Anak Cerdas Terliterasi: Bukan Meminta Anak Mampu Membaca Sejak Dini, Ini Kata Pakarnya




hari anak nasional
Webinar Hari Anak Nasional 2021: Anak Cerdas Terliterasi. (KalderaNews/*Lita)

JAKARTA, KalderaNews.com – Peringatan Hari Anak Nasional 2021 ini merupakan tahun kedua berada di dalam situasi pandemi. Banyak peringatan yang akahirnya diselenggarakan secara daring. Meskipun demikian, perayaan Hari Anak Nasional tidak kalah meriah bila dibanding dengan peringatan tahun-tahun sebelumnya.

Hari Anak Nasional 2021 yang bertemakan Anak Terlindungi, Indonesia Maju juga diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek, dan Teknologi dengan meriah secara daring melalui kanal-kanal resminya. Acara peringatan HAN 2021 kemarin, 23 Juli 2021, ditutup dengan bincang dengan beberapa pakar pendidikan anak usia dini dengan tema Anak Cerdas Terliterasi.

BACA JUGA:

Anak Cerdas Terliterasi juga merupakan salah satu sub tema dalam peringatan Hari Anak Nasional 2021 yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebelumnya. Dalam kegiatan bincang pakar pendidikan anak usia dini tersebut hadir istri gubernur Jawa Barat, Atalia Praratya dan juga Kak Seto Mulyadi.

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini Dikdas dan Dikmen, Kemendikbud Ristek, Jumeri, yang hadir dalam sambutan pembukaan menyampaikan, “ HAN adalah pegingat bahwa tidak boleh ada satu pun anakyang tertinggal hak anak.” Jumeri juga menambahkan, “Pendidik dan orang tua merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.”

Buku bacaan dapat memperkaya pengetahuan bagi anak, cara yang dapat ditempuh untuk anak yang belum dapat membaca adalah dengan membacakan cerita kepada anak usia dini. Peningkatan akses bacaan pada anak juga perlu dilakuan dengan langkah-langkah yang dapat ditempuh yakni: mengajak orangtua untuk melaksanaan kegiatan yang dapat dilakukan di rumah untuk meningkatkan minat belajar anak.

Upaya Kemendikbud untuk mengurangi learning loss dengan langkah aksi literasi yang memerlukan kerja sama berbagai bidang antara lain:

  1. Menghadirkan lingkungan kaya keaksaraan salah satunya membacakan buku untuk anak
  2. Untuk para pakar, diharapkan mendampingi pendidik dan   orang tua untuk terus mengasah kemampuan dalam menyusun rencana kegiatan belajar pada ana.
  3. Menambah akses buku bacaan anak di titik yang dapat diakses oleh orang tua dan anak yang membutuhkan.  

Atalia Praratya, yang juga disebut sebagai Bunda PAUD Jawa Barat, menjelaskan, “Anak adalah peniru ulung. Anak mengamati dan mengikuti orang tua. Budaya literasi bukan hal yang tiba-tiba dapat dilakukan oleh anak. Anak akan tertarik membaca bila orang tuanya rajin membaca.”

Generasi rebahan yang mager, masih menurut Atalia, merupakan salah satu dampa dari kurangnya literasi pada masa kanak-kanak, yang ditandai dengan kurang kreatif dan terpapar informasi-informasi hoaks. “Jadilah contoh yang baik bagi anak-anak di rumah,” demikian Atalia menegaskan salah satu tip untuk membangun kebiasaan dari rumah untuk mendukung aksi Anak Cerdas Terliterasi.

Di Propinsi Jawa Barat sendiri telah ada gerakan literasi yang diinisiasi sejak tahun 2018. Program tersebut diberi nama Kolencer (Kotak Literasi Cerdas) dan Candil (Maca Dina Digital Literasi). Kolencer merupakan sebuah program yang mendekatkan koleksi buku-buku di berbagai tempat umum. Langkah ini disusun untuk mepermudah akses masyarakat terhadap koleksi buku bacaan.

Untuk memberikan solusi terhadap kesulitan masyarakat untuk mengembalikan buku bacaan yang dipinjam, pemerintah provinsi Jawa Barat juga mengadakan program yang diberi nama ‘Makan Jengkol’. Makan Jengkol ini merupaan kependekan dari Mari Antar Jemput Buku dengan Kolaborasi. Program ini merupakan kerjasama dengan ojek daring untuk mengantarkan dan menjemput buku yang dipinjam oleh masyarakat.

Berbeda dengan yang dilakukan istri Gubernur Jawa Barat yang sedang menempuh pendidikan doktoral ilmu komunikasi di Universitas Padjajaran, istri kepala daerah Tasikmalaya, Rukmini, menyampaikan program lain di Tasikmalaya. Program di sana diberi nama Donita dan Simbara.

Donita merupakan kependekan dari Dongeng Anak Usia Dini bersama Komunitas. Donita ini merupaan kegiatan storytelling yang bertujuan untuk mengenalkan bahan bacaan kepada anak sejak usia dini.

Sedangkan Simbara merupakan sosialisasi minat baca masyarakat kepada orang tua agar dapat dengan mudah bekerjasama dengan pendidik untuk menciptakan ruang belajar bagi anak di rumah. BIla Donita ditujukan untuk anak, maka Simbara menyasar para orang tua mereka.

Istilah literasi tidak melulu tentang baca, tulis, dan hitung. Literasi pada anak usia dini merupakan sekumpulan aktitifas pada anak usia dini dalam memanai gambar dan bercerita. Pada anak usia dini, bercerita merupakan usaha mendekatan akses buku anak-anak. Literasi usia dini merupakan sebuah pengalaman print awareness, yakni kesadaran pada benda cetak untuk memEgang, menyimak, dan membaca secara langsung.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sofie Dewantie, pakar Pendidikan Anak Usia Dini untuk meluruskan pendapat pada masyarakat bahwa anak harus belajara sejak dini. Sofie Dewantie menambahkan, “Budaya berliterasi sejak dini akan menanamkan pada anak bahwa belajar merupakan pengalaman seumur hidup, bukan hanya di bangku sekolah.”

Dalam bincang pakar pendidikan anak usia dini tentang Anak Cerdas Terliterasi ini, selain menghadirkan para ahli juga mengundang praktisi-praktisi pendidian anak usia dini yang banyak melakukan aktifitas sosial terkait anak pendidikan anak di lingkungannya untuk berbagai pengalaman secara langsung.

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*