Viral Juara Lomba Puisi FLS3N Luwu Timur Dianulir Panitia: Salah Ketik

Ilustrasi: Medali (KalderaNews.com/Ist.)
Ilustrasi: Medali (KalderaNews.com/Ist.)
Sharing for Empowerment

Viral juara lomba puisi FLS3N Luwu Timur dianulir panitia karena salah ketik identitas, siswi curhat kecewa dengan keputusan.

LUWU TIMUR, KalderaNews.com- Siswi SMA Negeri 8 Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Fatimah Azzahra (17), mengungkapkan kekecewaannya setelah gelar juara pertama lomba baca puisi dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) mendadak dibatalkan panitia.

Keputusan tersebut diketahui hanya dua hari setelah pengumuman pemenang diumumkan secara resmi. Awalnya, Fatimah dinyatakan sebagai peraih juara pertama dalam lomba tersebut.

Namun, status itu berubah setelah pihak sekolah menerima informasi baru bahwa posisi juara satu diberikan kepada SMA Negeri 5 Malili, sementara SMA Negeri 8 Luwu Timur turun menjadi juara kedua.

BACA JUGA:

“Sudah diumumkan juara satu awalnya, tiba-tiba dapat info dari anak OSIS katanya dibatalkan juaraku jadi juara 2 sekolahku SMA 8 dan SMA 5 Malili juara 1,” kata Fatimah, Rabu (13/5/2026).

Kronologi gelar juara lomba puisi FLS3N Luwu Timur dianulir panitia.

Fatimah menjelaskan, pengumuman awal pemenang disampaikan panitia pada Sabtu (9/5). Namun, dirinya baru mengetahui adanya perubahan hasil lomba pada Senin (11/5) pagi setelah diberi tahu oleh salah satu anggota OSIS di sekolahnya.

Merasa bingung, ia kemudian mencoba mengonfirmasi langsung kepada guru pendamping dan kepala sekolah.

“Nanti saya tahu pas ka natanya ka anak OSIS, kemudian saya coba konfirmasi pendamping dan kepala sekolah ternyata betul dibatalkan, alasannya salah ketik bede panitia,” bebernya.

Alasan yang disampaikan panitia justru membuat Fatimah semakin heran. Menurutnya, kesalahan tersebut sulit dipahami karena perbedaan angka antara SMA 5 dan SMA 8 dianggap cukup jelas dan tidak mudah tertukar.

“Kalau mau dibilang aneh ya aneh sekali, kok bisa salah ketik? Angka 5 dan 8 itu jauh, itu aneh,” ucap Fatimah.

Ia juga menyayangkan sikap panitia yang tidak menyampaikan langsung keputusan tersebut kepada dirinya sebagai peserta lomba. Fatimah mengaku justru mengetahui pembatalan itu dari orang lain, sehingga membuatnya merasa malu dan kecewa.

“Kalaupun juga memang dianulirkan bisa dikonfirmasi juga ke saya yang ikut lomba, ini saya tahunya dari teman, pastilah kita juga malu,” sambungnya.

Tak hanya itu, Fatimah juga menyoroti surat permohonan maaf yang diterimanya usai pihak sekolah mengajukan protes. Surat tersebut disebut hanya ditulis tangan tanpa stempel resmi maupun identitas yang jelas.

“Anehnya itu surat permohonan maaf juga ditulis tangan, tidak ada stempel dan tidak tahu dari mana sumbernya,” tutupnya.


Sementara itu, Kepala SMA Negeri 8 Tomoni, Bakhtiar, membenarkan adanya perubahan hasil lomba tersebut. Ia mengaku menerima informasi langsung dari panitia Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII sebelum meneruskannya kepada guru pembina.

Panitia beri penjelasan terkait polemik FLS3N Luwu Timur

Di sisi lain, panitia FLS3N Luwu Timur akhirnya memberikan penjelasan terkait polemik tersebut. Panitia bernama Andi Kalak menyebut perubahan juara terjadi akibat kekeliruan teknis saat mengetik hasil penilaian juri.

“Juri salah ketik sehingga saya suruh buat pernyataan dan permohonan maaf dan disampaikan ke masing-masing kepsek dua sekolah tersebut dan sudah clear,” ujar Andi Kalak.
Menurutnya, kesalahan bermula ketika hasil penilaian juri dipindahkan dari lembar penilaian ke dokumen pengumuman. Dalam proses itu, nama sekolah pemenang disebut tertukar antara SMA Negeri 5 dan SMA Negeri 8.

“Bukan salah tulis, tapi salah ketik, dia sudah tulis di kertas hasil penilaiannya kemudian dia ketik ternyata kebalik antara SMA 8 dan 5,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa posisi angka kedua sekolah di lembar penilaian memang berdekatan sehingga memicu kekeliruan saat proses pengetikan.

“Di kertas (SMA) 5 dan 8 berdekatan,” tutur Andi Kalak.

Kasus ini pun menuai perhatian publik karena menyangkut transparansi dan profesionalisme dalam penyelenggaraan kompetisi pelajar.

Di tengah semangat kompetisi yang seharusnya menjadi ruang apresiasi bakat siswa, polemik seperti ini justru meninggalkan kekecewaan mendalam bagi peserta yang telah berjuang menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*