Keren! Standing Ovation untuk Prestasi Bryan Sukidi di Milton Academy

Bryan Ramadhan Sukidi. (dok.pri.)
Bryan Ramadhan Sukidi. (dok.pri.)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.comValedictorian atau pidato Bryan Sukidi dalam perpisahan kampus mendapat standing ovation. Prestasinya pun layak diberi tepuk tangan.

Bryan pun didapuk menjadi lulusan terbaik 2024 dari Milton Academy, Massachusetts, Amerika Serikat.

Pria yang punya lengkap Bryan Ramadhan Sukidi ini adalah putra dari seorang cendekiawan Muhammadiyah Sukidi Mulyadi PhD.

BACA JUGA:

Dalam lulusan tersebut, Bryan menerima dua penghargaan prestisius, yaitu The A. O. Smith Prize dari Departemen Bahasa Inggris untuk penulisan non-fiksi, serta The Computer Science Prize untuk keunggulannya dalam ilmu komputer.

Aktif di kampus

Semasa studi, Bryan pun aktif sebagai ketua kelas, Presiden Klub Pemrograman, hingga anggota Dewan Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi.

Dia telah berkontribusi bagi komunitas kampusnya, termasuk mengorganisir acara-acara seperti CultureFest dan event besar yang melibatkan 800 orang.

Selain itu, Bryan juga aktif membimbing siswa internasional dan siswa kulit berwarna melalui program orientasi sekolah.

Bahkan, Bryan juga pernah terlibat dalam demonstrasi mahasiswa di Boston, Amerika Serikat yang menentang serangan Rusia atas Ukraina.

Bertanya menjadi kunci Bryan

Dalam pidato kelulusannya, Bryan menceritakan perjalanan di kampus yang jauh dari negerinya..

Bryan menceritakan usaha kerasnya masuk dalam pergaulan di kampusnya.

Ia mengenang ketika harus makan sendirian di asrama lantaran belum punya teman.

Pada tahun kedua, Bryan mencoba pendekatan baru dengan mengajukan pertanyaan mendalam kepada teman-teman sekelasnya.

“Untuk pertama kali dalam perjalanan sekolahku, aku merasakan kehangatan dan kegembiraan saat mengenal teman-teman sekelasku bukan hanya sebagai teman sekelas, tapi sebagai manusia dengan cerita, ketakutan, dan impian mereka sendiri,” ungkap Bryan.

Ia pun mengajak semua orang untuk berani mengajukan pertanyaan dan mendengarkan cerita orang lain.

“Karena itulah cara untuk benar-benar mengenal seseorang,” katanya.

“Jadilah orang yang mau bertanya, yang mendengarkan, dan yang karena keingintahuannya, tidak meninggalkan cerita yang belum terungkap,” ujar Bryan dalam pidato kelulusannya.

Keprihatinan kecerdasan buatan

Bryan terdorong untuk mengejar karier di bidang penelitian keselamatan teknis, sebab keprihatinannya terhadap bahaya kecerdasan buatan.

Sebelumnya, ia juga pernah menjadi peneliti magang di Broad Institute of MIT dan Harvard, dan mengajar kelas pengantar ilmu komputer melalui Greater Boston STEM selama tiga tahun.

Ia pun berencana melanjutkan studi di bidang ilmu komputer dengan fokus pada keselamatan, tata kelola, dan etika AI di the University of North Carolina dengan beasiswa paling prestisius di Amerika, Morehead-Cain Scholarship.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


1,003 views