Heboh! Ratusan Siswa SMAN 1 Jonggat Demo, Soroti Fasilitas Sekolah

Ratusan siswa SMAN 1 Jonggat Lombok Tengah protes fasilitas sekolah. (Kalderanews.com/Facebook
Sharing for Empowerment

Ratusan siswa SMAN 1 Jonggat Lombok Tengah protes fasilitas sekolah. Simak sembilan tuntutan siswa dan respons kepala sekolah.

NTB, KalderaNews.com– Ratusan siswa SMAN 1 Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggelar aksi protes terhadap kondisi sejumlah fasilitas sekolah yang dinilai belum memadai.

Aksi tersebut berlangsung di lapangan sekolah setelah upacara bendera pada Senin (10/8/2026) dan sempat berujung kericuhan.

Sejumlah fasilitas menjadi sorotan siswa, mulai dari kamar mandi, musala, hingga kipas angin di ruang kelas yang disebut tidak berfungsi. Keluhan tersebut kemudian disampaikan melalui pernyataan sikap yang beredar di media sosial.

Dalam pernyataan bertajuk “AKSI REVOLUSI SMANJA”, siswa menyampaikan sembilan poin persoalan yang mereka anggap perlu segera mendapat perhatian.

BACA JUGA:

Sembilan Tuntutan Siswa SMAN 1 Jonggat

Poin pertama berkaitan dengan ketersediaan buku paket. Siswa mengaku harus menggunakan buku secara bergantian sejak duduk di kelas X. Satu buku disebut digunakan oleh beberapa siswa sehingga mereka meminta ketersediaan buku yang lebih memadai.

Kedua, siswa menyoroti kondisi fasilitas ruang kelas yang dinilai rusak dan belum mendapatkan perbaikan. Mereka menyebut sejumlah kursi, pintu, jendela kaca, hingga lubang ventilasi berada dalam kondisi yang kurang layak.

Siswa juga menyinggung kondisi ruang kelas yang dinilai membahayakan. Mereka mengeluhkan plafon berlubang dan atap yang bocor ketika hujan. Dalam pernyataan tersebut, siswa turut membandingkan kondisi tersebut dengan pengadaan sejumlah fasilitas yang menurut mereka lebih mengutamakan aspek estetika.

Poin berikutnya menyangkut kelistrikan. Siswa menyebut terdapat ruang kelas yang tidak memiliki aliran listrik memadai. Mereka juga mengeluhkan listrik yang kerap mengalami gangguan ketika digunakan untuk perangkat pembelajaran seperti LCD serta kondisi kabel yang dinilai tidak tertata.

Tuntutan kelima berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler. Siswa menilai sejumlah kegiatan ekstrakurikuler belum memperoleh pembinaan dan dukungan yang memadai. Bahkan, mereka mengaku harus menggunakan uang pribadi untuk mendukung kegiatan dan mengikuti kompetisi di luar sekolah.

Siswa juga menyatakan penolakan terhadap rencana pembubaran ekstrakurikuler olahraga. Mereka menyinggung pernyataan Wakasek Kurikulum, Arpan, S.Pd., yang disebut mengancam pembubaran kegiatan olahraga dengan alasan tidak adanya SPP.

Selanjutnya, siswa mempersoalkan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. Mereka menyebut fasilitas bank sampah yang berada di belakang sekolah tidak dimanfaatkan secara optimal dan menuding sampah justru ditumpuk di area fondasi musala.

Persoalan kedelapan berkaitan dengan kedisiplinan. Siswa menilai terdapat ketidakseimbangan dalam penerapan aturan antara siswa dan pihak sekolah. Mereka mengkritik kedatangan kepala sekolah yang disebut kerap tidak sesuai dengan waktu yang diharapkan.

Pada tuntutan terakhir, siswa meminta adanya perubahan terhadap kondisi sekolah yang mereka nilai selama ini belum sesuai harapan.

Mereka kemudian menyampaikan tuntutan utama agar Kepala SMAN 1 Jonggat Mazhab, S.Pd., mengundurkan diri atau diberhentikan dari jabatannya. Tuntutan tersebut disampaikan sebagai bentuk kekecewaan siswa terhadap kepemimpinan di sekolah.

Siswa Keluhkan Kamar Mandi hingga WiFi

Selain tuntutan yang beredar di media sosial, sejumlah siswa juga menyampaikan keluhan mengenai fasilitas sekolah.

