Teknologi dan Inovasi Keuangan: Evolusi Bisnis Perbankan

Ketua Program Studi MBA Graduate School Swiss German University, Dr.Ir.Yosman Bustaman, M.Buss
Ketua Program Studi MBA Graduate School Swiss German University, Dr. Ir. Yosman Bustaman, M.Buss (KalderaNews/Pascasarjana SGU)

JAKARTA, KalderaNews.com – Tidak dapat disangkal bahwa perkembangan pesat teknologi informasi serta praktek keuangan terbaru telah mengubah landskap dari wajah lembaga intermediasi terutama perbankan.

Teknologi telah mempercepat berkembangnya inovasi keuangan yang mengubah ragam jasa dan produk perbankan, proses produksi dan struktur organisasi. Tentu saja dengan inovasi ini perbankan berharap akan adanya efisiensi biaya, menurunkan risiko bank yang berujung pada peningkatan kesejahteraan bagi semua stakeholder.

“Teknologi membantu mengubah industri jasa keuangan untuk shifting dari ketergantungan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia ke mesin. Contoh paling mencolok adalah penyediaan mesin ATM menggantikan tenaga kasir di dekade 80-an,” tegas Ketua Program Studi MBA Graduate School Swiss German University, Dr. Ir. Yosman Bustaman, M.Buss pada KalderaNews.

BACA JUGA:

Ia menjelaskan penggunaan artificial intelligence (AI) dan machine learning dimanfaatkan dalam proses marketing, persetujuan dan pengawasan kredit. Credit scoring membantu analis kredit mempercepat proses, mengukur risiko kredit lebih terukur dan objektif. Real time proses clearing dan RTGS dan paling baru penyediaan platform online di gadget nasabah dalam banyak proses transaksi seperti pembukaan akun sampai transfer dana pembelian dan pembayaran real time.

“Inovasi keuangan tidak hanya memberikan kemudahan dan meningkatkan persaingan di antara bank dan lembaga keuangan lainnya, namun juga memberikan sisi gelap perbankan berhubungan dengan malpraktek keuangan. Beberapa pakar keuangan menyebutkan malpraktek keuangan (seperti sub-prime mortgage, complicated derivative product) inilah pemicu dari krisis global 2008,” tandasnya.

Persaingan lembaga keuangan saat ini diperketat dengan masuknya penyedia jasa keuangan dengan kombinasi aplikasi teknologi terkini yang disebut dengan “fintech”. Perusahaan “fintech” yang meyediakan platform aplikasi mengombinasikan proses analisis calon nasabah dengan menggunakan sistem teknologi yang ramah dan mudah bagi pengguna, dan tentu saja berbiaya lebih rendah.

Aplikasi Peer to Peer Lending (P2P) sebagai bagian dari produk fintech banyak menarik minat debitur rumah tangga dan usaha kecil memasukkan aplikasinya ke sistem yang kemudian menghasil nilai skor kelayakan kredit yang menarik bagi investor untuk menyalurkan dananya.

Ia menjelaskan, pada tahun 2019 data OJK menunjukkan jumlah akumulasi pinjaman melalui aplikasi ini mencapai Rp 81.5 triliun, jumlah rata rata pinjaman sekitar Rp 100 juta. Data lain menunjukkan bahwa kenaikan yang sangat fantastis dari tahun ke tahun.

Jumlah rekening debitur di awal tahun 2020 adalah sekitar 18.5 juta dengan jumlah lender sekitar 606 ribu. Selanjutnya penggunaan e-money sebagai produk inovasi keuangan bukan hanya didominasi oleh bank, namun volume transaksi platform e-commerce menggunakan e-money seperti gojek menunjukkan bahwa bank bukanlah satu satunya lembaga yang dipercaya.

Perkembangan teknologi terbaru bisa jadi akan memberikan dampak lebih fundamental bagi sistem keuangan. Akankah bank masih diperlukan sebagai pihak ketiga atau perantara yang terpercaya? Apakah pengembangan blockchains, big data, cryptocurrency akan mengganggu keberadaan sistem keuangan dan bank menjadi sejarah.

“Sangat menarik untuk kita tunggu karena teknologi tersebut saat ini masih dalam tahap awal dan masih terlalu dini untuk manarik kesimpulan. Namun keuntungan dari teknologi blockchain dan cryptocurrency ini sepertinya sangat menarik banyak pihak termasuk raksasa lembaga keuangan, pemerintah negara besar. Bahkan Facebook meluncurkan lybra sebagai alternatif mata uang virtual seperti bit-coin, aplikasi WA berencana meluncurkan WA pay.”

Peluang besar dari produk inovasi keuangan, jelas merupakan tantangan besar bagi bank sentral, regulator serta lembaga pengawas keuangan. Apakah kita semuanya dapat menerima atau bisa berdampingan dengan produk inovasi keuangan sebagai dampak kemajuan teknologi?

“Sepertinya inilah dekade yang patut kita tunggu dari keberlanjutan inovasi keuangan dan tentu saja evolusi dari bisnis perbankan itu sendiri,” tandas akademisi Graduate School Swiss German University.

Menariknya, keberlanjutan inovasi keuangan dan evolusi dari bisnis perbankan ini dikaji secara komprehensif di universitas internasional pertama di Indonesia ini, teristimewa di kelas Master of Arts in Business (1 Year Program – Fulltime in Weekdays) Graduate School Swiss German University.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*