
Budiman Sudjatmiko panen kritik politik, namun pilih suarakan disrupsi riset China & AI di X. Intip reaksi netizen!
JAKARTA, KalderaNews.com – Sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP2K), nama Budiman Sudjatmiko akhir-akhir ini terus digempur kritik.
Mulai dari sinisme publik terkait urgensi badan baru yang dipimpinnya, tudingan pragmatisme politik pasca-Pilpres, hingga kekecewaan generasi aktivis atas sikap diamnya terhadap berbagai tindakan represif aparat kepada gerakan sipil.
Namun, alih-alih larut dalam polemik politik praktis atau sibuk mengklarifikasi hujatan netizen, mantan tokoh reformasi ’98 ini memilih angle yang kontras di media sosialnya.
BACA JUGA:
- Muak Jadi Alasan Mahasiswa UGM Geruduk Diskusi Budiman Sudjatmiko Cs
- Sosok Putri Semata Wayang Budiman Sudjatmiko, Berprestasi Kuliah ke China dengan Beasiswa Indonesia Maju (BIM)
- Metamorfosis Budiman Sudjatmiko: Dulu, Hari Ini dan Esok
Melalui rangkaian utas (thread) di akun X (Twitter) resminya, @budimandjatmiko, pada Minggu (21/6/2026), ia justru gencar membagikan visi futuristiknya mengenai disrupsi pendidikan tinggi, riset sains global, hingga fakta mencengangkan di balik lompatan teknologi China.
Kurangnya Asupan Gizi Nasional
Di tengah riuhnya bahasan mengenai disrupsi teknologi di media sosialnya, Budiman Sudjatmiko langsung mengaitkan tantangan tersebut dengan realitas kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Merespons kekhawatiran seorang netizen, Rahmat Nurdiansyah (@R19cakra), yang memaparkan data International IQ Test terkait rata-rata skor IQ warga negara Indonesia yang berada di angka 93,18 dan menempatkan tanah air di peringkat 100 hingga 130 dunia, tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
Budiman tidak menampik kondisi tersebut. Ia secara terbuka mengakui adanya masalah mendasar pada kurangnya asupan gizi nasional serta lingkungan sosial yang selama ini kurang memberikan rangsangan atau insentif bagi masyarakat untuk melakukan olah pikir.
Sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP2K), Budiman menegaskan bahwa pembenahan kapasitas kognitif dan gizi bangsa ini tidak boleh dilepaskan begitu saja kepada mekanisme pasar bebas.
Ia menyatakan bahwa negara saat ini sedang dan akan terus mengintervensi secara agresif guna mengatasi persoalan struktural tersebut dari hulu ke hilir.
Langkah intervensi ini dinilai mutlak dilakukan oleh pemerintah, sebab jika urusan pemenuhan gizi dan stimulasi intelektual dibiarkan berjalan tanpa kendali negara, celah ketimpangan kualitas SDM antargolongan di Indonesia dikhawatirkan justru akan menjadi semakin lebar dan sulit dikejar.
Memotret Dominasi China dan Tumbangnya Universitas Barat
Di tengah riuhnya sentimen negatif publik terhadap posisi politiknya saat ini, Budiman meluncurkan analisis digital yang menyoroti pergeseran ekstrem peta kekuatan akademik dunia berdasarkan data terbaru Nature Index 2026.
“Kembali 9 dari 10 universitas terbaik dunia dikuasai China dlm jumlah & kualitas riset2 ilmiahnya berdasar Nature Index 2026 yg diterbitkan jurnal imiah bergengsi, Nature. Apa rahasianya? #BeraniBerubah,” cuit Budiman.
Budiman secara spesifik menggarisbawahi rontoknya dominasi institusi pendidikan Barat di panggung global. Menurutnya, saat ini benteng pertahanan universitas Barat di posisi elite dunia hampir habis disapu bersih oleh Negeri Tirai Buku.
“Satu2nya universitas Barat dalam 10 besar dunia adalah Harvard University yg ada di nomor urut 2 di bawah Zhejiang University. Nah, sekali lagi: apa rahasianya? #BeraniBerubah,” lanjutnya menekankan posisi superior Zhejiang University yang kini bertengger di peringkat pertama dunia.
Membongkar Rahasia China: Hapus 12.000 Program Studi
Tidak sekadar melempar kekaguman, Budiman membongkar strategi radikal yang dilakukan pemerintah China hingga mampu menjungkirbalikkan dominasi Barat. Kunci utamanya terletak pada keberanian melakukan perombakan kurikulum yang agresif dan masif pada tingkat sarjana (S1) serta internasionalisasi riset di tingkat pascasarjana.
Budiman mengungkap sebuah data mencengangkan mengenai pemangkasan birokrasi akademik di China yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
“Di pendidikan pasca sarjana (master & doktoral) dilakukan internasionalisasi kerjasama riset & di pendidikan sarjana (S1) dilakukan perombakan kurikulum. 12.000 program studi dihapus & dirombak mulai dr tahun 2021 sampai 2025 #BeraniBerubah,” urai Budiman.
Radikalisme Kurikulum: Usul Bubarkan Ilmu Sosial Tradisional demi AI
Kontroversi tampaknya memang sudah menjadi DNA seorang Budiman. Ketika berbicara tentang solusi pendidikan untuk Indonesia, ia melontarkan gagasan ekstrem yang langsung memantik perdebatan hangat di kalangan akademisi: mengawinkan rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora secara paksa dengan teknologi mutakhir.
“Program2 studi spt Ilmu Sosial & Humaniora diganti atau disambungkan dgn AI (Akal Imitasi) & Emboddied Intelligence (Robot Cerdas) serta diarahkan ke riset semikonduktor & komputer kuantum. #BeraniBerubah u/ menjemput tantangan zaman & ikut jadwal sejarah,” tulisnya.
Cuitan ini memancing reaksi keras. Di satu sisi, para pegiat teknologi sepakat dengan visi akselerasi tersebut. Namun di sisi lain, gagasan untuk “mengganti atau menyambungkan” rumpun humaniora dengan robotika dinilai sebagian netizen mengabaikan esensi penting ilmu sosial dalam membangun etika dan nalar kritis manusia, hal yang justru sering dikritik publik telah hilang dari sosok Budiman hari ini.
Menguji Teori Lewat Sang Putri di Zhejiang University
Budiman tidak hanya sekadar melempar wacana di menara gading media sosial. Ia menunjukkan bagaimana visi “lompatan teknologi” tersebut ia terapkan langsung di dalam lingkaran terkecilnya: keluarga.
Dalam cuitan penutupnya, ia membagikan aktivitas sang putri yang saat ini kebetulan sedang menempuh studi Teknik Komputer/Elektro di Zhejiang University, universitas nomor satu dunia versi Nature Index yang ia puji sebelumnya.
Selama masa libur semester di Indonesia, Budiman mengaku tetap melecut putrinya untuk mempelajari materi-materi berat demi menyerap etos kerja China. Materi Liburan Putri Budiman Sudjatmiko:
- Mathematical Foundations for Machine Learning (Fondasi Matematika untuk AI)
- Microwave Devices/Circuits (Perangkat/Sirkuit Gelombang Mikro)
“Kusemangati putriku (yg sdg studi Teknik Komputer/Elektro di Zhejiang University-China) u/ belajar Mathematical Foundations for Machine Learning & Microwave Devices/Circuits selama liburan semesternya di Indonesia u/ menyerap semangat #BeraniBerubah China ini,” ungkap Budiman lewat akun sosial medianya yang juga menautkan akun Instagram @kelasinspirasibudiman.
Terbakar Semangat Kompetisi Global
Utas visioner dari Budiman Sudjatmiko ini langsung diserbu oleh respons netizen yang ikut menggemakan tagar #BeraniBerubah. Berbeda dari kolom komentar isu politiknya yang pekat dengan sentimen negatif, bahasan mengenai pendidikan ini berhasil memantik optimisme dan desakan agar dunia akademis Indonesia segera berbenah.
Banyak netizen yang sepakat bahwa kiblat sains dunia kini telah resmi bergeser dari Barat ke Asia Timur.
“Pantesan kiblat teknologi dunia mulai geser ke asia timur riset kampusnya aja ngeri-ngeri sedap,” tulis akun @fitri_guppy. Senada dengannya, @ChinCinNS menambahkan, “Bener-bener kiblat sains udah bergeser ke asia nih… ayo kampus indonesia jangan mau kalah saing.”
Netizen juga menyoroti bagaimana posisi Harvard yang sukses dilewati oleh universitas China sebagai tanda bahwa Indonesia harus merombak pola pikir lamanya.
“Harvard aja bisa dilewati oleh universitas Asia pertanda kita harus #BeraniBerubah dlm pola pikir kita skrg,” cuit @Fagiljakirin. Akun @ayu_mellania70 ikut menegaskan, “Dari pola pikir lama kampus kita kudu mulai fokus ke kualitas bukan cuma kuantitas kelulusan doang.”
Sorotan Terhadap Anggaran Riset dan Kurikulum
Sebagian warganet lain menganalisis bahwa kesuksesan China merupakan buah dari investasi jangka panjang yang tidak instan, kultur kerja lab yang berdedikasi tinggi, serta kurikulum yang link and match dengan kebutuhan industri.
- “China aja butuh bertahun-tahun fokus ke kualitas jurnal ilmiah mereka,” tulis
@hiiadeasmita. - “Kurikulum mereka pasti beneran link and match sama industri… makanya risetnya kepake semua,” sahut
@Chandi_AWS. - “Rahasianya pasti jam kerja di labnya gila-gilaan itu mahasiswa sana,” timpal
@iseu_aisah.
Ujung dari diskusi ini bermuara pada desakan kepada pemerintah Indonesia agar berani menggelontorkan anggaran riset yang lebih besar dan melakukan gebrakan nyata.
Akun @niviaanime menulis, “Anggaran riset kita harus dinaikkan pemerintah wajib #BeraniBerubah untuk mendukung para peneliti lokal nih bray.” Sementara @Leonoardoei berharap, “Kuatnya riset China bikin iri bgt semoga menteri kita #BeraniBerubah dlm menata ulang sistem kuliah skrg.”
Strategi Komunikasi: Memalingkan Wajah dari Riuh Politik
Aktivitas digital Budiman akhir-akhir ini menunjukkan pola komunikasi politik yang cerdas sekaligus taktis. Di saat ia dicap oleh sebagian mantan kolega aktivisnya telah “menjinak” di dalam pelukan kekuasaan, ia justru menampilkan diri sebagai seorang teknokrat futuristik yang melampaui zamannya (ahead of his time).
Bagi para pendukungnya yang ikut meramaikan kolom komentar, kicauan Budiman tentang pemangkasan ribuan prodi, semikonduktor, AI, dan komputer kuantum adalah bukti bahwa ia tetaplah seorang intelektual yang memikirkan masa depan bangsa secara makro.
Namun bagi para pengkritiknya, pembicaraan tingkat tinggi mengenai teknologi global ini dianggap sebagai taktik pengalihan isu yang sengaja dibangun agar ia tidak perlu menjawab persoalan riil di depan mata: kegaduhan politik dalam negeri, kemiskinan struktural, dan matinya idealisme di tingkat akar rumput.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply