BRIN Gandeng Universitas Bio Scientia International Indonesia Perkuat STEM

Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) (KalderaNews/Dok. BRIN)
Sharing for Empowerment

BRIN gandeng Universitas Bio Scientia International Indonesia perkuat talenta STEM demi dongkrak inovasi riset nasional.

JAKARTA, KalderaNews.com – Penguatan bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) menjadi salah satu kunci krusial bagi Indonesia dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang mampu menjawab kebutuhan industri masa depan.

Menyadari hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi di berbagai daerah guna menumbuhkan ekosistem talenta riset yang kuat.

Langkah strategis teranyar diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama antara BRIN dengan Universitas Bio Scientia International Indonesia (sebelumnya dikenal sebagai Indonesia International Institute for Life Sciences atau i3L) pada Kamis (16/7/2026).

Kemitraan ini membuka peluang magang riset jangka panjang bagi mahasiswa, khususnya di rumpun ilmu hayati seperti biomedis dan farmasi.

Fondasi Inovasi untuk Keluar dari Middle-Income Trap

Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDMI) BRIN, Edy Giri Rachman Putra, menegaskan bahwa Indonesia memiliki pekerjaan rumah besar dalam penguatan riset dan inovasi.

Menurutnya, sebuah negara tidak bisa hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam jika ingin keluar dari jebakan negara berkembang (middle-income trap).

“Kalau kita ingin keluar dari jebakan negara berkembang, kita tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya alam. Fondasinya harus dibangun melalui inovasi yang ditopang sumber daya manusia unggul,” tegas Edy Giri di lingkungan kampus Universitas Bio Scientia International Indonesia.

BRIN yang kini mengelola spektrum riset luas—mulai dari antariksa, nuklir, maritim, hingga ilmu sosial dan humaniora—membuka akses selebar-lebarnya bagi dosen dan mahasiswa melalui berbagai skema, meliputi: Fasilitas laboratorium mutakhir, skema pendanaan riset dan program mobilitas akademik dan talent pool

Lebih lanjut, Edy menekankan pentingnya menjaga kesinambungan talenta riset sejak dini. Target utama bukan sekadar mencetak lulusan sarjana (S1), melainkan mendorong kontinuitas ekosistem STEM agar mahasiswa berminat melanjutkan studi hingga jenjang magister (S2) dan doktoral (S3).

Komitmen Kampus Berorientasi Riset Global

Merespons kolaborasi tersebut, Rektor Universitas Bio Scientia International Indonesia, Katherine, mengungkapkan bahwa institusinya sejak awal memang dirancang dengan orientasi kuat pada riset, terutama di bidang kesehatan dan ilmu hayati.

Sejumlah program studi strategis yang dibuka meliputi: Bioteknologi, Biomedis, Teknologi Pangan, Gizi dan Farmasi

Untuk meningkatkan daya saing global, seluruh proses pembelajaran di kampus ini dihantarkan dalam bahasa Inggris.

Kurikulum juga dirancang sistematis di mana mahasiswa pada tahun terakhir perkuliahan dapat memilih peminatan riset khusus dan mengikuti magang penelitian jangka panjang.

Rekam jejak internasional kampus ini pun sudah terbukti. Sejumlah alumni tercatat telah melanjutkan studi doktoral di negara-negara maju seperti Inggris, Australia, hingga Amerika Serikat, bahkan terlibat langsung dalam riset strategis seperti penanggulangan kanker.

Mengatasi Tantangan Riset Perguruan Tinggi Swasta
Kendati memiliki visi global, Katherine tidak menampik adanya tantangan nyata yang dihadapi oleh sektor perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia.

“Akses ke laboratorium, pendanaan, dan jejaring masih menjadi tantangan besar bagi perguruan tinggi swasta,” aku Katherine.

Oleh sebab itu, kolaborasi dengan BRIN dinilai menjadi jembatan krusial. Melalui kemitraan ini, mahasiswa mendapatkan kesempatan emas untuk memperoleh pengalaman penelitian nyata secara langsung di fasilitas negara, sekaligus memperkuat kesiapan mereka sebelum terjun ke ekosistem riset profesional.

Kerja sama sinergis ini membuktikan bahwa pengembangan talenta STEM nasional tidak dapat berjalan secara parsial.

Di tengah persaingan global berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), investasi terbaik bukan sekadar membangun infrastruktur fisik, melainkan mencetak manusia-manusia unggul yang akan menggerakkannya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*