Blue Book 2019: Inilah 4 Capaian Utama Kerjasama Uni Eropa-Indonesia 2018

Charles-Michel Geurts, Chargé d'affaires a.i. of the EU Delegation to Indonesia
Charles-Michel Geurts, Chargé d'affaires a.i. of the EU Delegation to Indonesia (KalderaNews/JS de Britto)

JAKARTA, KalderaNews.com – Laporan tahunan kerjasama pembangunan antara Uni Eropa dan Indonesia selama 2018 terangkum dalam Blue Book 2019 yang diluncurkan di Le Meridien Hotel, Jakarta, Selasa, 28 Mei 2019.

Peluncuran Blue Book 2019 ini dilakukan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Profesor Bambang Brodjonegoro bersama Kuasa Usaha Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia Charles-Michel Geurts.

READ MORE:

Lantas apa saja yang telah dicapai dalam kerjasama Uni Eropa-Indonesia pada 2018 lalu? Berikut ini 4 capaian utama kerjasama tersebut:

  • Peluncuran ARISE Plus – Indonesia, program pertama Uni Eropa-Indonesia di bidang bantuan perdagangan, yang terkait erat dengan integrasi ekonomi regional di ASEAN;
  • Program Bantuan Uni Eropa terhadap Respon Perubahan Iklim di Indonesia telah selesai dan berhasil dilaksanakan selama empat tahun di Provinsi Aceh. Di antara beberapa capaian utamanya, program ini berkontribusi terhadap penguatan Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang lebih “hijau”;
  • Sebuah Program reformasi sistem peradilan (SUSTAIN), yang memperkenalkan sebuah sistem pelacakan kasus berbasis digital, sistem pelaporan pelanggaran berbasis IT, dan melatih lebih dari 6.000 pegawai Mahkamah Agung;
  • Dukungan di bidang pendidikan terus berlanjut, termasuk pemberian 1.600 beasiswa kepada para mahasiswa Indonesia melalui Program Erasmus+ yang didanai oleh Uni Eropa serta program-program beasiswa lainnya dari Negara-negara Anggota Uni Eropa; Bantuan pendidikan darurat senilai 2,3 juta euro melalui dana Education Cannot Wait (ECW) yang telah membantu hampir 58.000 anak kembali bersekolah setelah bencana tsunami dan gempa bumi Sulawesi pada 2018; dan penyelenggaraan Pameran Pendidikan Tinggi Eropa (EHEF), pameran universitas Eropa yang terbesar di dunia, dengan dihadiri 19.000 pengunjung dan diikuti oleh 122 lembaga pendidikan tinggi pada 2018.

Kuasa Usaha Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia Charles-Michel Geurts menegaskan hubungan Uni Eropa dan Indonesia telah berkembang dari hubungan berdasarkan bantuan pembangunan menjadi kemitraan berdasarkan kepentingan dan tujuan bersama. Sebagai anggota G20, Uni Eropa telah mengubah program-program bantuan bilateral tahunannya di Indonesia menjadi program-program tematik dan regional berdasarkan prioritas strategis.

“Masa ketika negara-negara bergantung pada bantuan pembangunan untuk kemajuan telah berlalu. Saat ini kita telah memasuki era kemitraan strategis yang dibangun pada sebuah komitmen terhadap SDGs. Dengan semangat SDG 17, yaitu “Kemitraan untuk Mencapai Tujuan”, kemitraan kita dengan Indonesia membantu kita mengatasi tantangan-tantangan global dan dalam prioritas strategis bagi Indonesia dan Uni Eropa,” tandasnya.

Berdasarkan prinsip-prinsip ini, Uni Eropa menyambut baik peluang untuk memperluas kemitraan dengan Indonesia di sektor-sektor prioritas seperti kerjasama ekonomi, termasuk investasi berkelanjutan, serta mitigasi perubahan iklim. Uni Eropa berkomitmen untuk bersama menemukan model kemintraan baru dan inovatif. (JS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*