Viral Kisah Haru Mahasiswa Pamit Putus Kuliah, Respon Dosen Ini Bikin Mewek

Kesedihan diungkapkan dengan menangis
Kesedihan diungkapkan dengan menangis (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Kisah viral dosen bantu mahasiswa pintar yang pamit putus kuliah akibat ekonomi. Netizen terharu dan beri respon hangat!

JAKARTA, KalderaNews.com – Dunia pendidikan kembali diwarnai kisah menyentuh hati yang memicu empati publik di media sosial Threads.

Sebuah unggahan dari akun @iin_aiini mendadak tular (viral) setelah membagikan pengalamannya mendapati seorang mahasiswa berprestasi yang terpaksa berpamitan untuk tidak melanjutkan masa studinya akibat terhimpit kondisi ekonomi keluarga.

Dalam unggahannya, dosen tersebut mengungkapkan kesedihannya saat mendengar kabar mengejutkan dari anak didiknya yang dikenal rajin dan aktif selama dua semester mengampu perkuliahan di kelasnya.

BACA JUGA:

“Hari ini dapat kabar bahwa ada mahasiswa yg pamit. Iya dia pamit untuk tidak melanjutkan kuliah karena kondisi keluarga dan ekonominya yg begitu berat. Kebetulan 2 semester ini saya mengajarnya, saya bersaksi bahwa dia anak yg rajin dan aktif di kelas. Mendengar hal ini, saya langsung mencarikan jalan. Saya telfon dia untuk kembali ke kampus menemui saya sebelum dia kembali ke kampung,” tulis akun @iin_aiini.

Gelombang Respon dan Doa Haru dari Netizen

Kepekaan dan inisiatif cepat dosen tersebut untuk memberikan jalan keluar (solusi) langsung mengundang ribuan respon emosional dari para pengguna platform Threads. Banyak netizen yang menyampaikan rasa haru serta doa terbaik atas kebaikan sang dosen:

  • @zennimran: “Selamat ya Buu, Ibu terpilih sbg slh satu Org baik dari Allah yg care/ peduli, atas gerakan tangan Allah, smg Ibu selalu dilindungi, diberi rejeki berkah tuk bisa membantu org yg membutuhkan spt adik tsb… sangat ya Buu 😇💪💪💪”
  • @nitnut_25: “Terima kasih ya Bu untuk membantu mahasiswa itu. Saya bacanya sambil nangis. Hanya Tuhan yg bisa membalas kebaikan ibu.”
  • @simanies14: “MasyaAllah pahala jariah si ibu,, bikin iri ,,berkah dunia akhirat.”
  • @dari_titik_minus: “Makasih bu, smoga Ibu sehat selalu, lancar rezekinya.”
  • @tinung_setyowati: “Terimakasih bu, semoga sehat selalu dan berlimpah rejekinya.”

Kisah Paralel: Solidaritas Rekan Seangkatan hingga Realita Penerima KIP-K

Unggahan tersebut juga membuka ruang curhat bagi pengguna lain mengenai realita pahit perjuangan finansial di jenjang pendidikan tinggi.

Pengguna akun @sriked4 menceritakan pengalaman pribadinya yang pernah dibantu oleh teman-teman seangkatan (komting) ketika terkendala pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT):

“Pernah kejadian di diri saya sendiri. H-1 batas bayar abang sy nelfon blm bisa byr UKT, tau² komting 1 angkatan nanya, knp blm byr, saya lihat nama km blm ada di sist akademik? Sy ceritakan smw, langsung dy hub teman 1 angkatan yg rada berada buat nalangin dulu, hari² saya puasa/bukber di masjid.”

Di sisi lain, akun @jullydian01 menyoroti kendala yang masih dialami oleh penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) terkait biaya operasional sehari-hari:

“Anak Mantan ART Adiku jg dpt beasiswa KIPK kuliah gratis nol rupiah, infonya bakal dapat per enam bulan uang saku dari kipk, tapi untuk galang ongkos sehari hari kekurangan banget, dan skg kuliahnya terancam berhenti. padahal anaknya semnagat pengen kuliah.”

Merespons hal tersebut, akun @aksaralih menambahkan pandangan bahwa penerima KIP-K sebenarnya bisa mencari pekerjaan sampingan tanpa mengorbankan jam kuliah guna menyokong biaya hidup sehari-hari, sembari memuji lingkungan kampus yang mau merangkul dan mencari alternatif beasiswa bagi mahasiswanya.

Sisi Gelap Respon Institusi Pendidikan: Trauma Mahasiswa Yatim Piatu

Di tengah hangatnya kisah kebaikan dosen akun @iin_aiini, cerita kontras disampaikan oleh akun @nununananini48. Ia membagikan pengalaman pahit saat menjadi yatim piatu dan meminta keringanan kuliah, namun justru mendapatkan perlakuan tidak ramah dari oknum akademisi di kampusnya:

“Sementara di uni lain, aku yg baru jadi Yatim piatu tanpa rumah dan pemasukan perlu bekerja untuk bertahan hidup. Hingga meminta keringanan untuk kuliah n bimbingan waktu itu, di framing mhs ga sopan 🫠 dibilang ga serious kuliah dan immature. Ceritaku dishare ke seluruh angkatan dan dosen2. Trauma dan depresi sampai 2th, aku kalah dgn perasaan. Aku ikhlaskan perjuangan 8 smt itu,” ungkapnya.

Fenomena yang viral di Threads ini memperlihatkan betapa besarnya peran empati tenaga pendidik dan ekosistem kampus dalam menjaga keberlanjutan masa depan akademis para mahasiswa yang sedang berjuang di tengah keterbatasan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


49 views