
Pakar ekonomi Mari Elka Pangestu soroti ancaman AI bagi Gen Z & dunia usaha. Ketahui kunci ketahanan SDM Indonesia!
JAKARTA, KalderaNews.com – Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa perubahan sangat cepat terhadap kebutuhan rantai pasok dan dunia industri.
Dalam konteks ini, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi benteng utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ancaman disrupsi global.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, dalam sesi talkshow HUT KONTAN ke-30 di Studio 1 Kompas TV, Menara Kompas, Jakarta, Selasa, 29 September 2026.
BACA JUGA:
- Jumlah Penduduk Indonesia 284,67 Juta, 68,92 Persen Gen-Z dan Milenial
- Perbedaan Generasi Baby Boomers, Gen-X, Gen-Y (Milenial), Gen-Z dan Generasi Alpha
- Survei Ipsos: Baby Boomer dan Milenial, Generasi Paling Bahagia di Dunia
“Tantangan yang muncul bukan hanya mengenai jumlah penduduk usia produktif, tetapi juga kemampuan SDM untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja,” ujar Mari Elka Pangestu.
AI Memicu Ketidakpastian bagi Gen Z dan Lintas Generasi
Mantan Menteri Perdagangan tersebut menyoroti bahwa dampak ketidakpastian akibat adopsi AI tidak hanya dirasakan oleh para pekerja senior, namun juga membayangi generasi muda yang baru akan melangkah ke pasar kerja.
Sambil berseloroh mengenai posisinya yang sering dijuluki sebagai “Gen Vintage”, Mari menyebut AI menghadirkan tantangan berbeda untuk tiap kelompok usia.
“Untuk Gen Vintage menghadapi AI sebetulnya sangat-sangat menantang. Untuk Gen Z pun, ya, menjadi ketidakpastian, ‘Am I going to have a job?’ Itu kan. Jadi ini semua disruption,” jelasnya di hadapan para peserta forum.
Menurutnya, disrupsi teknologi ini harus diantisipasi secara serius oleh para pelaku industri dan pembuat kebijakan di tanah air, baik untuk tahun ini maupun tahun mendatang.
89% Perusahaan Gunakan AI, Namun Belum Terintegrasi
Berdasarkan data riset industri yang dipaparkan Mari, sebanyak 89% perusahaan di dunia usaha sebenarnya telah mulai memanfaatkan teknologi AI. Kendati demikian, penerapannya mayoritas masih sebatas alat bantu parsial dan belum menyatu penuh ke dalam ekosistem perusahaan.
Beberapa tantangan utama yang dihadapi dunia usaha terkait AI meliputi:
- Integrasi Sistem: Sebagian besar industri masih berjuang (struggling) menghubungkan AI secara utuh ke dalam rantai operasional dan sistem kerja internal.
- Adaptasi Proses Kerja: Kesiapan teknologi bukan sebatas mahir memakai tools AI, melainkan transformasi cara kerja SDM dan manajemen operasional.
- Perubahan Jenis Pekerjaan: Pergeseran kualifikasi keterampilan yang cepat menuntut fleksibilitas tenaga kerja agar tidak tergilas otomatisasi.
Resiliensi Ekonomi Lewat Kualitas SDM
Perkembangan teknologi yang begitu masif membuktikan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan dinamika bonus demografi kuantitatif.
Resiliensi ekonomi nasional di masa depan sangat tergantung pada kualitas, kapabilitas adaptasi, serta kesiapan SDM dalam menyikapi pergeseran jenis pekerjaan baru yang dipicu oleh tren kecerdasan buatan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply