
JAKARTA, KalderaNews.com – Setelah menuai kritik pedas dari warganet Indonesia, Oxford University akhirnya mencantumkan nama peneliti Indonesia terkait penelitian Rafflesia hasseltii.
Sebelumnya, kampus bergengsi asal Inggris ini memicu kehebohan dan gelombang protes di media sosial karena dinilai mengabaikan peran penting para ahli serta pemandu lokal.
Unggahan awal Oxford terkait temuan Rafflesia dianggap tidak menyertakan kredit kepada pihak Indonesia yang terlibat langsung di lapangan.
BACA JUGA:
- Kontroversi Penemuan Rafflesia Hasseltii, Oxford University Dikritik karena Tak Sertakan Nama Peneliti RI
- Menarik! Peneliti BRIN Temukan Bunga Langka Rafflesia Hasseltii di Hutan Kelolaan Warga
- Pertama Kali dalam Sejarah, Rafflesia arnoldii R.Br Mekar di Luar Habitatnya
Siapa aja yang diakui Oxford?
Kini, Oxford telah merevisi unggahannya di platform X dan Instagram. Mereka mengakui bahwa penemuan ini adalah hasil kerja sama tim internasional dengan para ahli lokal.
Penemuan Rafflesia hasseltii tersebut secara spesifik disebut melibatkan:
- Chris Thorogood, peneliti dari Oxford Botanic Garden.
- Septian Andriki (Deki), penggiat konservasi lokal.
- Iswandi, pemandu lokal.
Selain tim lapangan, Oxford juga memberikan apresiasi dan pengakuan atas dukungan dari lembaga dan akademisi Indonesia, yaitu Joko Witono dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan Profesor Agus Susatya dari Universitas Bengkulu.
Bagian dari misi konservasi global
Ekspedisi ini dijelaskan sebagai bagian dari Community for the Conservation and Research of Rafflesia (CCRR), sebuah kemitraan internasional yang telah berjalan sejak tahun 2022.
Tujuan utama CCRR adalah mendokumentasikan sejumlah bunga paling langka di dunia serta membangun kelompok konservasi Rafflesia.
Kerjasama ini mencakup pembagian pengetahuan, peralatan, dan praktik terbaik untuk melindungi tanaman ikonik Indonesia ini dalam jangka panjang.
Oxford juga mengucapkan terima kasih kepada para ahli lokal lain yang telah mendukung ekspedisi secara lebih luas di Sumatra, termasuk Agung Wahyu, Jagek Fernandess, dan organisasi masyarakat Komunitas Peduli Puspa Langka.
Pengakuan ini sekaligus menjadi penegas bahwa upaya konservasi dan penelitian flora Indonesia merupakan kerja kolektif yang melibatkan kontribusi besar dari masyarakat lokal.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply