
Perangkat teleskop radio BRIN digunakan menangkap gelombang radio Matahari guna mendukung data layanan cuaca antariksa nasional.
JAKARTA, KalderaNews.com – Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat infrastruktur dan riset keantariksaan nasional. Melalui partisipasi pada The 46th COSPAR Scientific Assembly 2026 di Florence, Italia (1–9 Agustus 2026), BRIN memaparkan inovasi pengembangan teleskop radio yang difungsikan untuk menangkap gelombang radio Matahari secara real-time.
BACA JUGA:
- Rekor Baru Astronomi! Teleskop Luar Angkasa James Webb Temukan Galaksi Paling Jauh, Cahaya Tempuh 13 Miliar Tahun
- Teleskop Optik Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kupang, NTT
- Indonesia Sedang Bangun Teleskop Canggih di Kupang Timur, Serupa Teleskop Seimei yang Ada di Okayama Milik Universitas Kyoto
Perangkat tersebut digunakan untuk menangkap gelombang radio yang dipancarkan Matahari dan menghasilkan data yang dapat menjadi masukan bagi layanan cuaca antariksa yang diberikan Pusat Riset Antariksa. Inovasi ini memegang peranan krusial mengingat aktivitas dinamika Matahari berpengaruh langsung terhadap teknologi satelit, navigasi, hingga komunikasi di Bumi.
Spesifikasi dan Cara Kerja Perangkat Teleskop Radio BRIN
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa BRIN, Peberlin Sitompul, menjelaskan bahwa instrumen ini dibangun di Observatorium Nasional Timau, Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Teleskop radio ini beroperasi menggunakan penerima radio Callisto dan dilengkapi antena log-periodik yang bekerja pada rentang frekuensi 45–870 MHz.
Spesifikasi dan Aplikasi Teknologi Teleskop Radio BRIN Timau
- Sistem Penerima: Receiver Callisto & Antena Log-Periodik (Frekuensi 45–870 MHz) untuk menangkap ledakan radio Matahari (Solar Bursts).
- Fungsi Utama: Menyediakan pasokan data primer bagi Layanan Cuaca Antariksa Pusat Riset Antariksa BRIN.
- Integrasi Kawasan: Melengkapi fasilitas Teleskop Optik 3,8 meter di Observatorium Nasional Timau, Kupang.
- Pengembangan Lanjutan: Rencana Parabola 20 meter (1–50 GHz) & Radar Pasif Pendeteksi Sampah Antariksa (Target Operasional 2028).
Data tangkapan gelombang radio dari instrumen ini menjadi dasar analisis fenomena Solar Radio Bursts (ledakan radio Matahari). Informasi tersebut sangat dibutuhkan untuk memprediksi gangguan badai radiasi maupun disrupsi ionosfer yang dapat memengaruhi infrastruktur teknologi berbasis ruang angkasa.
Fondasi Pengembangan Teleskop Raksasa dan Deteksi Sampah Antariksa
Pengoperasian teleskop radio frekuensi 45–870 MHz di Obnas Timau ini sekaligus menjadi batu loncatan bagi BRIN untuk membangun instrumen keantariksaan berkemampuan lebih besar.
Ke depan, BRIN merencanakan pembangunan teleskop radio dengan antena parabola berdiameter 20 meter yang beroperasi pada frekuensi 1–50 GHz.
Instrumen berkapasitas besar ini dirancang untuk meneliti spektral garis hidrogen (1,4 GHz), metanol (6,6 GHz), hingga uap air (22,2 GHz) di alam semesta.
Pengembangan Radar Pasif Pemantau Sampah Antariksa
Selain untuk pemantauan Matahari, sistem penerima radio ini dikembangkan menjadi radar pasif berbasis Lime-SDR untuk melacak keberadaan benda atau sampah antariksa (space debris) pada ketinggian 20–200 km dari permukaan Bumi.
- Kolaborasi Multidisiplin: Riset radar pasif ini melibatkan akademisi dari Universitas Telkom, Universitas Bina Nusantara, dan Universitas Pertahanan RI.
- Target Operasional: Konfigurasi 4–5 antena buatan dalam negeri di tiga lokasi berbeda ditargetkan berfungsi penuh memantau posisi sampah antariksa pada akhir tahun 2028.
- Efisiensi Biaya: Penggunaan radar pasif menjadi solusi ekonomis untuk mengawasi objek melayang di atas wilayah perbatasan antariksa Indonesia.
Kiprah Riset Keantariksaan Indonesia di Panggung Dunia
Dalam ajang forum COSPAR 2026 yang dihadiri lebih dari 3.000 peneliti dari 72 negara tersebut, Indonesia tidak hanya memamerkan riset teleskop radio Matahari, tetapi juga membagikan rekam jejak pengembangan satelit nasional (LAPAN A1, A2, A3, serta rencana A4/NEO-1 dan A5).
Melalui penjajakan kerja sama internasional bersama lembaga dunia seperti Korean VLBI Network (Korea Selatan) dan The Square Kilometre Array Observatory (Inggris), Indonesia menegaskan kesiapan untuk bertransformasi dari sekadar pengguna teknologi menjadi kontributor aktif pengetahuan keantariksaan global.
Bahkan, Indonesia berpeluang menjadi tuan rumah penyelenggaraan Simposium COSPAR pada tahun 2031 mendatang.
Pemanfaatan instrumen teleskop radio penerima gelombang Matahari di Observatorium Nasional Timau menjadi bukti nyata penguatan kemandirian sains Indonesia.
Pasokan data dari perangkat ini tidak hanya memperkokoh akurasi layanan cuaca antariksa nasional, tetapi juga membuka jalan bagi penguasaan teknologi pemantauan sampah antariksa serta riset astronomi tingkat tinggi di masa depan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply