
LOMBOK, KalderaNews.com – Kabar duka menyelimuti dunia pendakian dan media sosial setelah Juliana De Souza Pereira Marins (27), pendaki wanita asal Brasil, ditemukan meninggal dunia pada Rabu (25/6) setelah terjatuh ke jurang di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu (21/6).
Mendiang Juliana adalah seorang petualang yang dikenal dengan semangatnya menjelajahi dunia dengan latar belakang pendidikannya yang menarik.
Juliana Marins adalah lulusan Periklanan dan Publisitas dari Universitas Federal Rio de Janeiro (UFRJ), salah satu institusi pendidikan terkemuka di Brasil.
BACA JUGA:
- Rinjani Tragedy: Brazilian Hiker Juliana De Souza Found Dead in 600-Meter Ravine, Dramatic Evacuation Underway!
- Viral! Siswi SMK Semarang Hilang Saat Mendaki Gunung Slamet, Ditemukan Selamat Setelah 2 Hari Pencarian
- 11 Pendaki Korban Letusan Gunung Marapi yang Meninggal Belum Teridentifikasi, Inilah Daftar 49 Pendaki yang Sudah Dievakuasi
Keahliannya di bidang kehumasan terbukti dari profesinya sebagai seorang publisis. Selain itu, Juliana juga dikenal sebagai penampil pole dance (tari tiang), sebuah aktivitas yang membutuhkan kekuatan dan ketahanan fisik tinggi.
Aktivitas ini menunjukkan sisi lain dari Juliana, yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki disiplin fisik yang luar biasa.
Ia juga sempat menempuh pendidikan di bidang Hukum di Universitas Federal Uberlandia (UFU) pada tahun 2016, di mana ia bertemu dengan Flavia Dela Libera Vieira, seorang teman yang menggambarkannya sebagai pribadi yang ramah, ceria, dan menyenangkan.
Perjalanan Asia dan Perhatian Jutaan Warga Brasil
Semangat berpetualang Juliana sudah terlihat jauh sebelum perjalanannya ke Asia. Juliana Marins, yang lahir di Rio de Janeiro dan menetap di Niteroi, telah melakukan perjalanan backpacking keliling Asia sejak Februari 2025.
Filipina, Vietnam, dan Thailand adalah beberapa negara yang telah ia kunjungi sebelum tiba di Indonesia. Selama perjalanannya, Juliana aktif mendokumentasikan setiap momen di media sosial, membagikan pengalamannya kepada para pengikutnya.
Menurut Flavia, perjalanan ini adalah “mimpi lama” bagi Juliana, yang sangat ia syukuri.
Tragedi di Rinjani menarik perhatian jutaan warga Brasil. Keluarga Juliana dengan sigap membuat akun Instagram khusus untuk memantau proses pencarian dan evakuasi. Dalam waktu dua hari, akun tersebut diikuti oleh 1,6 juta pengikut, mencerminkan besarnya dukungan dan perhatian publik terhadap nasib Juliana.
Unggahan pada Selasa (24/6) yang mengumumkan bahwa Juliana ditemukan dalam keadaan meninggal dunia memicu gelombang simpati yang mendalam.
Kisah Juliana tidak hanya menyoroti bahaya pendakian di medan terpencil dan sulit seperti Gunung Rinjani, tetapi juga menggambarkan betapa besarnya dampak individu di era digital.
Sebuah video yang beredar belakangan ini, direkam beberapa jam sebelum insiden, menunjukkan Juliana dan seorang teman wanitanya dalam kondisi ceria dan penuh semangat, mengungkapkan bahwa mereka “melakukan ini demi pemandangan” yang indah di puncak Rinjani.
Video tersebut menjadi bukti terakhir semangat petualangan Juliana sebelum ia terpisah dari rombongan dan akhirnya terjatuh.
Kematian Juliana Marins menjadi pengingat pahit akan risiko yang melekat pada petualangan di alam bebas, sekaligus menggarisbawahi kekuatan konektivitas global yang memungkinkan jutaan orang untuk bersatu dalam kepedulian.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply