Ternyata Begini Asal Mula Penamaan Ilmiah dengan Bahasa Latin pada Pelajaran Biologi




Ilustrasi: Trik meningkatkan kemampuan berbahasa asing. (KalderaNews.com/Ist.)
Ilustrasi: Trik meningkatkan kemampuan berbahasa asing. (KalderaNews.com/Ist.)

JAKARTA, KalderaNews.com – Salah satu hal yang membuat pelajaran biologi menjadi pelajaran eksak yang terasa sulit adalah adanya nama Latin yang harus dihafalkan. Nama latin pada pelajaran biologi ini disematkan pada tanaman dan hewan.

Nama latin merupakan nama ilmiah flora dan fauna. Penamaan yang seragam ini dinamakan binomial nomenklatur.

Penamaan ini menimbulkan pertanyaan. Mengapa binomial nomenklatur ini menggunakan bahasa Latin dan bukan bahasa lain, hal ini menjadi satu pertanyaan yang kerap diungkapkan.

BACA JUGA:

Tahukah kamu asal mula nama ilmiah tersebut? Ternyata begini awalnya.

Carolus Linnaeus adalah ahli fisika dan biologi dari Swedia memulai penggunaan bahasa Latin untuk penamaan organisme. Carolus Linnaeus menggunakan dua kata untuk penamaan ilmiah ini dengan alasan untuk mempermudah indentifikasi. Penamaan ini dimulai pada abad ke-18.

Bahasa Latin ini digunakan untuk memberi nama organisme karena bahasa Latin tidak digunakan di mana pun. Bahasa Yunani Kuno juga sering dipakai untuk memberi nama organisme selain bahasa Latin.

Penamaan ilmiah ini selalu terdiri dari dua kata. Kata pertama menunjukkan genus dan ditulis dengan huruf kapital. Sedangkan kata kedua merupakan nama spesies dan ditulis dengan huruf kecil. Nama ilmiah ini diketik dengan cetak miring atau digarisbawahi bila ditulis tangan.

Namun, dalam perjalanannya, penamaan ilmiah tidak begitu saja berjalan mulus. Banyak pihak yang menentang  dan tidak suka dengan pemilihan bahasa Latin sebagai penamaan ilmiah. Salah satu alasannya adalah bahasa ini cukup sult untuk diucapkan, bahkan oleh orang Eropa sendiri.

Bahasa Latin berasal dari Latium, sebuah daerah yang dekat dengan kota Roma, Italia. Oleh sebab itu Kekaisaran Romawi menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya.  Kejayaan kekaisaran Romawi membuat bahasa Latin makin menyebar ke daerah jajahannya. Daerah jajahan ini terentang dari Britania Raya (Kerajaan Inggris) di wilayah barat laut, hingga ke wilayah Palestina yang berada di utara.

Saat kekaisaran Romawi runtuh, penggunaan bahasa ini tidak lantas menghilang. Sebaliknya justru mengalami perkembangan yang signifikan dan menyebar hingga ke daerah yang tidak dijajah Kaisar Roma. Belum diketahui dengan pasti kapan bahasa Latin ini berangsur tidak digunakan dan dianggap sebagai bahasa yang mati. Justru ini yang menjadikan bahasa Latin dipilih untuk penggunaan penamaan ilmiah.

Bahasa Latin yang dikatakan sebagai bahasa mati ini tidak lagi mengalami perkembangan. Bahasa yang tidak mengalami perkembangan tidak akan mengalami pergeseran makna. Hal ini menguntungkan bila bahasa Latin dipakai sebagai penamaan ilmiah.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan share pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*