Carilah “Vaksin” di Sekitar Kita, Begini 3 Cara Hadapi “Toxic” Selama Masa Pandemi

Ilustrasi: Para siswa Sekolah Tarakanita. (KalderaNews.com/Ist.)
Ilustrasi: Para siswa Sekolah Tarakanita. (KalderaNews.com/Ist.)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Saat ini ada beragam “toxic” yang melingkupi hidup kita. Di sekolah, di media sosial, teman pergaulan, bahkan di rumah bisa jadi ada “toxic”.

Toxic di sini bukanlah berarti cairan atau serbuk mematikan jika ditelan atau ditempelkan. Toxic dalam hal ini diartikan sebagai sesuatu yang terjadi dalam hubungan antarmanusia, yang merugikan atau menyakiti salah satu pihak.

Nah, untuk memulihkan aneka toxic itu, para siswa SMA/K dan Mahasiswa di lembaga pendidikan yang dikelola Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB) menggelar Seminar Online Nasional, Kamis, 20 Mei 2021.

BACA JUGA:

Acara bertajuk “Break Free From Toxic Cycle in Pandemic” ini juga untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-113. Seminar online yang diikuti sekira 500 peserta ini menghadirkan pembicara Andre Wibawa M.Si, kandidat doktor psikologi dan dosen di Kalbis Institute serta Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita (STARKI) Jakarta.

Mengutip hasil riset Pew Research Center yang melibatkan 38.426 responden dari 34 negara, Andre mengatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk paling relijius. Bahkan, persentase orang Indonesua yang percaya kepada Tuhan berada di atas negara-negara di Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika.

Jika masyarakat Indonesia relijius, kata Andre, mestinya lebih mudah untuk mengatasi aneka “toxic”. Karena orang yang relijius berarti hubungan dengan Tuhan dan sesama penuh dengan kebaikan.

So, beginilah cara menghilang “toxic” menurut Andre:

Pertama, Aware, artinya kita menyadari bahwa sedang mengalami kemunduran atau ada “toxic” dalam diri kita.

Kedua, Action, artinya setelah menyadari ada “toxic”, kita harus membuka diri bahwa ada “toxic” dalam diri kita.

Ketiga, A Planning, artinya buatlah rencana untuk mengubah diri dan mengatasi “toxic” tersebut.

“Salah satu untuk menghilangkan ‘toxic’ dalam diri kita adalah dengan memperbanyak aktivitas. Selain itu, buatlah sesuatu yang kecil dan sederhana dengan tekun, toxic itu pasti akan hilang,” kata Andre.

Sementara, Suster Sinta Ariati CB, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita (STARKI) Jakarta yang juga menjadi moderator seminar ini mengatakan bahwa seminar ini mengajak para siswa dan mahasiswa agar mampu menemukan dan menyadari “vaksin” di sekitar untuk melepaskan “toxic”.

“Agar teman-teman muda bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi bermakna dan berkualitas bagi bangsa dan negara,” ujar Suster Ariati CB.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


1,013 views