
Danantara soroti ketimpangan aset dan cash flow BUMN. Optimalisasi aset dan peluang kerja sama swasta siap dibuka.
The Path To Financial Freedom, EduFulus – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membeberkan adanya ketimpangan signifikan antara total nilai aset yang dikuasai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan arus kas (cash flow) serta pendapatan yang dihasilkan.
Meskipun aset perusahaan pelat merah tercatat sangat jumbo, imbal hasil (yield) yang masuk ke kas negara dinilai masih jauh dari optimal.
97% Dividen Hanya Disumbang 15 Perusahaan
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan kontrasnya kinerja keuangan entitas BUMN. Dari total 1.074 entitas yang sempat tercatat sebelum pemangkasan, kontribusi dividen negara didominasi oleh segelintir perusahaan saja.
SIMAK JUGA: Inilah Hasil Pertemuan COO Danantara dengan 30 Bos Sekuritas
“Aset-aset BUMN ini sangat banyak. Secara nilai aset kita besar, tapi cash flow dan pendapatannya berbanding aset masih sangat kecil. Dari 1.074 entitas di awal, sebanyak 97 persen setoran dividen hanya disumbangkan oleh 15 perusahaan. Sementara sekitar 52 persen sisanya membukukan kerugian,” ujar Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (5/10/2026).
Arahan Presiden Prabowo & Strategi Danantara
Merespons ketimpangan kinerja tersebut, Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan tegas agar BPI Danantara segera merestrukturisasi dan mengoptimalkan portofolio aset negara secara terukur dan terstruktur.
SIMAK JUGA: Danantara Siap ‘Guyur’ Pasar Modal Rp16 Triliun, Ini Kisi-Kisi Saham Berfundamental Kuat yang Akan Diborong!
Sebagai sovereign wealth fund, Danantara menyiapkan strategi utama guna mendongkrak efisiensi:
- Optimalisasi Aset Non-Strategis: Memberikan porsi pengelolaan yang lebih luas kepada sektor swasta (private sector) pada lini bisnis BUMN yang tidak bersifat strategis agar dapat dikelola lebih efisien dan menguntungkan.
- Kajian Portofolio Sektor Vital: Melakukan analisis mendalam terhadap portofolio BUMN di berbagai sektor strategis seperti infrastruktur jalan tol, bandara, pelabuhan, hingga industri minyak dan gas (oil and gas).
- Peningkatan Yield & Nilai Tambah: Memastikan setiap investasi dan operasional aset milik negara memberikan imbal hasil (yield) yang optimal bagi penerimaan negara.
“Kalau dunia usaha atau private sector bisa melakukan dengan lebih baik pada sektor yang tidak strategis, kita berikan ruang yang lebih besar untuk mengembangkan usaha-usaha tersebut,” tegas Rosan.
SIMAK JUGA: Danantara Siap Caplok 30 Persen Saham Bursa Efek Indonesia (BEI)
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply