JAKARTA, KalderaNews.com – Sebuah video di Instagram mengungkap bahwa Benua Australia bergeser menuju Indonesia 7 cm tiap tahun. Begini kata pakar!
Dikutip dari akun @u*d, video itu memperlihatkan ilustrasi pergerakan Australia secara perlahan.
“Jika terus bergerak, dalam 50 juta tahun Australia akan menabrak Papua Nugini dan Indonesia Timur, menciptakan pegunungan raksasa baru yang lebih besar dari apa pun saat ini,” tulis unggahan tersebut.
BACA JUGA:
- Cek Jadwal Mengamati Gerhana Bulan Total 7-8 September 2025 di Indonesia
- 8 Fenomena Langit di Bulan September 2025, Mulai Hujan Meteor hingga Gerhana Matahari
- Waspada! BMKG: Aktivitas Gempa di Sesar Lembang Terus Meningkat
Dampak Australia bergeser mendekat ke Indonesia
Ahli Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas membenarkan informasi itu.
“Ya lempeng Australia memang bergerak 7 cm per tahun,” papar Heri.
Ia menjelaskan bahwa dampak dari pergeseran benua Australia menuju Indonesia.
Heri menyatakan, pergeseran daratan Australia ke utara memakan waktu yang cukup panjang, yakni sekira 50 juta tahun.
Saat benua itu nantinya bertemu dengan Lempeng Eurasia di sekitar Indonesia, katanya, maka akan terbentuk zona subduksi.
“Zona subduksi inilah yang menjadi sumber gempa bumi besar, atau lebih dikenal dengan istilah megathrust,” papar Heri.
Kondisi ini tentu akan membuat wilayah Indonesia, terutama bagian barat dan selatan yang berbatasan dengan Samudra Hindia, menjadi rawan gempa bumi dan tsunami.
Hal ini juga diamini peneliti gempa bumi BRIN, Mudrik Rahmawan Daryono yang menyatakan, tabrakan tersebut membuat jalur Ring of Fire terbentuk.
Sementara, Profesor Zheng-Xiang Li dari Curtin University memaparkan, dampak peristiwa ini terhadap ekosistem, yaitu mengubah iklim di Australia.
Ia menyatakan, Australia merupakan rumah bagi spesies unik seperti kanguru, platipus, dan wombat, yaitu hewan yang berevolusi secara terisolasi.
Tetapi, seiring dengan pergeseran Australia ke Asia, pada akhirnya benua ini dapat menyatu dengan ekosistem yang mendukung spesies yang sama sekali berbeda.
Hal ini tentu akan menimbulkan konsekuensi ekologis yang tidak bisa diprediksi.
Penyebab Australia terus bergerak
Heri melanjutkan, pergerakan Lempeng Australia merupakan proses alami dari dinamika Bumi.
Saban tahun, lempeng ini bergerak sekitar 7 sentimeter ke arah utara sampai bertabrakan dengan Lempeng Eurasia.
“Dalam skala geologi, 50 juta tahun lagi Lempeng Australia akan makin menunjam ke bawah wilayah Indonesia bagian timur,” papar Heri.
Ia mengatakan, hal ini disebabkan energi penggerak lempeng yang datang dari arus konveksi mantel Bumi.
Sementara, Peneliti Geologi dan Kebencanaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Danny Hilman Natawidjaja menambahkan, pergerakan ini disebabkan dua lempeng yang bertumbukan.
“Karena lempengnya itu (Australia) bagian kerak samudranya ditunjamkan di zona subduksi yang menjadi gempa megathrust yang ada di bawah Pulau Jawa,” paparnya.
Sedangkan lempeng di bagian Indonesia timur tidak menghunjam ke bawah melainkan bertabrakan.
“Timur itu sebetulnya berasal dari Australia dulunya. Jadi, dulu sudah ditabrakkan terus loncat istilahnya ke pulau timur yang ada di Kepulauan Indonesia. Lama-lama semuanya ditabrakkan dan jadi satu, Australia sama Indonesia,” tambahnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply