Ilmu Bisnis Itu Ilmu yang Abadi, Profesi Apa Pun Membutuhkannya

Dosen Senior Program Master of Arts (MA) di Graduate School Swiss German University (SGU), Dr. Antonius TP. Siahaan, SE.,Akt.,MM.,CA
Dosen Senior Program Master of Arts (MA) di Graduate School Swiss German University (SGU), Dr. Antonius TP. Siahaan, SE.,Akt.,MM.,CA (KalderaNews/Dok. Pribadi)

TANGERANG, KalderaNews.com – Dosen senior di Program MA Graduate School Swiss German University,  Dr. Antonius TP. Siahaan, SE.Akt.,MM.,CA mengakui Bussines School pada saat pandemi Covid-19 banyak diminati para fresh graduate S1 untuk meningkatkan kualifikasinya.

“Begitu lulus S1 selama pandemi Covid-19, kesempatan untuk pekerjaaan menjadi lebih sedikit (sulit) sebagai new entry dalam lapangan kerja. Jadi mereka berpikir untuk melanjutkan pendidikan dulu 1 tahun sembari menunggu pandemi berlalu sehingga kualifikasinya menjadi lebih tinggi,” tegasnya saat berbicara pada KalderaNews.

Kebanyakan fresh gradute yang lanjut ke MA ini memang masih dibiayai oleh orang tua. Kebanyakan orang tua juga justru berpikir agar anaknya nggak usah kerja dulu, tapi ambil S2 saja dulu.

BACA JUGA:

“Sekarang ini lulusan S1 juga kurang kompetitif. Beda halnya kalau sudah S2 masuk ke pasar lapangan kerja pertama kali mungkin itu bisa memberikan kelebihan dibandingkan yang lain,” tegas Head Corp Finance PT Tribanyan Tirta Tbk tersebut.

Apalagi, lulusan S1 sekarang ini sudah menjamur dan pelan namun pasti lulusan S2 juga sebentar lagi akan menjadi biasa saja. S2 bukan lagi pilihan, melainkan sudah menjadi kebutuhan.

Ia mengakui Bussines School saat abnormal banyak dicari karena pada akhirnya semua memang berpikiran bisnis.

“Ilmu bisnis itu ilmu yang abadi. Profesi apa pun bisa belajar ini. Mau dokter, insinyur atau lawyer semuanya butuh.”

Ilmu bisnis memiliki relevansi untuk profesi apa pun, misalnya dokter yang ingin membuka klinik sendiri, tentu perlu pengalaman bisnis.

“Mekanisme pasar pindah dari dunia nyata ke dunia maya. Semua pindah dari dunia face to face ke dunia maya. Mau nggak mau orang belajar digitalisasi.”

Kendati demikian ia meyakakini bahwa yang namanya belajar itu memang bisa otodidak, tetapi kalau di bangku akademik tentunya lebih baik karena tahu teori-teorinya sehingga kerangka berpikirnya menjadi lebih akademis.

“Ilmu bisnis telah menjadi kebutuhan. Ini dari keadaan zamannya, meski SKS di S2 pun sekarang ini makin dikurangi sama Dikti. Makin kurang, makin kurang lagi. Saya bilang lama-lama S2 kayak kursus,” terangnya.

Kendati demikian, kualitas lulusan S2 tetap meningkat seperti halnya Program MA di SGU, yakni MA Double Degree dengan Jerman (MA dan MM) dengan durasi 1,5 tahun dengan durasi kuliah 1 tahun dan 6 bulan berikutnya ada di Jerman dan kerjakan tesis.

“Fast track yang dari graduate di tengah pandemi Covid-19 menjadi pilihan, apalagi sejak awal Program MA di SGU kita desain untuk yang belum bekerja, sedangkan untuk yang reguler itu untuk yang eksekutif yang sudah bekerja. Program MA Bisnis dilaksanakannya setiap hari kerja yang dipadatkan, kemudian di semester 3 kita kirim ke Jerman,” terangnya.

Namun karena saat ini ada Covid-19, terangnya, semua perkuliahan dilakukan secara online. Kelas di Jerman mulai tahun ajaran ini sampai awal tahun depan disesuaikan secara online.

“Kita memang sangat berharap situasi ini segera selesai sehingga semester 1 tahun depan sudah normal kembali,” pungkasnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*