
The Path To Financial Freedom, EduFulus – Lembaga penyedia indeks global, FTSE Russell, secara resmi mengumumkan penundaan tinjauan (review) terhadap indeks saham Indonesia yang semula dijadwalkan pada Maret 2026.
Langkah ini mengikuti jejak MSCI yang sebelumnya juga mengambil kebijakan serupa terhadap pasar modal Tanah Air.
SIMAK JUGA: Buntut “Pompom” Target Harga Saham RLCO Rp80.000, BEI Panggil Samuel Sekuritas
Meskipun kabar ini menjadi perhatian serius bagi investor global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan ketahanan yang mengejutkan dengan menguat pada penutupan sesi I hari ini.
Alasan di Balik Penundaan
Berdasarkan keterangan resmi, FTSE Russell menunda evaluasi ini karena beberapa faktor krusial yang berkaitan dengan struktur kepemilikan saham di Indonesia:
- Ketidakpastian Free Float: Terdapat keraguan dalam menentukan persentase saham publik (free float) yang akurat bagi emiten di Indonesia. Hal ini menjadi perhatian utama untuk memastikan transparansi dan keadilan bagi investor internasional.
- Risiko Gangguan Pasar: Mengingat Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menjalankan reformasi pasar modal secara besar-besaran, FTSE khawatir perubahan indeks saat ini dapat memicu volatilitas transaksi yang merugikan.
- Dukungan untuk Reformasi: BEI menyatakan bahwa keputusan penundaan ini bukanlah bentuk sentimen negatif, melainkan bentuk dukungan FTSE terhadap rencana aksi integritas pasar yang sedang dilakukan otoritas Indonesia.
Dampak Operasional pada Indeks
Selama masa penundaan ini, FTSE Russell menghentikan sementara sejumlah aksi korporasi dan perubahan teknis dalam indeks mereka, di antaranya penambahan atau penghapusan saham dari indeks Indonesia, perubahan klasifikasi kapitalisasi (Besar, Menengah, dan Kecil).
Selain itu ada juga penyesuaian bobot investabilitas (investability weightings) dan perubahan jumlah saham beredar akibat aksi korporasi seperti rights issue.
Untuk distribusi dividen (reguler maupun khusus) serta penghapusan saham akibat merger atau delisting, tetap akan diproses seperti biasa sesuai aturan operasional.
Performa IHSG: Menguat Melawan Sentimen
Menariknya, pasar domestik merespons pengumuman ini dengan cukup tenang. Pada perdagangan Selasa (10/2) sesi I, IHSG terpantau menguat 1,02% atau naik 82,14 poin ke level 8.133.
Analis menilai penguatan ini didorong oleh aksi beli investor domestik yang melihat bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid, meskipun ada hambatan teknis dari penyedia indeks global.
Kenaikan ini seolah menegaskan bahwa pelaku pasar sudah mengantisipasi langkah FTSE pasca-keputusan MSCI beberapa waktu lalu.
FTSE Russell akan terus memantau perkembangan reformasi di pasar modal Indonesia. Pembaruan informasi dijadwalkan akan diumumkan kembali menjelang tinjauan kuartalan pada 22 Mei 2026.
Sementara itu, pengumuman mengenai klasifikasi negara (Country Classification) tetap dijadwalkan pada 7 April 2026.
SIMAK JUGA: OJK “Bersih-bersih” Bursa: 151 Pelaku Saham Gorengan Disikat, Denda Tembus Setengah Triliun
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply