Guru Besar UGM soroti 10,67 juta pencari kerja dan ancaman pengangguran yang bikin utang pinjol tembus Rp105 triliun.
YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Indonesia tengah menghadapi alarm bahaya terkait kondisi ketenagakerjaan.
Lonjakan lulusan baru yang tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja telah menciptakan persaingan ketat di pasar tenaga kerja, bahkan memaksa sebagian masyarakat terjerat utang demi bertahan hidup.
BACA JUGA:
- Benarkah Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29%, Pengangguran Turun 4,65%?
- Alamak, Ternyata Pengangguran Jawa Barat Tertinggi Ke-3 Nasional
- Duh, Pengangguran di Indonesia Masih Didominasi Lulusan SMK dan SMA
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agus Sartono, menyoroti ketimpangan yang kian memprihatinkan antara jumlah pencari kerja dan kesempatan kerja yang tersedia di tanah air.
10,67 Juta Pencari Kerja Berebut Kesempatan
Berdasarkan kalkulasi Prof. Agus Sartono, setiap tahunnya terdapat jutaan lulusan pendidikan menengah dan perguruan tinggi yang membanjiri pasar kerja. Dari total 3,5 juta lulusan SLTA (SMA/SMK/MA), hanya sekitar 2 juta anak yang mampu melanjutkan ke perguruan tinggi.
Artinya, sebanyak 1,5 juta lulusan SMA/sederajat terpaksa langsung mencari kerja. Jumlah ini bertambah dengan hadirnya sekitar 1,95 juta lulusan perguruan tinggi (D1–S1/S2) baru.
“Secara total terdapat setidaknya 3,45 juta pencari kerja baru. Ditambah dengan angka pengangguran BPS per Mei 2026 sebanyak 7,22 juta orang, maka ada setidaknya 10,67 juta pencari kerja yang saling berebut kesempatan,” ungkap Prof. Agus Sartono.
Fenomena ini menjelaskan alasan di balik membludaknya peminat di berbagai ajang job fair maupun pembukaan lowongan kerja.
Fenomena ‘Turun Level’ dan Anjloknya Daya Beli
Ketimpangan pasokan dan permintaan tenaga kerja ini berdampak sistemik pada kualitas hidup para pekerja.
Menurut Agus, minimnya lapangan kerja memaksa lulusan sarjana (S1) untuk “menurunkan level” dengan mengambil pekerjaan yang seharusnya diperuntukkan bagi lulusan SMA.
Dampaknya:
- Gaji Rendah: Pekerja berpendidikan tinggi terpaksa menerima gaji di bawah standar kualifikasinya agar tidak menganggur.
- Kesulitan Menabung: Penghasilan yang didapat hanya cukup untuk kebutuhan dasar survival tanpa adanya porsi untuk investasi atau tabungan.
- Gagal Membayar Jaminan Sosial: Banyak pekerja muda yang bahkan tidak mampu memenuhi kewajiban iuran BPJS Kesehatan atau Ketenagakerjaan.
Dampak Luapan Utang: Pinjol Tembus Rp105 Triliun
Terdesaknya ekonomi masyarakat berbanding lurus dengan melonjaknya pemanfaatan instrumen utang instan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026 mencatat total pinjaman online (pinjol) legal di Indonesia telah menembus angka Rp105,14 triliun, atau melejit 25,88% secara tahunan (year-on-year).
Prof. Agus menilai angka tersebut sebagai sinyal bahaya bagi perekonomian nasional.
“Ini merupakan peringatan serius betapa bahayanya jika konsumsi sehari-hari dibiayai dengan utang,” tegasnya.
Solusi: Revitalisasi Vokasi dan Pendorongan Industrialisasi
Guna mengurai benang kusut ketenagakerjaan, Prof. Agus menekankan pentingnya langkah konkret dari pemerintah untuk meningkatkan iklim investasi dan merevitalisasi sistem pendidikan:
- Penguatan Pendidikan Vokasi & Politeknik: Melanjutkan mandat Perpres No. 68 Tahun 2022 untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri, serta membangun politeknik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
- Penciptaan Wirausaha Muda: Pendidikan vokasi ditargetkan tidak hanya mencetak buruh siap kerja, tetapi juga mencetak entrepreneur baru yang sanggup membuka lapangan kerja.
- Akselerasi Industrialisasi: Pemerintah didesak mendorong sektor manufaktur dan industri penyerap tenaga kerja agar kapasitas pasar kerja membesar.
- Fokus pada “Kebekerjaan” Lulusan: Kampus harus meningkatkan kualitas riset dan inovasi guna memperpendek masa tunggu (waiting time) lulusan.
“Apa pun jenjang dan jenis pendidikannya, bottom line-nya adalah ‘kebekerjaan’ lulusan agar tidak justru menambah angka pengangguran,” tutup Prof. Agus.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply