Mengatur Uang Saku Agar Akhir Bulan Tak Makan Mi Instan, Ini Triknya

JAKARTA, KalderaNews.com – Mengatur uang saku untuk pelajar dan mahasiswa merupakan sebuah ‘challenge’. Bila tidak piawai mengaturnya, tidak jarang hal ini membuat pelajar atau mahasiswa yang tinggal di rantau harus rela perutnya diisi mi instan. Terlebih bila tidak ada pemasukan tambahan dari kerja paruh waktu, misalnya.

Hampir semua pelajar dan mahasiswa yang tinggal jauh dari orangtua mengalami masa kebingungan karena keuangan ini. Terlebih bila transferan belum juga datang saat tugas kuliah mendadak bermunculan.

BACA JUGA:

Kebutuhan rutin bulanan dan tugas reguler memang dapat diprediksi. Namun, bagaimana dengan tugas atau kebutuhan yang mendadak? Inilah trik jitu untuk mengatur uang saku yang dapat diaplikasikan dengan mudah.

Banyak dari kita yang berpikir bahwa perencanaan keuangan dilakukan nanti saja bila sudah bekerja atau berumahtangga. Pemikiran ini harus diperbaiki dengan prinsip bahwa mengatur uang saku semenjak di bangku sekolah atau kuliah merupakan sarana latihan sebelum mendapatkan penghasilan sendiri kelak.

Trik pertama adalah menelaah apakah ada pengeluaran yang akibat gaya hidup yang tidak sesuai. Gaya hidup yang tidak sesuai dapat muncul bila kita salah bersosialisasi. Bukan salah memilih kawan atau komunitas, tetapi keliru dalam membuat keputusan saat harus mengeluarkan uang yang tidak sesuai dengan kebutuhan hanya karena pertemanan.

Hal ini dapat membuat pelajar atau mahasiswa merasa galau. Bila tidak ikut ngafe nanti dianggap tidak kompak, tetapi bila setiap hari ngafe tentu saldo dalam rekening yang menjerit. Di bagian ini, kita harus mampu berkata tidak. Tentu saja dilakukan dengan halus agar tidak menyinggung perasaan teman.

Trik kedua dengan mengatur uang saku sesuai dengan pos-posnya. Mengatur uang saku ini bertujuan untuk kelak mewujudkan keinginan atau impian yang membutuhkan uang. Menurut Zain Ambi, seorang financial planner  bersertifikat, kebutuhan keuangan untuk pelajar dan mahasiswa dapat dibagi menjadi beberapa pos seperti kebutuhan jangka pendek, dana darurat, dan investasi.

Menurut Ambi, panggilan akrab Zain Ambi, mengatur uang saku ini dapat dibuat dari sudut pandang piramida perencanaan keuangan. Alumni S1 Psikologi ini juga menambahkan bahwa cara memastikan kondisi keuangan yang sehat adalah dengan mengecek penghasilan dari orangtua atau bekerja paruh waktu harus lebih besar daripada pengeluaran.

Dana darurat ini sangat penting bagi pelajar dan mahasiswa dan harus ada. Hal ini agar saat terjadi kebutuhan yang mendesak tidak kebingungan.

Cara mudah untuk mengatur keuangan bagi palajar dan mahasiswa adalah dengan menggunakan rumus 40-30-20-10. Rumus ini merupakan persentasi dari seluruh pemasukan yang didapat pelajar atau mahasiswa. Caranya dengan membedakan dengan rekening atau amplop yang berbeda.

40% untuk kebutuhan hidup, maksimal 30% untuk membayar utang bila ada, bila tidak ada dapat digunakan untuk keperluan tugas kuliah. Sedangkan 20% merupakan tabungan dan investasi, dan 10% sisanya merupakan dana darurat yang tidak boleh dipakai bila keadaan tidak sangat terdesak.

Ngafe  di kafe mahal bukan kebutuhan darurat, ya. Jadi jangan sampai menggunakan dana darurat untuk ini.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan share pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*