“Kamar mandi dan musala sampai sekarang tidak jadi-jadi. Di kelas juga ada yang tidak memiliki lampu, sementara kipas angin ada tetapi hanya jadi pajangan karena tidak berfungsi,” ujar salah seorang siswa yang enggan disebut namanya, Senin siang.

Para siswa juga mempertanyakan keberadaan fasilitas WiFi sekolah yang dinilai belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Mereka menyebut tidak memperoleh informasi mengenai akses jaringan tersebut.

“WiFi juga katanya ada, tetapi tidak bisa kami gunakan. User dan password-nya juga tidak diberikan kepada siswa,” keluhnya.

Para siswa berharap fasilitas yang dinilai belum memadai tersebut segera diperbaiki dan dapat digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar.

Kepala Sekolah Sebut Perbaikan Sudah Ditindaklanjuti

Kepala SMAN 1 Jonggat Mazhab merespons aksi protes yang dilakukan para siswa. Ia mengatakan berbagai tuntutan terkait fasilitas sekolah telah ditindaklanjuti.

Mazhab menjelaskan, dalam dua tahun terakhir sekolah yang dipimpinnya tidak memperoleh anggaran pemerintah untuk melakukan perbaikan. Namun, menurutnya, sekolah pada 2026 mendapat bantuan untuk program revitalisasi.

“Ini usulan (perbaikan fasilitas) sudah dari tahun 2024. Tahun 2026 ini Alhamdulillah dapat,” kata Mazhab.

Ia menjelaskan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) memiliki batas penggunaan dan tidak dapat digunakan untuk memperbaiki bangunan dengan tingkat kerusakan sedang maupun berat.

“BOS itu bukan untuk rehab kerusakan berat dan sedang. Dia hanya boleh kerusakan ringan. Kalau sudah masuk kerusakan sedang, apalagi berat, nggak boleh disentuh oleh dana BOS. Yang boleh hanya pemerintah,” ujarnya.

Menurut Mazhab, beberapa fasilitas yang menjadi sorotan siswa saat ini sudah masuk dalam proses rehabilitasi. Ia mencontohkan revitalisasi bangunan di lantai dasar dan lantai dua yang telah dilakukan.

Mengenai tuntutan terkait kegiatan ekstrakurikuler dan kompetisi, Mazhab menegaskan sekolah tetap memberikan dukungan kepada siswa yang mengikuti perlombaan.

Ia mengatakan siswa yang mengikuti kompetisi tetap menjadi salah satu prioritas sekolah selama mengikuti ketentuan yang berlaku.

Komentar Warganet soal Aksi Siswa SMAN 1 Jonggat

Aksi siswa tersebut turut mendapat beragam tanggapan dari warganet di media sosial. Sejumlah komentar menyoroti gaya bahasa dalam pernyataan tuntutan siswa, sementara lainnya mempertanyakan adanya pihak yang diduga berada di balik aksi tersebut.

Akun Facebook Wie Guide menyoroti gaya bahasa yang digunakan dalam pernyataan siswa.

“Siapa yg bikin kan anak anak ini narasi, bahasa nya tertata dengan rapi, sopan dan dewasa banget, setau saya anak anak jaman sekarang jarang ada yg bisa membuat kalimat atau berbicara dengan bahasa yg baik dan benar, yg ada tu kebanyakan menye menyeeeee, terdengar dewasa itu ketika mereka berbicara tentang perasaan ke lawan jenis, udah itu aja sih”

Sementara itu, Murdin Din mempertanyakan kemungkinan adanya pihak lain yang berada di belakang aksi para siswa.

“Jangan² ada orang² yang dibelakng Meraka…cz tanpa ada orang dibelakang siswa TDK akan berani seperti ini, suatu saat pasti muncul diberita siapa dalang dibalik layar”

Komentar lain disampaikan Maqbul Makbuludin yang mempertanyakan apakah pernyataan tersebut berasal dari alumni atau siswa yang masih bersekolah.

“Ini suara alumni atau siswa sekarang.

Ya Allah jika menjadi Kepsek saat mudharat bagi dunia dan akhirat kami, cukupkan ya Allah.

Tapi jika masih ada manfaatnya untuk kebaikan kami kuatkan kami ya Allah dan kami berlindung pada-Mu dari segala fitnah.

Amiin.”

Adapun Iskandar Zulkarnain memberikan tanggapan yang cenderung mendukung tuntutan siswa terkait fasilitas sekolah.

“Kalau saya jadi kepseknya, akan aku kabulkan 10 permintaan… supaya anak2 nyaman belajarnya..dan betah disekolah.”

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


136 views