
JAKARTA, KalderaNews.com – Kapan sih awal puasa Ramadan 2026 versi pemerintah? Penetapan awal Ramadan masih menunggu Sidang Isbat!
Namun, bila mengikuti jadwal pemerintah, awal puasa Ramadan 1447 H/2026 M diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Ini berdasar kalender Hijriah 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag).
Tetapi, belum menjadi jadwal pasti. Penetapan awal puasa Ramadan 2026, menunggu hasil siding Isbat yang digelar Kemenag RI pada Selasa, 17 Februari 2026.
BACA JUGA:
- Waduh! Profesor Riset BRIN Prediksi Awal Ramadan akan Berbeda! Begini Penjelasannya!
- Resmi, Pemerintah Tetapkan Jadwal Kegiatan Sekolah Selama Ramadan untuk Siswa Muslim dan Non-Muslim, Cek di Sini!
- Banjir Liburan Februari-Maret 2026, Imlek, Awal Ramadan, Nyepi, dan Lebaran!
Tahapan Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Berdasarkan data hisab, posisi hilal saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026 di seluruh wilayah Indonesia berada -2° 24.71′ sampai 0° 58.08′ dengan sudut elongasi antara 0° 56.39′ sampai 1° 53.60′.
“Secara perhitungan, posisi ini belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS,” jelas Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat.
Arsad menyatakan, ijtimak diperkirakan terjadi pada 17 Februari 2026 pukul 19.01 WIB.
Data tersebut menjadi dasar awal untuk memperkirakan kemungkinan visibilitas hilal sebelum dikonfirmasi melalui rukyatulhilal di berbagai titik pemantauan.
“Seluruh data hisab dan hasil rukyat nantinya akan dibahas dalam sidang isbat sebelum ditetapkan secara resmi oleh Menteri Agama,” ujarnya.
Pemantauan hilal bakal dilakukan di berbagai lokasi di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua, dengan melibatkan tim daerah dan relawan pengamat hilal.
“Maka, kami mengimbau masyarakat agar menunggu keputusan resmi pemerintah. Sidang isbat adalah mekanisme resmi penetapan awal Ramadan di Indonesia,” kata Arsad.
Potensi perbedaan awal Ramadan
Sementara, ormas Muhammadiyah sudah menetapkan tanggal awal Ramadan, yaitu 18 Februari 2026.
Jika terjadi perbedaan tanggal awal Ramadan, Arsad Hidayat mengatakan bahwa hal tersebut biasa terjadi, lantaran perbedaan pendekatan dan perhitungan.
“Kalau berbeda itu biasa, karena cara penetapannya tidak sama,” ujarnya.
Ia menyatakan, masyarakat diharapkan bisa menyikapi kemungkinan perbedaan tersebut dengan sikap saling menghormati.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply