
JAKARTA, KalderaNews.com – Mata dunia tertuju pada Selat Hormuz. Yuk mengenal urat nadi minyak dunia dan pengaruhnya ke Indonesia!
Keputusan Iran untuk menutup jalur ini pada Maret 2026 bukan sekadar gertakan militer, melainkan penyanderaan terhadap stabilitas ekonomi global.
Yuk bedah tuntas mengapa Selat Hormuz begitu keramat bagi peradaban modern!
BACA JUGA:
- Dag-Dig-Dug, Anggaran MBG Terancam Dipangkas Efek Perang Iran vs Israel-AS dan Harga Minyak Melambung
- Trending Topic #KrisisGeopolitik, Budiman Sudjatmiko Ingatkan Pola “100 Tahun Lalu” dan Ancaman Perang Nuklir
- Inilah Sosok dan Profil Pendidikan Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Pernah di Seminari Teologi di Mashhad
Geografi yang menjebak, “Leher Botol” 3 kilometer
Secara peta, Selat Hormuz adalah celah sempit yang memisahkan Iran di sisi utara dengan Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan.
Ini adalah satu-satunya gerbang keluar bagi emas hitam (minyak) dari Teluk Persia menuju Samudra Hindia.
Meskipun lebar selat ini berkisar antara 33 hingga 95 kilometer, jalur pelayaran yang aman bagi kapal tanker raksasa (VLCC) sebenarnya sangat terbatas.
Lantaran, hanya selebar 3 kilometer untuk arah masuk dan 3 kilometer untuk arah keluar, serta dipisahkan oleh jalur tengah selebar 3 kilometer untuk mencegah tabrakan.
Keterbatasan ruang navigasi inilah yang membuat Selat Hormuz disebut sebagai “titik cekik” (chokepoint) paling rentan di dunia.
Cukup dengan menanam ranjau atau menempatkan kapal perang di jalur sempit ini, arus energi dunia bisa berhenti seketika.
Dari jalur rempah ke “kiamat minyak”
Nama Hormuz menyimpan sejarah ribuan tahun. Ada yang menyebutnya berasal dari Kerajaan Hormuz (abad ke-10).
Namun literatur lain mencatat Raja Shapur II dari Kekaisaran Sasaniyah menamai selat ini sebagai penghormatan kepada ibunya, Ifra Hormizd.
Selat ini adalah pusat transit mewah bagi sutra, rempah-rempah, dan logam mulia yang menghubungkan Asia ke Eropa.
Pada abad ke-20, segalanya berubah total. Penemuan cadangan minyak raksasa di Timur Tengah mengubah status selat ini dari sekadar jalur dagang menjadi masalah keamanan nasional global.
Siapa pun yang menguasai Hormuz, dialah yang memegang saklar lampu dunia.
Urat nadi ekonomi global
Mengapa dunia panik saat Iran menutup selat ini?
Jawabannya ada pada volume komoditas yang melintas setiap harinya. Berdasarkan data terbaru Maret 2026:
- Sekitar 20 persen hingga 25 persen konsumsi minyak mentah dunia harus melewati jalur ini.
- Hampir 20 persen pasokan LNG global, terutama dari Qatar, bergantung sepenuhnya pada selat ini.
- Lebih dari 80 persen minyak yang melintas dikirim ke pasar Asia (Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan).
Nah, bagi Indonesia, dampak penutupan ini sangat nyata. Sebagai net importir, gangguan di Hormuz langsung meroketkan harga minyak Brent ke US$84 per barel dan menekan Rupiah hingga ke level Rp16.921 per dolar AS.
Dengan stok BBM nasional yang hanya cukup untuk 20 hari, Selat Hormuz adalah variabel hidup dan mati bagi stabilitas SPBU di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply