
JAKARTA, KalderaNews.com – Fenomena langit spektakuler akan membuka kalender astronomi tahun 2026. Tepat pada 17 Februari 2026, Bumi akan menyambut Gerhana Matahari Cincin (GMC) pertama di tahun ini.
Fenomena yang sering dijuluki sebagai “Cincin Api” ini menjanjikan pemandangan memukau di mana Matahari akan tampak seperti dilingkari cincin cahaya terang.
BACA JUGA:
- Jadwal Gerhana Matahari Cincin, Bisa Diamati di Indonesia?
- Ternyata Begini Lapisan Matahari Hingga Sinar dan Suhunya Sampai di Bumi
- Benarkah Bumi akan Gelap Gegara Gerhana Matahari 2 Agustus 2025?
Lantas, jam berapa fenomena ini berlangsung dan apakah warga Indonesia bisa menyaksikannya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Jadwal dan Waktu Puncak Fenomena
Berdasarkan data astronomi, Gerhana Matahari Cincin ini akan berlangsung selama total 271 menit atau sekitar 4,5 jam. Berikut adalah rincian waktu dalam format internasional (UTC):
- Awal Gerhana Parsial: 09.56 UTC
- Puncak Gerhana (Cincin Api): 12.12 UTC
- Akhir Gerhana: 14.27 UTC
Pada titik puncaknya, Bulan akan menutupi sekitar 96% piringan Matahari. Namun, fase “Cincin Api” yang paling dinanti hanya akan berlangsung singkat, yakni sekitar 2 menit 20 detik.
Lokasi Pengamatan: Apakah Indonesia Kebagian?
Sayangnya, bagi masyarakat di tanah air, ada kabar yang kurang menggembirakan.
Indonesia tidak termasuk dalam jalur area pengamatan.
Gerhana kali ini hanya bisa disaksikan secara langsung dari wilayah paling selatan Bumi.
Jalur utama Gerhana Matahari Cincin ini akan melintasi kawasan terpencil di Antartika dan Samudra Selatan.
Sementara itu, wilayah yang bisa menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian (parsial) meliputi: Ujung selatan Amerika Selatan, Afrika bagian selatan serta sebagian wilayah Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia.
Stasiun penelitian internasional di Antartika, seperti Stasiun McMurdo (AS), diprediksi akan mendapatkan pemandangan luar biasa dengan cakupan gerhana hingga 86%.
Mengenal Fenomena “Cincin Api”
Gerhana Matahari Cincin terjadi karena posisi Bulan sedang berada di titik terjauhnya dari Bumi (apogee).
Karena jaraknya yang jauh, Bulan tampak lebih kecil di langit dan tidak mampu menutupi seluruh piringan Matahari.
Sisa cahaya di pinggiran Matahari inilah yang membentuk visual menyerupai cincin api yang memukau.
Perlu diingat, meskipun tidak tertutup total, menatap gerhana ini secara langsung tanpa alat pelindung mata khusus tetap sangat berbahaya bagi kesehatan mata.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply