
LPEM FEB UI catat 8 juta sarjana kerja di bawah spek. Simak 5 jurusan S1 penyumbang pengangguran terbesar di Indonesia!
JAKARTA, KalderaNews.com – Fenomena ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dan dunia kerja (educational mismatch) kini menjadi tantangan serius bagi perekonomian Indonesia.
Laporan terbaru LPEM FEB UI (Labor Market Brief Vol. 7, No. 7, Juli 2026) bertajuk “Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?” mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 8 juta lulusan sarjana (S1) di Indonesia yang bekerja di bawah tingkat pendidikan mereka (underemployed).
BACA JUGA:
- Gaji Lulusannya Capai 2 Digit, Inilah 30 Jurusan Kuliah untuk SNBT 2026 yang Bisa Kamu Pilih!
- Mau Cepat Kaya? Cek 10 Jurusan Kuliah yang Lulusannya Punya Gaji Tembus Rp1,9 Miliar!
- 10 Jurusan Kuliah yang Paling Disesali Lulusannya, Kamu Masih Berani Pilih?
Penelitian yang disusun oleh ekonom Muhammad Hanri, Ph.D. dan Nia Kurnia Sholihah, M.D. berbasis data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 ini memberikan gambaran kritis mengenai arah kebijakan pendidikan tinggi dan ketersediaan lapangan kerja berkualitas di tanah air.
Alarm Penting bagi Pendirian Perguruan Tinggi Baru
Di tengah rencana pemerintah mendirikan perguruan tinggi anyar seperti Universitas Republik Indonesia (URI), temuan LPEM FEB UI menjadi masukan strategis.
Penambahan kapasitas pendidikan tinggi yang tidak diimbangi dengan perencanaan kebutuhan ekonomi berisiko memperlebar jurang antara jumlah kelulusan dan ketersediaan lapangan kerja yang relevan.
Poin Kunci:
Pertumbuhan tenaga kerja terdidik saat ini tercatat lebih cepat dibandingkan penciptaan lapangan kerja profesional berketerampilan tinggi (high-skilled jobs).
Tanpa keterkaitan (link and match) yang kuat antara kurikulum kampus dan kebutuhan industri, ekspansi universitas hanya akan menambah pasokan lulusan tanpa memperbesar peluang penyerapan kerja.
Para peneliti menekankan bahwa perencanaan universitas baru, seperti URI, tidak boleh sekadar membuka program studi yang populer atau mudah didirikan, melainkan harus mempertimbangkan:
- Kompetensi langka yang belum tersedia di pasar kerja.
- Kebutuhan spesifik wilayah atau sektor industri yang belum terlayani.
- Kejelasan posisi lulusan dalam struktur pasar kerja nasional.
5 Bidang Studi dengan Porsi Pengangguran S1 Tertinggi
Berdasarkan analisis LPEM FEB UI, terdapat lima jurusan yang secara akumulatif menyumbang sekitar 40% dari total pengangguran berpendidikan minimal S1 di Indonesia:
| No | Bidang Studi / Jurusan | Porsi dari Total Pengangguran S1 |
| 1 | Manajemen | 10,3% |
| 2 | Hukum | 9,0% |
| 3 | Ekonomi | 8,7% |
| 4 | Pendidikan | 7,1% |
| 5 | Akuntansi | 5,1% |
Mengapa Jurusan Populer Menyumbang Pengangguran Tinggi?
- Cakupan Luas & Jumlah Lulusan BesarJurusan seperti Manajemen, Hukum, dan Ekonomi memiliki basis mahasiswa yang sangat besar. Luasnya pilihan karier tidak serta-merta mempermudah proses masuk ke dunia kerja. Pada jenjang entry-level, lulusan rumpun bisnis harus bersaing ketat tidak hanya dengan sesama lulusan bisnis, tetapi juga dengan lulusan lintas disiplin (seperti ilmu komunikasi atau humaniora).
- Dinamika Rekrutmen Sektor PendidikanUntuk bidang studi Pendidikan, proses penyerapan tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh kebijakan rekrutmen guru, ketersediaan formasi daerah, persyarat sertifikasi profesi, dan regulasi pemerintah setempat.
- Tantangan Cepatnya Perubahan Industri DigitalTemuan menarik lainnya menunjukkan bidang Ilmu Komputer/Informatika menyumbang 4,6% di antara pengangguran S1. Meski kerap dianggap sebagai jurusan paling prospektif, disrupsi teknologi yang cepat, perbedaan mutu antar-kampus, serta ketidaksesuaian (gap) antara keterampilan praktis mahasiswa dengan spesifikasi teknologi yang digunakan perusahaan menjadi pemicu utamanya.
Persentase di atas mencerminkan proporsi porsi bidang studi dalam populasi penganggur S1, bukan tingkat pengangguran (unemployment rate) dari masing-masing jurusan.
Data ini menunjukkan besarnya jumlah absolut lulusan dari jurusan tersebut, sehingga tidak bisa langsung disimpulkan bahwa jurusan Manajemen atau Pendidikan memiliki risiko kerja paling buruk.
Rekomendasi Kebijakan: Perluasan Pendidikan Tinggi Harus Terarah
LPEM FEB UI menegaskan bahwa solusi atas persoalan ini bukan membatasi akses pendidikan tinggi, melainkan mengarahkan perluasannya secara presisi.
3 Langkah Strategis yang Direkomendasikan:
- Penguatan Mutu Kampus Eksisting: Dibandingkan sekadar menambah kuantitas universitas baru, peningkatan kualitas kurikulum dan fasilitas perguruan tinggi yang sudah ada harus menjadi prioritas.
- Integrasi Kurikulum & Industri: Membangun kemitraan nyata antara lembaga pendidikan tinggi dan dunia usaha untuk memperkecil skill mismatch.
- Stimulus Penciptaan Lapangan Kerja Berketerampilan Tinggi: Pemerintah perlu mendorong pertumbuhan industri bernilai tambah tinggi yang mampu menyerap tenaga kerja terdidik dengan standar upah yang layak.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply