Vaksinasi Covid-19 Dimulai, Ternyata Inilah Penemu Vaksin Pertama

Ilustrasi: Penemu vaksin pertama, Edward Jenner. (KalderaNews.com/repro: y.prayogo)
Ilustrasi: Penemu vaksin pertama, Edward Jenner. (KalderaNews.com/repro: y.prayogo)

JAKARTA, KalderaNews.com – Hari ini, Rabu, 13 Januari 2021, dimulai vaksinasi Covid-19. Presiden Joko Widodo alias Jokowi menjadi orang Indonesia pertama yang menerima vaksin.

Vaksin merupakan zat produk biologi yang diketahui berasal dari virus, bakteri, atau dari kombinasi antara keduanya yang dilemahkan atau dimatikan. Vaksin diberikan kepada individu yang sehat guna merangsang munculnya antibodi atau kekebalan tubuh untuk mencegah dari infeksi penyakit tertentu.

Nah, lantas siapa dan bagaimana vaksin ditemukan?

BACA JUGA:

Adalah Edward Jenner, sang penemu vaksin pertama di dunia. Edward Jenner merupakan penemu vaksin cacar yang kemudian menjadi landasan pembuatan vaksin-vaksin lainnya.

Edward Jenner, seorang dokter asal Inggris. Pelopor vaksinasi cacar dan bapak imunologi ini lahir di Berkeley, Gloucestershire, pada 17 Mei 1749. Ia anak pendeta setempat.

Pada usia 14 tahun, dia magang ke seorang ahli bedah lokal dan lalu dilatih di London. Pada 1772, ia kembali ke Berkeley dan menghabiskan kariernya sebagai dokter di kota asalnya. Edward Jenner menjadi ilmuwan paling terkenal dalam sejarah medis dan dijuluki sebagai Bapak Imunologi.

Mengutip History of Vaccine, pada 1750-an, cacar membunuh sekitar 10 persen populasi Inggris. Jumlah korban yang berjatuhan akibat penyakkit cacar mencapai jutaan orang selama berabad-abad.

Mula-mula, Edward Jenner mengamati para pemerah susu yang berkontak dengan cacar sapi tidak tertular cacar manusia. Cacar sapi hanya menimbulkan sedikit gejala pada para perempuan pemerah susu sapi.

Pada 1796, Edward Jenner melakukan eksperimen pada James Phipps yang berusia delapan tahun. Dia menguji teorinya, gadis pemerah susu yang menderita penyakit ringan cacar sapi tidak pernah tertular cacar, salah satu pembunuh terbesar pada masa itu.

Edward Jenner kemudian menyuntikkan cairan dari lepuhan cacar sapi seorang gadis pemerah susu di Inggris kepada anak laki-laki berusia 8 tahun. Satu lepuhan muncul di tempat olesan tersebut, tapi anak laki-laki tersebut berhasil sembuh.

Dia lalu berulang kali mencoba untuk membuat bocah tersebut kembali tertular cacar, nyatanya dia tidak pernah kembali sakit.

Pada 1797, dia menyerahkan makalah ke Royal Society yang menjelaskan eksperimennya. Namun, idenya itu dianggap terlalu revolusioner dan membutuhkan lebih banyak bukti.

Edward Jenner meneruskan penelitiannya pada beberapa anak lain, termasuk putranya sendiri yang berusia 11 bulan. Pada 1798, hasil akhirnya dipublikasikan dan Jenner menciptakan kata vaksin dari bahasa Latin “vacca”.

Edward Jenner menjadi terkenal dan menghabiskan sebagian besar waktu untuk meneliti dan memberikan pandangan tentang perkembangan vaksin. Ia melakukan penelitian di sejumlah bidang pengobatan lainnya juga tertarik pada pengumpulan fosil dan hortikultura. Dia meninggal pada 26 Januari 1823.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*