republik Afrika Tengah | Konflik bersenjata berkepanjangan, intervensi militer asing, dan “kutukan sumber daya” meski kaya emas dan berlian. |
| 3 | Sudan Selatan | Konflik internal pascakemerdekaan, gangguan jaringan pipa ekspor minyak, dan 90% populasi di bawah garis kemiskinan. |
| 4 | Yaman | Perang saudara sejak 2014, hilangnya infrastruktur kritis, serta krisis kemanusiaan parah akibat blokade jalur laut. |
| 5 | Mozambik | Serangan kelompok pemberontak di wilayah kaya gas, gejolak politik pascapemilu, dan kontraksi ekonomi. |
| 6 | Malawi | Kerentanan terhadap cuaca ekstrem, tingkat utang publik mendekati 91% dari PDB, serta tingginya angka inflasi. |
| 7 | Somalia | Tingginya ancaman kelompok pemberontak Al-Shabaab, krisis iklim parah, serta kebutuhan bantuan kemanusiaan massal. |
| 8 | Liberia | Pertumbuhan ekonomi yang lambat pasca-perang, tingginya pengangguran, serta ketergantungan pada komoditas ekspor. |
| 9 | Madagaskar | Tingginya angka kemiskinan (75%), kerentanan bencana alam siklon/kekeringan, serta gejolak kudeta militer. |
| 10 | Republik Demokratik Kongo | Konflik bersenjata M23 dan korupsi merajalela, meski memegang cadangan kobalt dan tembaga terbesar. |
Tantangan Baru: Perubahan Iklim dan Ketimpangan Teknologi
IMF mengingatkan bahwa masa depan negara-negara rentan ini akan semakin berat dengan munculnya bentuk ketimpangan baru. Selain ancaman perubahan iklim yang kian ekstrem, ketimpangan akses terhadap teknologi masa depan seperti Kecerdasan Buatan (AI) berisiko makin memperlebar jarak pembangunan antara negara maju dan negara berkembang.
Tanpa adanya reformasi tata kelola, penghapusan beban utang, serta bantuan internasional yang terarah, siklus kemiskinan di negara-negara rapuh ini diprediksi akan terus berulang.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply