
Dugaan fee 5% dan proyek meubelair bermasalah di revitalisasi sekolah TTS disorot. 3 ASN berinisial SM, JA, & ND ikut terseret.
NTT, KalderaNews.com – Dugaan praktik pemotongan anggaran program Revitalisasi Satuan Pendidikan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menyita perhatian publik.
Program strategis pemerintah yang ditujukan untuk perbaikan sarana dan prasarana pendidikan tersebut diterpa isu tidak sedap terkait dugaan penarikan fee sebesar 5 persen hingga keterlambatan pengadaan meubelair sekolah.
BACA JUGA:
- Kemendikdasmen Kucurkan Rp1,2 Triliun Revitalisasi Sekolah di NTT
- Butterfly Hug 313 Kepala Sekolah PAUD NTT, Merajut Harapan di Atas Puing Bangunan
- Inilah Sebaran Kerusakan Sekolah dan Wilayah Terparah Gempa NTT
Isu ini menjadi perhatian serius karena melibatkan dana perbaikan fasilitas sekolah jenjang TK, SD, hingga SMP yang sangat dibutuhkan masyarakat lokal.
Keterlibatan Tiga Oknum ASN dan Modus Pengambilan Fee
Dikutip dari Koran Timur, terdapat tiga oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) berinisial SM, JA, dan ND yang diduga memiliki peran masing-masing dalam proses pengurusan sekolah penerima program revitalisasi di Kabupaten TTS.
Sedikitnya tiga Sekolah Dasar (SD) disebut-sebut mendapat tagihan fee sebesar 5 persen dari total dana revitalisasi yang diterima. Menurut sumber yang enggan disebutkan identitasnya, pemotongan uang tersebut diduga telah dilakukan beberapa pekan sebelum informasi ini mencuat ke publik.
“Ada tiga SD itu dapat tagihan 5 persen dan sudah diambil tagihan fee 5 persen itu dengan cara menggunakan mobil dan menunggu di bank dan ambil uang dua minggu yang lalu,” ungkap sumber tersebut pada Kamis (24/9/2026).
Meskipun demikian, hingga saat ini dugaan penarikan fee tersebut masih bersumber dari keterangan narasumber dan belum disertai bukti dokumen transaksi finansial yang dapat diverifikasi secara independen oleh media.
Penelusuran lebih lanjut terus dilakukan untuk mengonfirmasi pihak yang meminta, mengambil, serta memperuntukkan dana tersebut.
Dugaan Pengadaan Meubelair Tertunda
Selain isu pemotongan fee 5 persen, sumber yang sama juga membeberkan persoalan lain terkait pengadaan sarana meubelair di tiga SD penerima bantuan.
Uang untuk alokasi meubelair dilaporkan telah diambil, namun hingga akhir September 2026, fisik barang atau meubelair yang dimaksud belum juga tiba di lokasi sekolah.
Salah satu oknum ASN berinisial SM disebut pernah meminta pihak sekolah untuk bersabar menunggu proses pengiriman barang yang dijanjikan akan diantar oleh pihak dinas terkait.
Dinamika Isu Fee 10% dan Figur Berinisial YM
Persoalan ini melengkapi keluhan sejumlah kepala sekolah jenjang SD dan SMP di Kabupaten TTS sebelumnya. Sejumlah kepala sekolah mengaku sempat didatangi atau dihubungi oleh seseorang berinisial YM yang diduga meminta bagian fee hingga 10 persen dari anggaran revitalisasi pusat.
YM diketahui merupakan salah satu putra daerah asal TTS yang berdomisili di Jakarta, memiliki rekam jejak di organisasi partai politik, serta pernah terdaftar sebagai kontestan pada Pemilu 2024 lalu.
Upaya Konfirmasi dan Asas Praduga Tak Bersalah
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi dari pihak-pihak terkait. Ruang klarifikasi serta hak jawab tetap dibuka seluas-luasnya bagi oknum berinisial SM, JA, ND, YM, maupun jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Kabupaten TTS untuk memberikan penjelasan resmi secara transparan guna menjaga keimbangan informasi (cover both sides).
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply